26 July 2017

Tip Merencanakan Perjalanan ke Negeri Kaukasus

Pernah dengar tentang kawasan Kaukasus? Ini adalah negara-negara yang terletak di perbatasan antara Asia dengan Eropa, atau sering pula disebut Eurasia. Negeri-negeri Kaukasus ini sangat eksotis dan menarik untuk dikunjungi. Dan yang lebih penting, persyaratan visanya sangat gampang! Nah, unsur kemudahan visa ini pastinya membuat pelancong Indonesia makin tertarik saja.


Tiga negara yang terletak di kawasan Kaukusus ini, yakni Georgia, Armenia dan Azerbaijan, memberi kemudahan visa on arrival atau E-visa untuk pemegang paspor RI. Kawasannya yang tak terlalu luas serta ditopang sarana transportasi umum yang baik, membuat negeri-negeri ini cocok dijelajahi lewat jalur darat. Tapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pemegang paspor RI sebelum menempuh rute darat ini. Kalau kurang informasi, bisa-bisa Anda ditolak di pos imigrasi!

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kondisi politik di negara-negara tersebut. Meski bertetangga, beberapa negara Kaukasus ini ternyata hubungannya tidak akur. Ini pula yang menyebabkan perbatasan darat antara dua negara yang berkonflik tersebut tak bisa dilintasi orang ramai. Sebagai pelancong yang ingin melalanglang lewat jalur darat, kondisi ini tentunya sangat berdampak pada rute perjalanan Anda.

Sebagai contoh, sampai hari ini perbatasan darat antara Armenia dengan Turki masih ditutup untuk umum. Jadi, mustahil menempuh jalur darat dari Turki ke Armenia atau sebaliknya. Sebagai alternatif, Anda bisa terbang langsung dari Yerevan ke Istanbul menggunakan maskapai bujet setempat. Keberadaan penerbangan langsung ini agaknya bentuk kompromi antara pemerintah Turki dengan Armenia.

Hal yang sama juga terjadi pada perbatasan darat antara Armenia dengan Azerbaijan. Karena konflik politik, jangan harap bisa menyeberang lewat darat antara keduanya. Penerbangan langsung pun juga tak tersedia, sehingga kita perlu mengambil penerbangan transit dengan rute memutar yang bikin perjalanan jadi lebih lama dan mahal. Padahal, kalau ada penerbangan langsung, jarak yang harus ditempuh sangat pendek. Begitulah, konflik politik itu juga memakan korban para pelancong yang membuat isi dompet kita menderita.
Pos perbatasan Georgia-Armenia
Oh ya, kalau kebetulan Anda berada di Azerbaijan dan berencana meneruskan perjalanan ke Armenia, lebih baik tak mengatakannya pada petugas imigrasi Azerbaijan. Juga, jangan pernah bilang kalau Anda ingin mengunjungi Nagorno Karabakh. Bisa saja Anda bakal diinterogasi polisi karena dianggap memprovokasi petugas. Kalau kebetulan ingin mengunjungi Nagorno Karabakh, jangan lupa minta cap imigrasi di kertas supaya tak ada bukti Anda pernah ke sana. Mereka yang punya cap imigrasi Nagorno Karabakh di paspornya bakal ditolak masuk ke Azerbaijan.

Soal cap di paspor ini sering membuat para pelancong galau karena rumor yang tak jelas asal-usulnya. Saya sendiri pernah dikontak oleh seorang sahabat backpacker yang sedang berada di Armenia. Dia galau karena takut ditolak masuk ke Turki, padahal sudah terlanjur membeli tiket pesawat Yerevan-Istanbul. Perlu diketahui, tak ada peraturan resmi yang mencekal orang-orang dari Armenia masuk ke Turki. Jadi jangan galau karena informasi yang tak jelas sumbernya! Begitu pula dengan cap paspor Armenia, tak masalah kalau paspor yang sama dipakai ke Azerbaijan. Asal bukan cap paspor Nagorno Karabakh, Anda tak akan mendapat masalah karena hal itu.

Soal penting lainnya adalah masalah E-Visa Georgia yang ternyata tak diterima di semua pos perbatasan darat. Gara-gara ini, tak sedikit pelancong asal Indonesia yang terpaksa balik arah. Sudah jauh-jauh menuju perbatasan, eh visanya malah ditolak. Kenyataan ini memang bikin kesal karena tak ada informasi resmi dari pemerintah Georgia. Supaya Anda tak jadi korban berikutnya, simak informasi ini baik-baik.

Secara teori, pemegang paspor RI bisa masuk Georgia menggunakan E-Visa yang dikeluarkan situs resmi otoritas setempat melalui www.evisa.gov.ge. Pemegang visa US, Schengen, atau pemilik resident permit yang dikeluarkan negara-negara GCC (Kuwait, Bahrain, Qatar, UAE, Oman, Saudi) diberi kemudahan bisa masuk Georgia tanpa mengajukan E-Visa ini. Di situs tersebut juga disebutkan, E-Visa Georgia sama fungsinya seperti visa yang dikeluarkan kedutaan. Artinya, bisa dipakai di semua pintu masuk resmi, baik udara maupun darat. Namun kenyataannya tidak demikian, ada beberapa pengecualian yang tak disebutkan di situs resmi tersebut!
Pemandangan Danau Sevan, Armenia
Pemegang paspor RI biasanya tak dapat masalah kalau masuk lewat bandar udara dengan menunjukkan E-Visa Georgia. Tapi, berdasarkan pengalaman yang dialami beberapa backpacker yang saya kenal, E-Visa ini ternyata tak berlaku di perbatasan darat Azerbaijan-Georgia. Anehnya, E-Visa Georgia bisa diterima di perbatasan Armenia-Georgia (pos perbatasan Sadakhlo-Bagratashen), demikian pula dengan perbatasan darat Turki-Georgia. Wah, repot bukan kalau sampai Anda tidak tahu informasi penting ini.

