9 June 2011

Manila Kecil di Tengah-tengah Dubai

Wajah-wajah Filipina di Satwa, Dubai
Tak perlu disangkal lagi, Dubai adalah salah satu kota paling modern dan kosmopolitan di dunia. Namun, di balik citranya yang serba wah dan spektakuler itu, kota ini sebenarnya tidak berbeda dengan tempat-tempat lain. Sedikit saja masuk ke areanya yang lebih “pedalaman”, segera terlihat bagiannya yang lebih membumi. Anda akan segera tahu, kota ini tak melulu dihuni orang kaya dan turis.

Distrik Satwa merupakan salah satu area pemukiman paling tua di Dubai. Sebelum kota itu dibanjiri ekspatriat asal India dan Filipina, Satwa merupakan pusat komunitas Iran. Sampai sekarang, di distrik ini masih berdiri Iranian Hospital dan Iranian School yang menandakan orang-orang dari negara Persia itu pernah eksis di sana. Komunitas Iran kini tinggal berpencar, keberadaan mereka tidak lagi mencolok seperti dulu. Jumlah mereka kini juga kalah banyak dibanding pendatang asal Filipina dan Asia Selatan.

Fakta inilah yang telah mengubah wajah Distrik Satwa. Kini, suasananya lebih mirip Little India atau Little Manila. Selain datang untuk bekerja, kehadiran orang-orang dari anak benua Asia dan Filipina telah memperkaya keragaman budaya dan tradisi kuliner di Dubai. Sayangnya, harta karun ini belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk menarik turis. Dubai yang kita kenal sekarang hanya menjual kemewahan dengan mal-mal raksasa dan taman-taman artifisialnya. Padahal, kawasan seperti Satwa sebenarnya bisa dijual. Distrik Satwa di Dubai tak kalah unik dengan Little India dan Chinatown di negara-negara maju.

Satu hal yang sering membuat banyak orang malas mengunjungi Satwa adalah kemacetannya. Bagi Anda yang hanya melihat bagian modern kota Dubai, barangkali akan terheran-heran mendengar kota itu juga macet. Dengan jalanan Dubai yang super lebar, kenapa masih bisa macet?

Tingkat pemilikan mobil pribadi per kapita di Dubai adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Satu mobil hanya dimiliki oleh 1,2 orang. Dengan kata lain, hampir semua orang punya kendaraan pribadi. Jadi, meskipun jalanannya sudah super lebar, tetap saja masih macet karena kendaraan di sana sungguh banyak.

Selain itu, tidak semua jalanan di Dubai lebar-lebar dan modern seperti Sheikh Zayed Road dan Emirates Road. Kawasan kota lama seperti Deira, Bur Dubai dan Satwa, memiliki jalanan yang agak sempit. Selain macet, orang-orang yang membawa kendaraan pribadi juga sulit menemukan tempat parkir. Itulah yang menyebabkan banyak orang lebih suka pergi ke mal modern.

Cara paling gampang menuju Satwa dengan mengunakan angkutan umum. Di tengah-tengah distrik ini ada terminal bus dengan rute hampir dari seluruh penjuru Dubai. Bus umum dari Sharjah, sebuah kawasan satelit Dubai, juga dilayani di terminal ini. Kalau naik Dubai Metro, Anda bisa turun di Jafiliya Station. Dari stasiun metro ini, perjalanan dilanjutkan dengan naik bus atau taksi.

Lalu, apa hal menarik yang bisa dilakukan di Satwa? Kalau Anda suka belanja barang-barang murah, Satwa adalah surga bagi Anda. Toko yang menjual pernak-pernik murah ini lazim disebut gift shop. Biasanya menjual barang-barang yang diimpor dari Cina, India dan Bangladesh. Jenisnya sangat beragam, mulai pakaian, sepatu, tas, dekorasi rumah, sampai peralatan dapur dan barang pecah belah. Di antara produk-produk impor itu, pilih yang made in Bangladesh. Produk-produk pakaian dan garmen buatan Bangladesh terkenal berkualitas bagus, meskipun tak kalah murah dibanding barang Cina.

Sekarang ini di Dubai sudah sangat sulit menemukan restoran dengan harga menu di bawah 10 dirham (sekitar 25 ribu rupiah). Namun, Satwa adalah perkecualiannya. Hanya dengan 10 dirham saja, kita sudah bisa menikmati menu prasmanan lengkap di restoran Cina atau Filipina. Sedangkan budget restaurant yang paling terkenal adalah Ravi Restaurant. Restoran ini menjual makanan Asia Selatan berkualitas dengan harga terjangkau.

Tapi, belum ke Satwa namanya kalau tidak mencicipi hidangan Filipina. Daerah Satwa terkenal sebagai kawasan hunian ekspatriat asal Filipina. Karena itu, restoran dan supermarket Filipina bisa ditemui di hampir semua sudut jalan. Wajah-wajah Melayu sangat mudah dijumpai di sini. Orang Indonesia yang berada di kawasan ini akan disangka orang Filipina dan disapa dengan bahasa Tagalog.

Makanan Filipina rasanya agak mirip dengan masakan Indonesia. Sajian yang paling khas adalah adobo, yakni ayam yang dimasak dengan soya sauce. Di negara asalnya, adobo juga terbuat dari babi. Berhubung makanan non-halal dilarang dijual di tempat umum di Dubai, jadilah hanya versi ayam adobo yang bisa dinikmati. Hidangan unik lainnya adalah camporado, atau dalam bahasa Indonesia secara harfiah berarti campur aduk. Asal tahu saja, bahasa Tagalog memiliki banyak kesamaan dengan bahasa kita. Tak heran kalau banyak kata-kata yang mirip atau sama. Camporado sendiri adalah bubur nasi yang dimasak bersama ayam dan sayuran.

Kalau Anda punya nyali, silahkan mencoba balut, yakni telur bebek yang setengahnya sudah menjadi embrio. Orang Filipina paling hobi memakan makanan aneh. Di negara asal mereka, cacing dan ulat saja dimakan. Jadi, makan embrio bebek bukanlah hal yang paling parah.

Saya sendiri hampir semaput waktu pertama kali disuguhi balut. Kawan saya yang sama-sama orang Indonesia bahkan berteriak histeris saat melihat isi balut yang sebelumnya dikira telur rebus biasa. Untungnya, itu tidak terjadi di restoran, jadinya tidak terlalu malu. Sahabat-sahabat dari Filipina yang jahil memang paling suka bikin shock orang yang baru datang ke Dubai dengan suguhan balut. Bagaimana tidak kaget, setelah mengupas telur rebus ternyata di dalamnya ada bayi bebek yang sudah terbentuk kepala dan sayapnya!

Begitulah, apapun yang ada di Filipina, bisa ditemui di Satwa. Bahkan, pada hari Jumat dan Sabtu kadang-kadang juga digelar Ukay-ukay, yaitu pasar tiban ala Filipina yang menjual barang-barang bekas dan pernak-pernik murah. Pendek kata, Satwa benar-benar sudah menjadi Little Manila-nya Dubai.

0 comments:

Post a Comment