28 July 2011

Noraknya TKW dari Arab (Bagian 3)

Bandara Soekarno Hatta
Terus terang, dalam penerbangan itu saya merasa pelayanan Qatar Airways kurang memuaskan. Apa karena saat itu sebagian besar penumpangnya TKW dan kebelulan saya duduk di bagian yang berdekatan dengan TKW? Pramugari yang melayani di bagian kami tak pernah tersenyum sedikitpun. Sudah begitu, bahasa tubuhnya sangat tidak menyenangkan, terkesan memandang rendah penumpang yang dilayaninya. Cuma satu orang itu sih yang jutek, yang lainnya masih cukup ramah.

Biasanya, sebelum makanan disajikan, penumpang selalu diberikan daftar menu untuk memilih makanan. Tapi dalam penerbangan kali itu, pramugari menyodorkan begitu saja menu nasi goreng tanpa menanyakan pilihan penumpang. Nasi gorengnya juga sangat lembek, melihatnya saja sudah bikin eneg. Dalam penerbangan itu, makanan disajikan sebanyak dua kali. Pada hidangan yang kedua, makanannya lagi-lagi nasi goreng lembek! Haduh....

Setelah sebagian penumpang selesai makan, beberapa penumpang TKW di dekat saya mulai beraksi kembali. Kali ini mereka saling pamer handphone. Saya agak kaget waktu pertama kali melihatnya, khawatir kalau handphone itu masih aktif. Ternyata oh ternyata, ada handphone yang tidak dimatikan sejak pesawat take-off. Padahal penerbangan itu sudah berlangsung beberapa jam! Saya langsung deg-degan lalu cepat-cepat bilang, “Mbak, cepetan handphone-nya dimatikan. Nanti dimarahin pramugari lho!”

Lumayan bikin sport jantung juga. Oh ya, handphone yang mereka pamer-pamerkan itu tipe smartphone terbaru yang harganya lumayan mahal. Pekerjaan boleh PRT, tapi handphone-nya tidak kalah dengan manajer di Indonesia!

Belum cukup dengan aksi pamer-pamer handphone, seorang penumpang TKW tiba-tiba berdiri di gang sambil berakting dengan handphone-nya meniru gaya businesswoman. Alamak, dia mengenakan blazer yang entah didapat dari mana. Saya tahu persis, blazer itu belum dikenakan sebelumnya. Sebenarnya aktingnya cukup lucu. Tapi mungkin karena waktu dan tempatnya tidak tepat, aksi itu malah bikin saya kecut.

Setelah semua penumpang selesai makan, suasana jadi agak berisik. Yang terasa sangat mengganggu, banyak TKW berdiri bergerombol di gang saling bergosip. Ini sangat mengganggu kru pesawat dan orang yang hendak ke toilet. Wajah awak kabin mulai terlihat tidak sabar dengan tingkah ini. Pramugari yang tadinya masih bisa tersenyum, kini ekspresinya berubah geram. Bagaimana tidak, mereka sudah berkali-kali disuruh kembali ke tempat duduknya. Tapi sebagian besar cuek bebek bahkan malah ada yang menantang kru pesawat! Oh tidak....

Ika, TKW yang duduk di sebelah saya juga mulai banyak ha ha... hi hi... Padahal sebelumnya ia terlihat paling kalem. Supaya tidak ikut-ikutan banyak tingkah seperti yang lain, saya mencoba mengajaknya ngobrol kembali. “Nanti dari Jakarta ke Majalengka naik apa Ika?”, tanya saya memulai percakapan. Bukannya direspon, dia malah tambah sibuk ha ha... hi hi... Saya belum hilang kesabaran. “Mending nginap aja di bandara. Berangkat ke Majalengka besok pagi aja biar lebih aman”, lanjut saya mencoba menyambung percakapan.

Astaga, reaksinya kemudian malah ekspresi meremehkan. Ceilah, diberi saran baik-baik kok responnya malah meremehkan? Kesal juga jadinya. Apa dia belum pernah dengar cerita soal TKW yang dirampok atau bahkan dijual setiba di tanah air?