Saya sendiri sudah membuktikan, E-Visa Georgia benar-benar bisa dipakai di pos perbatasan Sadakhlo-Bagratashen. Awalnya sempat khawatir bakal ditolak, namun ternyata proses di meja imigrasi lancar-lancar saja. Untuk perbatasan darat Turki-Georgia, terus terang saya tidak mencobanya sendiri. Namun backpacker asal Cina yang sempat saya temui di Armenia bilang E-Visa tersebut bisa dipakai.

Bagaimana, Anda sudah siap untuk menjelajahi negeri-negeri Kaukasus? Tertarik sih, tapi masih galau karena harga tiket ke sana yang mahal. Kalau itu yang jadi kendala, nih baca artikel Cara Dapat Tiket Murah ke Georgia. Dengan cara ini, ongkosnya Rp 3 Jutaan saja loh….

Baca Juga:
Cara Dapat Tiket Murah ke Georgia
Jangan Lihat Upacara Kremasi di Nepal Kalau Lemah Hati
Hal-hal yang Wajib Dimengerti Sebelum Bertandang ke Iran

30 June 2017

Cara Dapat Tiket Murah ke Georgia

Tertarik ke Georgia tapi terkendala harga tiketnya yang mahal? Tak perlu galau lagi, saya akan berbagi trik bagaimana cara terbang ke Georgia dengan maskapai bujet murah. Cara ini bisa menekan ongkos tiket jadi Rp 3 jutaan saja, jauh lebih murah dari harga normal maskapai layanan penuh. Oh ya, trik ini bisa juga dipakai untuk mendapatkan tiket murah ke Turki, Azerbaijan, Rusia, serta destinasi lainnya di Eropa.


Akhir-akhir ini, makin banyak pelancong Indonesia yang berbagi pengalamannya saat jalan-jalan ke salah satu negeri Kaukasus, yakni Georgia. Foto-foto yang mereka bagi di media sosial memang bikin semua orang ngiler ingin ke sana. Destinasi ini memang sedang naik daun, sehingga makin banyak pelancong kita yang bertandang ke sana. Tapi, Georgia kan jauh, pasti harga tiketnya mahal. Nah, kalau itu yang ada di pikiran Anda, coba simak tip berikut. Semoga cara ini bisa membantu Anda untuk mendapatkan tiket murah ke Georgia.

Kalau punya bujet banyak, Georgia dengan mudah bisa dicapai menggunakan maskapai-maskapai besar Timur Tengah seperti Qatar Airways, Etihad dan Turkish Airlines. Tetapi, harga yang dibanderol maskapai-maskapai tersebut lumayan mahal untuk ukuran kantong backpacker. Ongkosnya hampir sama dengan tiket ke Eropa Barat. Ini bisa dimaklumi karena jarak Georgia itu lumayan jauh dari Indonesia, jadi wajar kalau harganya mahal.

Gelati Monastery, Kutaisi, Georgia
Namun, buat yang punya bujet tipis, ada cara lain untuk menghemat ongkos tiket. Sekarang, maskapai bujet murah Air Asia punya rute penerbangan Kuala Lumpur-Tehran. Nah, rute inilah yang dipakai sebagai penerbangan awal, lalu disambung penerbangan maskapai bujet murah lainnya menuju Georgia. Ya, cara ini mensyaratkan Anda harus transit di Iran.

Pemegang paspor RI bisa dapat fasilitas visa on arrival untuk masuk ke Iran. Biayanya 45 Euro, ditambah ongkos asuransi sebesar USD 18. Tapi kalau cuma sekadar transit maksimal 12 jam, Anda tak perlu membayar biaya visa on arival yang mahal itu. Inilah trik jitunya yang belum banyak orang tahu! Lalu bagaimana prosesnya supaya bisa transit tanpa visa di Iran? Mari dilanjutkan membacanya.

Informasi lewat situs-situs resmi pemerintah Iran tak pernah menyebutkan soal transit tanpa visa ini. Saya sendiri hanya tahu dari mulut ke mulut, lewat orang yang sudah pernah melakukannya. Hasil menjelajah dunia maya memperkuat informasi ini, membuat saya tambah mantap untuk mencobanya. Perkembangan informasi soal transit tanpa visa di Iran ini bisa diikuti melalui forum Tripadvisor di sini dan di sini

Sistem transit tanpa visa yang diterapkan di bandara Imam Khomeini Tehran tergolong unik, dan belum pernah saya dengar diterapkan di bandara lainnya. Jadi, setiba di bandara Imam Khomeini, kita tinggal menghubungi petugas konter transit yang terletak di depan konter visa on arrival. Kita lalu diminta menyerahkan paspor serta tiket penerbangan lanjutan. Setelah itu, si petugas akan mengambil bagasi serta melakukan check-in untuk penerbangan lanjutan kita. Dalam proses ini, paspor kita juga tak akan diberi cap.
Penumpang transit di bandara Imam Khomeini
Prosesnya terdengar sederhana, namun praktiknya tidak selalu berlangsung mulus. Saat check-in di konter Air Asia di bandara Kuala Lumpur, petugas sempat bilang pada saya bahwa sistem transit tanpa visa itu sudah dihentikan. Jadi, saya diharuskan membayar visa on arrival sebesar 45 Euro. Proses check-in waktu itu jadi agak lama karena petugas perlu menjelaskan pada semua penumpang soal biaya visa on arrival berdasarkan paspor yang dipegang. Bahkan ada penumpang yang disuruh menunjukkan uang tunai sejumlah biaya visa tersebut. Saat boarding, penumpang perempuan juga diminta memperlihatkan kerudungnya. Lumayan ribet memang prosesnya, tapi penerbangan ke Tehran hari itu berlangsung lancar.

