14 October 2011

Masuk Gua yang Penuh Tengkorak di Toraja

Patung kayu Toraja
Budaya orang Toraja nampaknya begitu lekat dengan hal-hal yang berkaitan dengan kematian. Selain upacara kematian Rambu Solo yang terkenal itu, orang Toraja juga memiliki tradisi “penguburan” mayat yang tidak biasa. Kata “penguburan” di sini harus diberi tanda kutip karena mayat orang Toraja sebenarnya tidak benar-benar dikubur.

Macam-macam teknik yang dilakukan orang Toraja untuk “menguburkan” mayat. Ada yang yang dimasukkan dalam liang batu, disemayamkan dalam gua, disimpan dalam rumah-rumahan, bahkan juga dibenamkan dalam batang pohon besar. Meskipun ada bermacam-macam teknik “penguburan” yang digunakan, mayat mereka tidak pernah benar-benar berbaur dengan tanah. 

Menurut kepercayaan orang Toraja, sisa-sisa tubuh manusia tidak boleh bercampur dengan tanah. Lahan pertanian harus dijaga kemurniannya dari sisa-sisa tubuh manusia supaya terjaga kesuburannya. Meskipun sekarang sebagian besar orang Toraja sudah memeluk agama Kristen, kepercayaan ini masih terus dijaga. Tak pelak lagi, kegiatan jalan-jalan melihat “kuburan” adalah salah satu aktivitas yang paling menarik di Toraja.

Saya bersama Jan, seorang kawan yang berasal dari Belanda, berkesempatan melihat “kuburan” orang Toraja yang tidak biasa itu. Kami juga ditemani Christ, seorang pemandu wisata yang asli anak Toraja. Bukannya mau berlagak jadi turis atau sok bawa-bawa pemandu segala. Kami merasa keberadaan seorang pemandu benar-benar dibutuhkan. Saya dan Jan boleh dikata buta soal budaya Toraja. Tanpa seorang pemandu, kami benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan.

Jadilah, kegiatan kami hari itu diisi dengan tur melihat “kuburan”. Sebagai kegiatan pembuka, kami diajak ke kuburan pohon yang menurut Christ tidak terlalu seram. Nah lho, berarti “kuburan” berikutnya bakal sangat seram?  Pembukaannya dipilih yang tidak terlalu seram, lalu diakhiri dengan yang paling seram! Waduh, belum-belum saya sudah merinding duluan!

Saya sangat penasaran, seperti apa bentuk kuburan pohon tersebut. Ternyata, kuburan pohon itu hanya sebuah pohon besar yang batangnya dilubangi. Mayat yang dimasukkan dalam lubang tersebut ditutupi dengan ranting pohon dan semacam jerami. Pelan-pelan, lubang akan menutup sendiri dan mayat bisa menyatu sepenuhnya ke batang pohon. Lubang di pohon tersebut sangat kecil, jadi hanya bisa memuat mayat bayi.
 
Kuburan pohon
Menurut kepercayaan orang Toraja, semua bayi yang meninggal harus “dikubur” di dalam batang pohon. Batang pohon yang dipilih sebagai “kuburan” adalah jenis tanaman yang menghasilkan banyak getah. Nah, getah pohon ini fungsinya untuk “menyusui” bayi-bayi yang “dikubur” dalam batang pohon tersebut. Oh, ternyata begitu alasannya.

Christ kemudian membawa kami ke jenis “kuburan” lainnya. Kali ini kami dibawa ke muka sebuah tebing batu yang sangat tinggi. Bebatuan di tebing itu dipahat sedemikian rupa untuk menaruh patung-patung kayu. Patung-patung itu katanya dibuat mirip dengan orang-orang yang “dikuburkan” di tebing tersebut. Di bagian yang lebih tinggi, dibuat liang untuk memasukkan mayat.

Letak liang-liang itu sangat tinggi, ini dimaksudkan supaya barang-barang berharga yang ditanam bersama mayat tidak mudah dicuri. Bisa dibayangkan betapa sulitnya pekerja yang harus memahat dinding tebing untuk dijadikan “kuburan”. Namun, tradisi bekal kubur sudah tidak dilakukan lagi. Karena itu, liang-liang kubur yang dibuat belakangan letaknya lebih rendah.

Acara melihat “kuburan” ternyata belum selesai. Kegiatan yang paling menantang  justru baru dimulai. Christ kemudian membawa kami ke sebuah gua yang berisi ribuan mayat. Terbayang kan betapa seramnya!