Suasana kabin terasa makin tidak nyaman saja. Meskipun lampu isyarat sabuk pengaman sedang menyala, para TKW tetap saja berdiri bergerombol di gang. Awak kabin nampak mulai kewalahan menangani situasi. Sampah juga berserakan di mana-mana. Nasi goreng lembek serta air minum yang dibuang ke lantai terlihat sangat menjijikkan setelah berkali-kali terinjak sepatu. Lantai kabin pesawat yang tadinya bersih kinclong kini nampak jorok dan becek seperti pasar.

Belum cukup sampai di situ. Beberapa TKW iseng menyobek-nyobek kertas inflight magazine lalu dikepal-kepal untuk dijadikan bola kertas. Ya ampun, mereka main lempar-lemparan bola kertas di dalam kabin pesawat! Saya menutup wajah dengan bantal, berharap bisa melupakan apa yang sedang terjadi. Oh Tuhan, saya ingin lari dari kekacauan ini......

Menjelang pesawat landing, kehebohan tetap saja belum berhenti. Baru saja pilot selesai mengumumkan pesawat akan mendarat, para TKW sudah sibuk menurunkan barang bawaan yang disimpan di overhead bin. Pramugari jadi berteriak-teriak dan nampak tergopoh-gopoh menutup kembali overhead bin. Tindakan ini sangat berbahaya. Pesawat yang sedang landing kondisinya sangat tidak stabil. Barang-barang yang disimpan di overhead bin bisa jatuh menimpa penumpang yang duduk di bawahnya. Saya merasa miris campur ngeri melihat situasi itu.

Setelah tiba di bandara Cengkareng, saya berjalan tergesa-gesa menuju pemeriksaan imigrasi. Bukan apa-apa, saya takut ketinggalan bus Damri karena waktu sudah cukup larut. Kondisi kantong memang sedang kering, nggak kuat bayar taksi he he...

Setelah duduk di di dalam bus, saya jadi teringat Ika dan kawan-kawannya. Di mana ya mereka, apakah menginap di bandara atau langsung ke Majalengka? Saya kemudian mengirim sms ke Ika yang menggunakan nomor Arab Saudi. Saya sendiri tidak terlalu yakin nomornya aktif di Indonesia. Kita memang sempat-sempat tukar-tukaran nomor handphone ketika bercakap-cakap sebelumnya.

Tak lama kemudian, handphone saya mendapat panggilan. Ika menelepon saya dengan nomor roaming dari Arab Saudi. Jadi deg-degan juga, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah telepon diangkat, suara ceria dengan backsound yang heboh terdengar dari seberang sana. Ada musik dangdutnya pula plus suara orang sedang bernyanyi lagu Bang Toyib.

“Halo Mas, kok tadi buru-buru banget sih jalannya? Tadinya mau kita traktir loh”. Saya merasa lega bercampur rasa bersalah. Kata-katanya kemudian membuat saya terharu. “Takutnya Mas sakit atau apa, kok tadi di bandara jalannya buru-buru banget”. Kepala saya seperti tertimpa batu berton-ton. Betapa egoisnya saya, cuma karena khawatir ketinggalan bus Damri saya melupakan Ika dan teman-temannya. Mereka bahkan juga memikirkan saya. Hiks, jadi ingin menangis....

“Terus Ika sedang di mana ini? Naik apa ke Majalengka?”, tanya saya. “Kita nyarter mobil Mas, bareng teman-teman sekampung”. Backsound yang riuh tiba-tiba ikut menyahut, “Kita booking sama supir-supirnya, ha ha....” Kelihatannya suara saya dipasang di speaker handphone, jadi bisa terdengar semua orang.

Syukurlah, semuanya baik-baik saja. Saya merasa menjadi orang yang sok tahu sekali. Menyuruh orang menginap di bandara, padahal ia sudah tahu persis apa yang harus dilakukan. Apapunlah, keep norak kawan, mumpung di sini tidak bisa diomeli majikan. Cuma, bagaimana ya nasib supir yang mobilnya dicarter tadi kalau penumpangnya berisik bin norak begitu? Ha ha..., rasain lu pak supir!

Mudah-mudahan pembaca mengerti benang merahnya, mengapa kata “norak” harus tetap dipakai sebagai judul. Menurut kamus bahasa Indonesia, norak artinya dandanan atau penampilan yang berlebihan, kurang serasi, kurang pantas, takjub atau heran melihat sesuatu, kampungan.

0 comments:

Post a Comment