Saat pesawat hendak mendarat di bandara Imam Khomeini, pilot mengumumkan bahwa penumpang transit diminta menghubungi konter transit yang sudah disediakan. Mengherankan sekali, informasi petugas check-in berbeda dengan pengumuman dari pilot. Lalu mana yang benar? Ternyata, sistem transit tanpa visa itu masih berlaku sampai hari ini! Terus kenapa petugas check-in Air Asia jadi sangat repot menjelaskan biaya visa on arrival ke semua penumpang? Ya, silahkan tanya mereka, he he….

Sesampai di area kedatangan bandara Imam Khomeini, ternyata sudah ada petugas yang menunggu penumpang transit. Kita lalu dikumpulkan, dan tak lupa si petugas menjelaskan proses transit ini bebas biaya alias gratis. Yay….! Saya agak kaget juga, ternyata ada lumayan banyak penumpang transit dari penerbangan Air Asia waktu itu. Jumlahnya ada sekitar 50 orang, kebanyakan berpenampilan seperti backpacker.

Sekitar separuh dari jumlah penumpang transit itu meneruskan penerbangan ke Istanbul menggunakan Pegasus Airlines yang berangkat pukul 5 pagi. Separuhnya lagi menggunakan Azerbaijan Airlines yang berangkat pukul 3 pagi. Saya masuk kelompok yang menggunakan Azerbaijan Airlines. Proses check-in saya baru selesai 30 menit sebelum waktu terbang. Buru-buru saya masuk ke area keberangkatan karena takut ketinggalan pesawat.

Panorama kota Batumi yang terletak di tepi Laut Hitam
Menurut saya, proses check-in berlangsung kurang efisien. Petugas datang memberikan boarding pass satu-satu, tidak sekaligus untuk semua penumpang transit. Untungnya saya dapat boarding pass paling awal, sementara yang lainnya nampak resah karena nama mereka tak kunjung dipanggil. Penerbangan Azerbaijan Airlines menuju Baku hari itu harus ditunda sekitar 30 menit karena harus menunggu proses check-in penumpang transit yang belum selesai. Begitu semua penumpang transit naik, pesawat pun langsung berangkat.

Banyak testimoni yang saya baca di Tripadvisor merasa puas dengan layanan transit tanpa visa di bandara Imam Khomeini. Namun, ada beberapa yang kecewa karena kehilangan bagasi. Drama kehilangan bagasi ini juga dialami oleh blogger Arief Rahman yang kebetulan sempat bertemu saya di Armenia. Soal cerita kehilangan bagasinya ini bisa di baca di blognya di sini.

Menurut saya, sistem transit tanpa visa di bandara Imam khomeini memang kurang efektif. Bayangkan kalau ada banyak penumpang transit dan petugasnya harus mengurus semua proses pengambilan bagasi serta check-in, pasti repot sekali. Kalau petugasnya tidak teliti, penumpang bisa-bisa kehilangan bagasi. Faktor ini agaknya perlu dipikirkan sebelum Anda transit di Tehran. Cara satu-satunya untuk menghindari kehilangan bagasi adalah tidak membawa bagasi seperti yang saya lakukan.

Ke depan, pemerintah Iran perlu memikirkan sistem yang lebih baik, misalnya dengan memberi visa transit atau mengeluarkan visa yang bisa dipakai masuk dua kali (double entry visa). Dengan cara ini, penumpang transit bisa mengambil bagasinya sendiri, lalu melakukan proses check-in secara mandiri. Kalau ini bisa dilakukan, pasti resiko kehilangan bagasi jadi kecil.

Chalaadi Glacier di Svaneti, Georgia
Menurut saya, Tehran punya potensi besar untuk jadi hub maskapai bujet murah. Maskapai-maskapai bujet murah yang terkenal seperti Air Asia, Air Arabia, Pegasus, Atlas Global, Aegean Airlines dan Azerbaijan Airlines, semuanya memiliki penerbangan ke Tehran. Kalau Tehran bisa mereposisi dirinya jadi hub bagi budget traveler, pasti berdampak positif untuk memajukan bisnis pariwisata Iran.

Transit tanpa visa di bandara Tehran barangkali bikin deg-degan bagi yang pertama kali melakukannya. Namun sejauh ini saya belum pernah dengar ada penumpang yang sampai gagal naik ke penerbangan lanjutan. Kalau yang kehilangan bagasi memang ada. Jadi supaya aman, lebih baik tak membawa bagasi sampai bandara Imam Khomeini memberlakukan sistem transit yang lebih baik.

Lalu, seberapa banyak uang yang bisa dihemat menggunakan maskapai bujet murah dengan transit di Tehran ini? Sebagai perbandingan, tiket Jakarta-Tbilisi menggunakan maskapai layanan penuh rata-rata dibanderol seharga Rp 10 juta. Kalau naik Air Asia tujuan Tehran, lalu disambung naik Azerbaijan Airlines menuju Tbilisi, harga promonya hanya Rp 3 jutaan saja.