Begitu tahu gua tersebut dipenuhi mayat, Jan langsung menolak ikut. Orang bule ternyata lebih penakut, ha ha... Meskipun awalnya agak ngeri, saya memberanikan diri memasuki gua.

Rupanya ada kesepakatan bahwa pengunjung hanya boleh masuk gua didampingi pemandu yang biasa mangkal di depan gua tersebut. Jadi, pemandu kami Christ tidak boleh ikut masuk. Supaya bisa bagi-bagi rezeki, mungkin begitu maksudnya. Karena Jan juga menolak ikut, akhirnya saya masuk gua yang penuh mayat itu hanya ditemani seorang pemandu.

Mungkin karena sudah terlalu banyak mayat yang disimpan di dalam gua, sebagian peti mati ditumpuk begitu saja di depan mulut gua. Tentu saja pemandangan itu bikin bulu kuduk saya berdiri. Saya tidak melihat deretan peti mati kosong, tapi benar-benar diisi mayat!

Selain dipenuhi peti mati, mulut gua itu juga dihiasi dengan patung-patung kayu seperti yang sebelumnya saya lihat di kuburan tebing. Sebagian patung nampak sangat hidup, seperti patung lilin di Museum Madame Tussaud. Tapi, memandang patung-patung tersebut membuat saya tambah merinding.

Berbekal lampu petromaks sebagai penerang, saya dan pemandu melangkah masuk ke dalam gua. Untungnya ada cukup banyak pengunjung yang sudah berada di dalam gua, jadi suasananya tidak terlalu sepi. Saya juga tidak mencium bau mayat. Aroma yang tercium adalah bau tanah dengan udara yang terasa sangat lembab dan pengap.

Karena lantai gua terasa agak licin dan becek, saya mencoba berpegangan pada dinding gua supaya tidak terpeleset. Tapi alangkah kagetnya saya kemudian. Saya hampir saja menyentuh tengkorak dan tulang-belulang manusia yang disisipkan pada celah-celah di dinding gua! Pemandu malah tertawa melihat saya yang kaget. Ia malah bilang tidak apa-apa menyentuh tengkorak. Asal tidak dibawa ke luar gua, tidak ada pantangannya menyentuh kerangka manusia. Tapi untuk apa sih saya memegang-megang tengkorak orang?

Setelah peti mati lapuk karena termakan usia, kerangka manusia yang ada di dalamnya disusun dalam celah-celah batu pada dinding gua. Jadi jangan heran kalau kita bisa melihat deretan tengkorak dan tulang-belulang yang disusun dengan rapi. Warga lokal juga sering menaruh sesaji di depan tengkorak-tengkorak tersebut. Ada yang menaruh botol air minum kemasan, koin, serta rokok. Entah apa maksudnya, ada pula yang menaruh sebatang rokok di bagian mulut tengkorak! Memangnya orang mati bisa merokok?

Uniknya lagi, kuburan gua ini juga memiliki legenda menarik. Konon, ada sepasang muda-mudi yang bunuh diri di dalam gua karena hubungan mereka tidak direstui orang tuanya. Tengkorak mereka masih bisa disaksikan sampai sekarang. Ini adalah kisah Romeo dan Juliet versi Toraja!

Gua itu sebenarnya cukup dalam, tapi saya menolak masuk ke bagian yang lebih jauh. Rasanya tidak nyaman terlalu lama berada di dalam gua yang penuh sisa-sisa tubuh manusia. Setelah keluar dari gua, Jan dan Christ menyambut saya dengan senyuman lebar. Mereka bilang wajah saya pucat!

Dalam perjalanan pulang ke akomodasi, Christ mendapat telepon dari temannya yang memberi tahu alamat orang yang menyimpan mayat di dalam rumahnya. Bagi yang belum mengerti tradisi Toraja, mungkin akan langsung bergidik mendengarnya. Perlu diketahui, sebelum upacara penguburan Rambu Solo digelar, mayat biasanya disimpan di dalam rumah sampai beberapa tahun! Biaya upacara Rambu Solo sangat mahal, jadi keluarga perlu mengumpulkan uang dulu.

Christ menawarkan kami untuk mengunjungi sebuah keluarga yang menyimpan dua buah mayat sekaligus di dalam rumahnya. Tapi saya dan Jan langsung berkata “tidaaaak!!!!”. Rasanya sudah terlalu banyak "kuburan" dan tengkorak yang kami lihat pada hari itu.

0 comments:

Post a Comment