29 July 2011

Naik Bus Keliling Turki

Bus di Turki
Sejujurnya, saya tidak menyukai perjalanan dengan bus, apalagi untuk perjalanan jauh. Setelah 1-2 jam berada di bus, perut rasanya seperti terkocok-kocok, mual dan ingin muntah. Saya juga sulit tidur dalam perjalanan bus malam. Belum lagi harus menahan pegal di pantat karena harus duduk lama. Pokoknya sangat tersiksa!

Namun, karena pertimbangan efisiensi waktu dan kepraktisan, saat backpacking ke Turki beberapa waktu lalu saya “terpaksa” menggunakan bus. Setelah melakukan riset sana-sini, saya mendapat informasi bahwa perjalanan dengan kereta api di Turki memakan waktu yang lebih lama. Sudah begitu, banyak objek wisata menarik di Turki seperti Cappadocia dan Selcuk, tidak bisa dijangkau secara langsung dengan kereta api dari Istanbul.

Saya pikir, daripada harus gonta-ganti kendaraan, lebih baik langsung naik bus saja. Buat saya sangat merepotkan sekali misalnya untuk ke Cappadocia harus naik kereta api dulu ke Ankara, lalu diteruskan dengan menumpang bus beberapa jam. Setelah itu, bukan berarti perjalanan selesai. Kita masih harus naik dolmus (minibus atau angkot) untuk sampai ke lokasi. Alamak, repot sekali!

Naik taksi hampir tak pernah ada dalam rencana perjalanan saya. Merasa canggung saja kalau naik kendaraan itu, soalnya saya membawa ransel. Saya juga lebih sering backpacking sendirian, jadi biaya taksi harus ditanggung sendiri. Saya kira naik taksi juga kurang aman, soalnya kita sendirian di dalam mobil. Kalau supirnya bukan orang baik-baik, kita tidak bisa apa-apa kan? Beda dengan naik metro atau bus, penumpangnya bukan cuma kita sendiri. Kalau ada apa-apa, kita bisa dengan mudah minta pertolongan.

Meskipun tidak terlalu suka naik bus antarkota, perjalanan panjang dengan bus di Turki tidaklah seburuk yang saya kira. Banyak hal yang membuat saya terkagum-kagum dengan pelayanan bus di Turki. Hal yang paling terasa adalah kenyamanan ruangan bus. Fasilitasnya tak kalah dengan kabin pesawat, bahkan lebih nyaman karena kursinya lebih lebar dari tempat duduk kelas ekonomi di pesawat.

Saya pernah ditertawakan petugas penjualan tiket bus di Turki gara-gara meminta tiket sleeper bus. Konyol juga kalau dipikir-pikir, mana ada bus yang dilengkapi tempat tidur, memangnya kereta api? Meskipun tidak ada bus yang dilengkapi tempat tidur, jarak antar kursi sangat lapang sehingga bisa direbahkan sampai 90 derajat. Dan yang bikin wow...., semua tempat duduk dilengkapi layar LCD mini seperti di kabin pesawat terbaru.

Kursi bus dengan layar LCD
Layar LCD mereka bahkan lebih canggih dari maskapai penerbangan paling bonafid. Selain bisa bermain game atau menonton proggram televisi dan film, penumpang bus bisa membawa koleksi filmnya sendiri. Cukup colokkan USB card kita, maka film sudah bisa diputar. Canggih bukan? Untuk kelas tertentu, ada juga bus yang dilengkapi internet dan wi-fi. Bukan main!

Selain supir, bus antarkota di Turki selalu memiliki “flight attendant” yang dalam bahasa Turki dipanggil yardimci. Jangan bayangkan yardimci ini penampilannya seperti kernet bus di Indonesia. Mereka ini selalu berdandan super necis layaknya pramugari dan pramugara. Bus yang paling jelek sekalipun, yardimci-nya selalu mengenakan dasi. Tampangnya juga oke, tidak kalah dengan bintang sinetron di Indonesia. Orang Turki gitu loh!

Yardimci
Di Turki, ada tradisi yang sangat unik dan ini tidak dijumpai ketika kita menumpang bus di negara lain. Tiap beberapa jam sekali, yardimci akan menuangkan lemon cologne ke telapak tangan semua penumpang. Cologne yang beraroma buah ini lumayan bisa mengurasi rasa mual. Oleskan ke tengkuk dan wajah, dijamin bisa membuat kita segar kembali.

Minuman dan snack selalu disajikan selama perjalanan. Jenis minuman yang bisa dipilih biasanya teh, kopi, soft drink dan juice. Untuk menyiapkan makanan dan minuman, yardimci memiliki pantry kecil yang terletak di bagian tengah bus. Selama perjalanan, yardimci biasanya selalu standy by di pantry-nya. Jadi kalau kita mau minta minum, datangi saja pantry itu.

Kursi penumpang juga dilengkapi meja lipat persis seperti di pesawat. Jadi kita tidak perlu kerepotan menaruh gelas atau wadah makanan. Beberapa perusahaan bus juga menyediakan layanan plus lainnya, seperti koran gratis dan majalah. Persaingan antar perusahaan di Turki sangat ketat, jadi mereka berlomba-lomba menyediakan layanan terbaik untuk penumpangnya.

Di Turki, bukan cuma layanan bus yang nyaman, kondisi terminal bus juga sangat baik. Terminal bus di Istanbul memang biasa-biasa saja, tapi terminal di beberapa kota lainnya seperti bandara modern. Tengoklah misalnya terminal bus di Konya dan Izmir. Bandara di Indonesia langsung kalah telak!

Satu-satunya hal yang bikin kesal dari layanan bus di Turki adalah website mereka. Sangat sedikit perusahaan bus yang memiliki website berbahasa Inggris. Namun, itu sebenarnya bisa diatasi dengan menggunakan browser Google Chrome yang memiliki fitur penerjemah.

Catatan perjalanan saya ke Turki sudah diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit B-First (Kelompok Bentang). Baca ulasan bukunya di sini.

0 comments:

Post a Comment