25 June 2011

Turis dan Pejalan, Apa Bedanya?

Turis atau pejalan?
Kalau Anda rajin memperhatikan tulisan blogger yang bertema jalan-jalan, banyak di antara mereka menggunakan istilah khusus untuk merujuk aktivitasnya. Sebagian dari mereka tak pernah menggunakan istilah turis atau wisatawan untuk menyebut dirinya sendiri. Bahkan, ada yang terkesan sangat anti dengan kata itu. Mereka lebih suka menyebut dirinya pejalan (traveler) atau backpacker.

Tapi, apa sih maknanya menggunakan istilah itu? Toh, di mata orang lokal mereka tak ada bedanya dengan turis biasa. Bagi masyarakat lokal, apakah Anda datang dengan membawa backpack atau jadi anggota rombongan tur super elit, Anda tetap saja dianggap orang asing alias turis. Backpacker, traveler, pejalan, dan entah apalagi istilahnya sama-sama datang ke suatu tempat dalam waktu yang singkat. Jadi, mengapa mereka membuat dirinya seolah-olah berbeda dengan turis biasa?

Secara semantis (kebahasaan), arti kata “turis” dan “pejalan” sebenarnya tak jauh berbeda. Turis bisa diartikan sebagai orang yang mengunjungi daerah lain yang bukan tempat tinggalnya untuk tujuan kesenangan. Sedangkan pejalan (traveler) artinya kurang lebih sama, yakni orang yang bepergian atau orang yang sering melakukan perjalanan. Namun, lebih dari sekedar makna semantis, banyak orang membedakan secara serius antara “turis” dan “pejalan”.

Label turis sering ditujukan pada peserta rombongan tur, orang yang hobi belanja-belanji di tempat wisata, atau sekelompok orang yang mengejar gengsi dengan melakukan perjalanan ke luar negeri. Alih-alih mengenali tempat yang dikunjunginya, mereka yang disebut turis ini hanya sibuk berfoto-foto sebagai bukti kalau telah pergi ke sana. Turis dianggap berwawasan sempit, suka menghambur-hamburkan uang dan hobi pamer. Begitulah kira-kira gambaran stereotipe turis.

Bagaimana dengan pejalan? Orang yang disebut pejalan atau mengklaim dirinya pejalan, dianggap mempunyai apresiasi lebih tinggi terhadap tempat-tempat yang dikunjunginya. Lebih dari sekedar belanja-belanji dan foto-foto, mereka mempelajari dengan seksama tempat-tempat yang dilihatnya. Pejalan tidak hanya melihat sesuatu dari permukaan saja, tapi berusaha mengerti dan memahaminya. Para pejalan ini suka mempelajari sejarah dan budaya setempat, serta mencoba bergaul dengan masyarakat lokal. Bagi mereka, perjalanan harus memiliki makna, menambah pengetahuan, membuka tali pertemanan, serta memberi wawasan baru tentang tempat-tempat asing.

Demikianlah, konsep pejalan nampak begitu ideal dan seolah-olah menjadikan mereka lebih superior dari turis. Kini, makin banyak orang yang menolak disebut turis, walaupun warga lokal menganggap mereka tak lebih dari turis biasa. Banyak pula yang begitu membenci semua hal yang berbau turis. Pendek kata, mereka mengambil sikap yang bertentangan dengan gaya turis.

Untuk menegaskan identitasnya, ada yang berdandan super nyentrik. Sebagian lainnya berpakaian super dekil seperti hippies tahun 70-an. Namun, yang akan jadi pertanyaan kemudian, bagaimana mereka bisa bergaul dengan masyarakat lokal kalau cara berpakaiannya saja sudah dianggap aneh? Ironisnya, orang-orang ini justru mudah ditemui di tempat-tempat yang penuh turis seperti Bali dan Phuket. Nah lho, katanya anti turis?

Saya sering bertemu dengan orang yang bergaya seperti petualang kelas berat, tapi mereka hanya menghabiskan waktunya di hostel sambil bercengkerama dengan tamu lain. Mereka sama sekali tidak tertarik berdiskusi tentang tempat yang dikunjunginya, apalagi bergaul dengan penduduk lokal. Anehnya, mereka ini paling rajin mengolok-olok turis. Seolah-olah rombongan turis yang ke mana-mana naik bus wisata itu hanya kumpulan orang bodoh saja. Padahal, rombongan turis itu mungkin lebih banyak jalan-jalan ketimbang mereka sendiri yang kegiatannya hanya nongkrong di klub malam mencari bir murah.

Ada pula yang sangat bangga kalau pergi ke suatu negara tanpa membuat rencana perjalanan. Seolah-olah mereka menjadi petualang sejati hanya karena malas menyusun itinerary. Namun, saya menganggap itu romantisisme yang tidak pada tempatnya. Fakta ini menunjukkan bahwa orang yang mengaku pejalan sering terjebak dengan label saja. Bagi saya, PEJALAN SEJATI TAHU PERSIS APA YANG DICARI DAN KE MANA IA MENUJU. 

Perjalanan yang jauh sering pula dihubung-hubungkan dengan pencarian jati diri, penemuan identitas, penggalian spiritualitas dan hal-hal semacam itu. Terus terang, saya suka agak geli mendengarnya. Apakah mereka sudah kehilangan dirinya sendiri hingga harus mencarinya ke benua lain? Bukannya antipati, saya menganggap pemikiran seperti itu romantisisme berlebihan yang justru menunjukkan kalau kita belum dewasa.

Lalu kalau ditanya, apa tujuanmu melalukan perjalanan? Tujuan saya sederhana saja. Saya ingin melihat lebih dekat tempat-tempat asing yang sebelumnya hanya bisa saya baca dan dengar dari media. Syukur-syukur bisa dapat teman baru dari latar belakang berbeda, supaya bisa bertukar pikiran dan memahami suatu hal dari sisi lain. Di era globalisasi ini, saya tidak berambisi menjadi Columbus. Rasanya, seluruh sudut bumi ini sudah dijelajahi manusia. Saya tidak terobsesi dengan tempat-tempat terpencil karena sudah pasti kita bukan orang pertama yang mengunjungi tempat itu!

Saya berusaha mengamalkan konsep pejalan yang ideal tanpa merasa perlu terjebak dengan label. Saya kira, semua orang bisa memetik manfaat dari sebuah perjalanan, termasuk orang yang dianggap tipikal turis sekalipun. Hanya saja, seberapa besar manfaat yang bisa diraih sangat tergantung dari cara dan tujuan kita melakukan perjalanan. Orang yang berusaha “menyentuh” sesuatu pasti lebih beruntung dari mereka yang mengambil jarak. Mengerti kan maksudnya?

0 comments:

Post a Comment