Seperti kita ketahui, maskapai Air Asia lumayan sering menggelar promo. Memang tak semua rute diberi diskon gila-gilaan. Untungnya, rute Kuala Lumpur-Tehran selalu dimasukkan dalam program promosi. Dalam promo terakhir, tiket Kuala Lumpur-Tehran pulang pergi dibanderol USD 160 saja, atau sekitar Rp 2 juta. Mengingat panjangnya penerbangan ini, harga yang diberikan tergolong luar biasa murah.

Untuk penerbangan lanjutan dari Tehran ke Tbilisi, sebenarnya ada beberapa pilihan. Maskapai bujet murah yang melayani rute ini antara lain Georgian Airways (penerbangan langsung), Pegasus, Atlas Global dan Azerbaijan Airlines. Dari hasil pengamatan saya selama beberapa bulan, ternyata harga yang paling murah selalu Azerbaijan Airlines. Saya sendiri berhasil mendapatkan tiket Tehran-Tbilisi pulang pergi seharga 90 Euro, atau hanya Rp 1 jutaan saja! Saya membelinya sekitar 4 bulan sebelum tanggal keberangkatan.

Nah, cara yang sama juga bisa diterapkan untuk destinasi lainnya. Saya pernah lihat, harga tiket Tehran-Moscow pulang pergi dengan Azerbaijan Airlines hanya dibanderol seratusan Euro saja. Untuk rute ke Eropa Barat, Aegean Airlines bisa jadi andalan. Harganya tentu saja jauh lebih murah dari tiket Emirates atau Qatar Airways. Bagi yang mau melipir ke Turki, silahkan naik Pegasus. Tiket Tehran-Istanbul harga promonya mulai USD 30 sekali jalan.

Tertarik mencoba cara ini, atau Anda sudah pernah melakukannya? Tuliskan pengalaman Anda di kolom komentar, siapa tahu bisa membantu yang ingin mencobanya! Catatan juga, waktu keberangkatan pesawat dari Tehran mungkin ada perubahan. Perjalanan ini saya lakukan pada awal Mei 2017. Untuk mengetahui jadwal terbaru, bisa cek di situs Skyscanner, Expedia, dan lainnya.

Baca juga:
Jangan Lihat Upacara Kremasi di Nepal Kalau Lemah Hati
Hal-hal yang Wajib Dimengerti Sebelum Bertandang ke Iran
Repotnya Memesan Akomodasi di Iran

1 May 2017

Jangan Lihat Upacara Kremasi di Nepal Kalau Lemah Hati

Dalam kepercayaan Hindu, tubuh manusia terdiri dari lima elemen, yakni tanah, air, api, udara dan langit. Bagi umat Hindu, upacara kremasi adalah cara untuk mengembalikan manusia ke dalam elemen dasar tersebut. Namun bagi saya yang tak dekat dengan tradisi Hindu ini, melihat dari dekat pembakaran jenazah sempat bikin merinding.


Meski ada komunitas di Indonesia juga melangsungkan upacara kremasi, saya tak pernah melihat langsung praktik ini. Umat Hindu di Bali contohnya, mereka juga mengadakan upacara pembakaran jenazah yang disebut ngaben. Tradisi ini memang lekat dengan penganut Hindu dan Buddha, meski ada sebagian kecil pemeluk Kristen melakukannya pula. Sementara dalam tradisi Islam yang dianut mayoritas orang Indonesia, membakar jenazah dilarang sama sekali.

Karena cukup asing dengan tradisi pembakaran jenazah ini, atau lebih tepatnya tak memahami filosofi praktik ini, saya tak pernah tertarik melihatnya secara langsung. Membayangkan tubuh manusia dijilat api saja sudah membuat saya bergidik, apalagi melihatnya secara spontan. Tetapi bagaimana kalau secara tak sengaja saya melihat upacara ini? Itulah yang terjadi saat saya mengunjungi Kuil Pasupatinath di Kathmandu.

Bagi penganut Hindu di Nepal, Kuil Pasupatinath yang terletak di sebelah tenggara kota Kathmandu itu adalah salah satu tempat suci yang paling penting. Kuil ini dibangun untuk memuja Dewa Siwa, yang dalam kepercayaan Hindu dianggap sebagai dewa pelebur. Sang Dewa Siwa bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana ini, sehingga harus dikembalikan kepada asalnya. Merujuk pada kepercayaan Hindu tentang Dewa Siwa ini, rasanya bisa dipahami mengapa Kuil Pasupatinath dipakai sebagai tempat kremasi.

Untuk mencapai tempat ini dari kawasan Thamel di pusat kota Kathmandu, saya menumpang bus kota yang bertarif 15 rupee, atau sekitar Rp 2 ribu saja. Kita bisa menyetop bus dari Jamal Street yang tak jauh dari Thamel, lalu turun di Gaushala Chowk. Dari perempatan Gaushala Chowk, kita masih harus berjalan kaki lagi selama kurang lebih 15 menit untuk mencapai Pasupatinath Temple. Hal yang agak merepotkan, bus kota di Nepal tak diberi tanda jalur. Tapi bilang saja ke kernek bus tujuan kita ke Gaushala Chowk, mereka pasti akan langsung mengerti.
Panorama Kuil Pasupatinath yang dipenuhi stupa
Kuil Pasupatinath mulai dibangun pada abad ke-5, jadi umur situs suci umat Hindu ini sudah tua sekali. Gempa bumi yang terjadi pada 2015 lalu juga menyebabkan kerusakan di situs berharga ini, namun dampaknya tak begitu parah seperti yang dialami Kathmandu Durbar Square atau Patan Durbar Square . Kuil Pasupatinath sudah masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO. Tempat ini dianggap layak masuk daftar tersebut bukan hanya karena arsitekturnya, tetapi juga karena fungsinya sebagai pusat kegiatan religi umat Hindu Nepal.

Sebagai pusat ritual penting, setiap hari Kuil Pasupatinath ramai dikunjungi oleh peziarah. Keramaian ini sudah terlihat sejak di area sekitar kuil, di mana para peziarah duduk secara berkelompok menunggu giliran masuk. Beberapa keluarga nampak duduk berkumpul, menggelar tikar di tanah sambil menyantap makanan bekal. Nampaknya banyak yang berasal dari luar Kathmandu karena membawa bekal makanan segala.

Area sekitar gerbang masuk ke kuil dipenuhi dengan lapak-lapak penjual aneka kembang dan puja, perlengkapan sembahyang umat Hindu. Untuk melewati gerbang ini, pengunjung harus sedikit berdesak-desakan. Di sebelah kanan gerbang, sebenarnya ada konter tiket untuk turis asing. Tapi lagi-lagi saya lolos masuk tanpa perlu membayar tiket, lalu langsung ngeloyor ke bagian dalam dengan berpura-pura jadi orang lokal. Tiket masuknya sendiri lumayan mahal, yakni 1000 rupee atau sekitar USD 10.

Kompleks Kuil Pasupatinath terdiri dari beberapa bangunan besar yang didominasi bentuk pagoda. Saya sempat mengalami disorientasi saat berada di dalam kopleks kuil ini karena ramainya pengunjung. Bahkan saya hampir saja masuk ke dalam sebuah bangunan kuil yang sepenuhnya terlarang untuk non Hindu. Untung saja saya cepat menyadarinya. Tak terbayangkan kalau saya benar-benar masuk, lalu jadi bingung mengikuti ritual yang sedang berlangsung.

Satu hal yang begitu menyolok mata adalah area di dalam Kuil Pasupatinath ini sangat kotor. Peziarah yang selesai bersembahyang membuang begitu saja kembang yang sudah mereka gunakan. Belum lagi sisa-sisa bungkus makanan, dicampakkan dengan dengan seenaknya di dalam area situs suci ini. Tempat lain yang juga ramai dikunjungi seperti Kathmandu Durbar Square kondisinya tak sekotor itu. Hal ini perlu jadi perhatian serius pemerintah Nepal, jangan sampai situs umat Hindu yang penting ini rusak reputasinya karena sampah.

Menghindar dari kerumunan, saya berjalan mengikuti jalur setapak menuju sungai kecil di bagian belakang kompleks kuil. Arah jalur setapak ini makin mendekati sumber asap tebal yang sudah saya lihat dari kejauhan. Sampai di sini, saya belum ngeh kalau asap tebal itu berasal dari upacara kremasi. Sampai kemudian mulai tercium bau-bauan asing yang belum pernah terhirup oleh indera penciuman saya sebelumnya. Naifnya, saya masih belum tahu juga kalau bau-bauan itu berasal dari pembakaran jenazah!

Kompleks Kuil Pasupatinath ternyata dibelah oleh Sungai Bagmati dan dihubungkan oleh sebuah jembatan kecil yang menyambung kedua bagiannya. Setelah menyeberangi jembatan kecil itu, barulah saya sadar bahwa saya tengah berada di upacara kremasi. Saya memang sudah membaca ulasan mengenai Kuil Pasupatinath di buku-buku panduan perjalanan. Dan juga sudah tahu kalau kuil itu dipakai untuk upacara kremasi. Namun saya tidak menyangka kalau upacara tersebut berlangsung di tempat terbuka dan bisa disaksikan khalayak ramai.
Upacara meminumkan jenazah dengan air suci
Di depan saya, ada puluhan orang tengah berdiri bergerombol. Mereka yang terdiri dari turis asing maupun orang lokal itu sedang menyaksikan ritual meminumkan air suci pada orang yang sudah meninggal. Saya segera bergabung dengan kumpulan orang-orang itu, ikut terpana dengan apa yang sedang saya lihat. Ritual ini diwarnai jerit tangis sanak keluarga yang ditinggal, membuat orang yang melihatnya jadi ikut larut dalam kesedihan. Begitu berdukanya para sanak keluarga itu, setelah meminumkan air suci ke jenazah, ada yang sampai harus digendong karena tak kuat menahan kesedihan.

Menurut kepercayaan Hindu setempat, sebelum upacara kremasi dilangsungkan, jenazah terlebih dahulu direndam kakinya di Sungai Bagmati serta diminumkan air dari sungai tersebut. Bagi penganut Hindu di Nepal, Sungai Bagmati dianggap suci, sama halnya seperti umat Hindu di India memandang Sungai Gangga. Sungai Bagmati pada akhirnya juga menyatu dengan Sungai Gangga di wilayah India.

Setelah ritual meminumkan air suci selesai, jenazah diusung dengan tandu untuk diletakkan pada ghat, yakni tempat khusus di pinggiran Sungai Bagmati yang disiapkan sebagai tempat kremasi. Jenazah kemudian diletakkan pada onggokan kayu dengan muka tetap pada posisi terbuka menghadap langit. Setelah mengelilingi jenazah searah jarum jam sebanyak tiga kali, anak lelaki tertua akan mulai menyulut api. Menurut tradisi, api harus diletakkan pada bagian kepala jenazah. Penganut Hindu percaya, ruh manusia itu terletak di bagian kepala. Itulah sebabnya, bagian kepala yang pertama kali harus dibakar untuk melepaskan jiwa dari jasadnya.
Prosesi kremasi hendak dimulai
Secara perlahan, api akan mulai membesar. Petugas dari kuil biasanya akan meletakkan jerami supaya tubuh jenazah yang sedang dijilat api tak sampai terlihat khalayak. Namun bagian kaki jenazah seringkali masih dibiarkan terlihat, dan pemandangan ini bisa membuat orang yang tak biasa melihatnya bisa merinding. Anggota keluarga yang berduka harus menunggu beberapa jam sampai upacara kremasi selesai. Sisa-sisa pembakaran jenazah lalu dilarung di Sungai Bagmati.

Pada hari itu, setidaknya ada enam jenazah yang dikremasikan di tempat terbuka. Jadi bisa dibayangkan, betapa tebalnya asap yang dihasilkan dari ritual ini. Pemandangan ini terus terang membuat emosi tegang. Untuk mengendurkan syaraf, saya berjalan-jalan sebentar ke bagian belakang kompleks Kuil Pasupatinath yang dipenuhi stupa kecil. Konon, stupa-stupa ini menjadi kuburan orang suci yang dahulu pernah tinggal di Kuil Pasupatinath. Orang suci tak dikremasikan, tapi dikubur dalam posisi meditasi. Mereka dianggap akan langsung menuju nirwana, tak lahir kembali atau menjalani reinkarnasi seperti orang biasa.

Di sekitar stupa ini juga banyak berdiam sadhu, yakni pertapa Hindu yang sudah memisahkan dirinya dengan kehidupan duniawi. Mereka berpakaian khusus yang gampang dikenali, yakni pakaian khas pertapa yang berwarna jingga atau putih. Meski katanya sudah memisahkan diri dengan kehidupan duniawi, ada beberapa sadhu yang tak segan meminta uang pada turis. Perilaku ini tentunya bisa menunjukkan tingkat kesalehan mereka, mana yang benar-benar sahdu dan mana yang bukan.
Sadhu atau pertapa hindu
Ritual pembakaran jenazah tentunya bukanlah hal yang mudah untuk dilihat oleh orang asing yang tak dekat dengan tradisi ini. Jadi kalau tak siap mental, tak perlu memaksakan diri untuk melihatnya. Namun perlu diketahui, orang Nepal menganggap ritual ini hal yang lazim saja.

Mereka juga punya tradisi unik, yakni makan-makan di dekat tempat pembakaran jenazah untuk mengenang orang tercinta yang pernah dikremasikan di tempat itu. Saya bahkan sempat melihat sendiri, ada keluarga sedang makan-makan di dekat upacara kremasi yang tengah berlangsung! Anda dan saya mungkin tak sanggung melakukannya. Tapi, acara makan-makan bukankah cara yang indah untuk mengenang orang yang sudah tiada?

Baca juga:
Seberapa Murah Biaya Jalan-jalan ke Nepal?
Kiat Treking di Nepal dengan Biaya Irit
Mendapatkan Visa Iran itu Gampang!

25 March 2017

Hal-hal yang Wajib Dimengerti Sebelum Bertandang ke Iran

Tertarik ke Iran? Jangan buru-buru berangkat sebelum membaca informasi penting ini. Kalau kita abai dengan hal-hal ini, acara liburan bisa berubah jadi petaka!


Iran berbeda dengan kebanyakan destinasi lainnya di dunia yang biasa dikunjungi wisatawan. Ada beberapa hal yang sangat penting untuk diperhatikan wisatawan. Hal ini terkait erat dengan kondisi ekonominya yang masih di bawah embargo, serta situasi politik yang dikendalikan rezim teokrasi. Namun Anda tak perlu terlalu khawatir, kalau mempersiapkan diri dengan baik, perjalanan Anda akan aman-aman saja. Apa saja yang perlu diperhatikan? Simak poin-poin berikut ini.

Bawa Uang Tunai yang Cukup
Embargo ekonomi yang diterapkan pada Iran membuat perusahaan-perusahaan Amerika tak bisa beroperasi di negeri Persia itu. Jadi, kartu kredit berlogo Visa, Mastercard dan American Express yang biasa kita bawa saat traveling, tak bisa dipakai di Iran. Ya, merek-merek kartu kredit itu semuanya berasal dari Amerika. Setali tiga uang dengan kartu debit atau ATM yang berlogo Visa, Mastercard, Maestro, dan sebagainya, juga tak bisa dipakai di Iran.

Satu-satunya cara membawa uang adalah mengantonginya dalam bentuk tunai. Repot dan berisiko memang, tapi tak ada pilihan lain. Namun Iran terkenal sangat aman, sangat jarang ada kasus perampokan atau turis yang kecopetan. Bawalah uang tunai secukupnya. Kalau jalan-jalan ala backpacker seperti saya, pengeluaran per hari kira-kira USD 25-30.

Non Muslim juga Harus Pakai Kerudung
Di kebanyakan negara Muslim, mengenakan hijab atau kerudung hanyalah pilihan. Artinya, kaum hawa boleh mengenakannya, namun tak menjadi kewajiban. Tapi berbeda dengan Iran, kerudung wajib dikenakan semua perempuan. Tak peduli Muslim atau Non Muslim, orang lokal atau wisatawan, semuanya wajib tunduk dengan peraturan ini.

Namun jangan takut dulu, karena sebenarnya peraturan soal kerudung ini diterapkan secara longgar. Kerudung yang diwajibkan di Iran bukan seperti hijab syar’i yang perlu menutup seluruh rambut. Modelnya lebih seperti selendang yang menutupi kepala, dan masih boleh menampakkan bagian depan rambut. Baju dan celana tentunya harus panjang, modelnya tidak terlalu ketat, dan bahannya juga tidak terlalu tipis.

Bagaimana dengan laki-laki? Peraturan untuk kaum adam jauh lebih longgar. Pakaian yang biasa kita kenakan sehari-hari seperti kaus lengan pendek dan celana panjang denim bisa diterima. Tapi hindari memakai celana pendek dan baju kaus berlengan buntung. Saya cukup sering melihat cowok Iran mengenakan anting dan kalung. Tetapi wisatawan laki-laki yang tak mau mendapat masalah sebaiknya menghindari aksesoris seperti itu. Kalau punya tatto, usahakan ditutupi juga.

Gaya hijab perempuan Iran
Cewek Boleh Backpacking Sendirian di Iran
Tidak seperti Arab Saudi, pemerintah Iran mengizinkan perempuan mengendarai mobil. Perempuan di Iran juga lazim terlihat di tempat umum, bekerja dan beraktivitas sendiri seperti umumnya kita lihat di tempat-tempat lain.

Di terminal bus dan stasiun kereta api, kita juga bisa melihat perempuan Iran yang bepergian sendiri. Jadi, kaum hawa yang bepergian tanpa didampingi laki-laki adalah hal lazim di Iran. Buat para cewek yang hobi melancong solo, tak ada alasan untuk menghindari Iran. Negara ini malah jadi destinasi favorit kaum hawa yang suka jalan-jalan sendiri karena terkenal sangat aman.

Puasa Dulu dengan Media Sosial
Akses internet di Iran dikontrol ketat oleh pemerintahnya, dan yang diblokir bukan hanya situs pornografi. Saking ketatnya, semua blog yang berbasis Blogspot dan Wordpress tak bisa diakses di Iran, termasuk blog saya pelancongirit.com yang menggunakan hosting Blogspot. Saya lumayan dibikin kesal dengan kebijakan ini. Mengapa blog saya yang isinya hanya cerita jalan-jalan diblokir juga? Tapi begitulah, pemerintah Iran agaknya cukup paranoid dengan penyebaran informasi lewat blog.

Jangan tanya lagi soal media sosial seperti Facebook dan Twitter, sudah pasti diblokir juga. Namun Iran bukan satu-satunya negara yang memblokir situs media sosial. Cina dan Vietnam juga sudah lama melakukan hal serupa, padahal negara-negara tersebut cukup populer sebagai destinasi wisata. Facebook dan Twitter diblokir untuk menghambat penyebaran informasi yang anti pemerintah. Praktik seperti itu lazim dilakukan oleh rezim yang otoriter. Jadi, saat berkunjung ke Iran, puasa dululah dengan media sosial.

Duit Iran
Iran Punya Dua Mata Uang
Beberapa tahun terakhir, Iran mengalami hiperinflasi yang membuat mata uangnya bernilai sangat rendah. Mata uang resmi Iran adalah Rial dengan kode IRR (Iranian Rial). Kalau kita cek di internet, nilai USD1 setara dengan 32 ribu Rial (kurs Maret 2017). Namun kurs sebenarnya lebih rendah, di tempat penukaran mata uang di Tehran kurs yang berlaku biasanya USD1 adalah 34 ribu Rial. Tempat penukaran mata uang ini mudah ditemukan di bandara Tehran atau tempat-tempat strategis yang banyak dikunjungi turis.

Mungkin karena pusing dengan banyaknya angka nol di mata uang mereka, orang lokal punya sebutan lain untuk menyebut alat tukar mereka, yakni Toman. Toman ini sebenarnya sama dengan Rial, hanya nolnya dihilangkan satu. Bingung? Saya sendiri awalnya juga bingung, tapi lama-lama terbiasa. Penjelasan singkatnya, nilai Toman adalah sepersepuluh nial Rial. Jadi, 100 ribu Rial setara nilainya dengan 10 ribu Toman.

Uang yang digunakan masih sama, yakni Rial sebagai mata uang resmi Iran. Jadi kalau seorang penjual mengatakan harganya 10 ribu Toman, berarti uang yang harus dibayar berjumlah 100 ribu Rial. Yang bikin ribet, label-label harga di toko seringkali tak menjelaskan harga yang tertera dalam bentuk Toman atau Rial. Supaya tidak tertipu, sebelum melakukan transaksi pembelian, tanya benar-benar ke penjualnya harga barang dalam nilai Toman atau Rial.

Jangan Kaget dengan Propaganda Anti Barat
Pemimpin negara yang berseberangan pandangan politik dengan Amerika Serikat sering melontarkan kritik keras yang dimuat di media massa. Namun di Iran, bukan cuma pidato politik yang bernada keras. Poster-poster serta grafiti bernada anti barat masih sering kita temui di berbagai sudut jalan di Iran. Namun sejak Rouhani menduduki jabatan presiden Iran, propaganda seperti ini sudah jauh berkurang.

Berbagai propaganda anti barat yang disebarkan kelompok garis keras di Iran telah membentuk citra buruk tentang negeri itu. Namun rakyat Iran kebanyakan tetap ramah dengan turis asing, tak terpengaruh dengan propaganda yang sering mereka lihat. Kondisi politik di Iran memang masih rumit. Sekelompok politisi menggunakan sentimen anti barat untuk mendapatkan dukungan suara. Tak heran kalau propaganda seperti itu tak pernah benar-benar bisa dihentikan.

Grafiti bernada anti Amerika di jalanan Tehran
Hormati Tradisi Islam Syiah
Dari total 82 juta penduduk Iran, sekitar 90 persen adalah penganut Islam Syiah. Data statistik ini menunjukkan bahwa Iran menjadi negara Muslim dengan penganut Islam Syiah terbesar di dunia. Karena menjadi kelompok mayoritas, tradisi Syiah begitu dominan dalam kehidupan sehari-hari rakyat Iran. Kita akan melihat tata cara ibadah yang berbeda, pandangan agama yang berbeda, serta tradisi lainnya yang asing bagi orang indonesia yang mayoritas Muslim Sunni.

Sebagai penjelajah dunia, kita harus siap menerima perbedaan ini. Tiap sudut dunia itu berbeda, jadi buka mata baik-baik karena tak semua hal harus sama dengan kita. Melihat perbedaan lebih dekat kadangkala juga membuat kita tersadar, bahwa apa yang kita yakini selama ini ternyata salah. Jadi kalau tak siap dengan perbedaan, berarti kegiatan menjelajah dunia tidak cocok untuk Anda. Atau Anda cukup jalan-jalan di mal atau themed park saja!

Muslim Syiah sedang salat di masjid
Hati-hati Bicara Politik, Iran Bukan Indonesia
Setelah era reformasi, mengeritik pemerintah adalah hal biasa di Indonesia. Kita bebas bicara apa saja asal bertanggungjawab. Namun tidak demikian halnya dengan Iran yang masih berada di bawah rezim yang tidak demokratis. Media dikontrol sangat ketat, dan kritik terhadap pemerintah tak boleh dilontarkan sembarangan. Kalau tidak hati-hati, kita bisa masuk bui.

Beberapa orang yang saya temui di Iran sangat terbuka bicara soal politik. Namun sebagai orang asing, sebaiknya kita menahan diri dengan tidak terlalu menanggapi. Saya sendiri pernah ditanya oleh anak sekolah di Iran, lebih suka Saudi atau Iran? Menanggapi pertanyaan sensitif seperti ini, sebaiknya kita hati-hati, atau kalau ragu tak usah dijawab.

Baca juga:
Mendapatkan Visa Iran itu Mudah
Cara Mencari Akomodasi Murah di Iran
Kok Ada Coca Cola di Iran?
Repotnya Memesan Akomodasi di Iran

9 February 2017

Seberapa Murah Biaya Jalan-jalan di Nepal?




Dalam berbagai survei, Nepal sering masuk dalam jajaran destinasi berbiaya murah di Asia. Negeri di kaki Himalaya ini menawarkan banyak atraksi menarik, seperti trekking, wisata sejarah dan kuliner tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam. Murahnya biaya jalan-jalan di Nepal ini saya buktikan sendiri dalam perjalanan ala backpacker selama 3 minggu.

31 January 2017

Trekking di Nepal dengan Biaya Irit




Mengunjungi Nepal rasanya belum lengkap tanpa menjajal rute-rute trekking di sekitar Himalaya sudah kondang sejak lama. Tapi, banyak orang mengganggap kegiatan ini hanya untuk orang berduit saja. Maklum, jasa tur yang menawarkan paket perjalanan trekking di Nepal bisa memasang tarif sampai ribuan dollar. Meski begitu, ada cara supaya trekking di Nepal tak menguras banyak isi kantong Anda.

20 November 2016

Galau, Pilih ke Maroko atau Georgia dan Armenia?




Sekarang, saya tahu rasanya bagaimana senangnya mendapat tiket yang diidam-idamkan dengan harga promo. Saya berhasil mendapatkan tiket pulang pergi ke Tehran dengan 2 juta rupiah saja. Dulu-dulu tak pernah bisa membeli tiket promo Air Asia ini karena jadwal cuti yang tidak fleksibel, jadinya selalu iri melihat orang yang bisa membeli tiket murah. Tapi, mulai tahun depan kondisinya berbeda, saya bisa menentukan jadwal liburan lebih fleksibel. Yay… 

Tiket murah ke Tehran ini penting, karena Iran akan saya jadikan titik awal untuk menjelajahi negara-negara di sekitarnya seperti Armenia, Georgia (bukan Georgia negara bagian USA), Turki, Maroko, dan lain-lain. Coba saja Anda iseng cek harga tiket ke Istanbul atau Casablanca dari Jakarta, pasti harganya mahal. Nah, kalau kita sudah punya tiket ke Tehran, destinasi lain di sekitarnya bisa dicapai lewat jalur darat, atau menggunakan maskapai low cost carrier yang murah.

2 August 2015

Begini Cara Mencari Akomodasi Murah di Iran

Setelah posting blog sebelumnya yang berjudul Mau Backpacking ke Iran? Syarat Visanya Gampang, banyak pertanyaan yang masuk ke inbox saya, sebagian besar berisi soal bagaimana mencari penginapan murah di Iran. Maklum, akibat embargo ekonomi, situs reservasi andalan seperti hostelworld atau hostelbookers sama sekali tidak memuat daftar akomodasi di Iran.