13 November 2011

Guide to Experiencing the Real Wonder of Dubai

Sampul buku "Dubai Stopover"
Saya punya usul untuk lembaga New 7 Wonders. Bagaimana kalau mereka membuat pemilihan dengan kategori baru: "Seven Wonders of Modern World". Lomba ini memilih situs-situs penting hasil peradaban manusia yang dibangun setelah abad ke-20. Cukup menarik, bukan? Bagaimana Bernard Weber, Anda setuju dengan usul saya?

Kalau pemilihan itu benar-benar diadakan, saya yakin Dubai memiliki deretan panjang tempat-tempat menarik yang layak dimasukkan. Sebut saja misalnya gedung tertinggi di dunia, pulau buatan terluas di dunia, air mancur tertinggi di dunia, mal terbesar di dunia, indoor ski terluas di dunia, kepulauan buatan terluas di dunia, hotel tertinggi dunia, jaringan metro otomatis terpanjang di dunia, akuarium terbesar di dunia. Aduh, saya jadi lelah menulis kata-kata “ter...... di dunia”.

Dan jangan lupa, kota itu memegang rekor maha penting lain yang sampai kini belum tertandingi. Dubai tercatat sebagai kota dengan pembangunan paling cepat sepanjang peradaban umat manusia! Hanya dalam waktu kurang dari tiga dekade, gurun pasir kering nan tandus itu  bisa disulap menjadi salah satu kota metropolitan paling modern di dunia!

Selain rekor-rekor dunia yang serba superior, Dubai juga memiliki ikon arsitektur modern yang layak disejajarkan dengan Opera House di Sydney atau Empire State Building di New York. Siapa yang belum pernah melihat gambar Hotel Burj Al Arab yang bentuknya mirip kapal layar itu?

Burj Al Arab, ikon penting arsitektur modern
Anda boleh saja kagum dengan segudang rekor dunia serta hal-hal unik yang dimiliki Dubai. Namun, keajaiban Dubai sebenarnya adalah masyarakatnya yang multikultur. Bagi saya, itulah “Real Wonder of Dubai”. Siapa sangka, gurun pasir yang dulunya dihuni suku tradisonal Arab itu bisa menjelma menjadi salah satu kota paling multikultural di dunia.

Tahukah Anda, penduduk asli Dubai yang disebut Emirati hanya sekitar 10 persen saja. Sisanya adalah ekspatriat dari berbagai penjuru dunia. Dan meskipun Dubai berada di kawasan Timur Tengah yang sarat konflik dan dianggap konservatif, kota ini sangat liberal dan kosmolitan. Segala ras dan bangsa hidup berdampingan secara damai. Dubai layak disebut sebagai miniatur dunia!

Daya tarik Dubai makin bertambah karena lokasinya sangat strategis, menjadi penghubung antara dunia barat dan timur. Bagi orang Indonesia, Dubai sangat populer sebagai lokasi transit dalam penerbangan menuju Eropa, Timur Tengah dan belahan dunia lainnya. Meskipun begitu, sebagian orang Indonesia hanya sekadar transit saja di bandara, melewatkan kesempatan menikmati pesona Dubai yang sesungguhnya.

Bagi wisatawan Indonesia, Dubai belum sepopuler Singapura atau Hongkong. Ini bisa dimaklumi karena Dubai merupakan destinasi wisata yang relatif baru berkembang. Selain itu, masih sangat sedikit informasi wisata di Dubai yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Karena minimnya informasi ini, banyak wisatawan Indonesia melewatkan begitu saja kesempatan mengunjungi Dubai. Padahal, mereka sudah sering transit di kota itu.

Kalau Anda tertarik dengan wisata di Dubai, buku saya yang berjudul “Dubai Stopover: Panduan Wisata Transit di Dubai” sangat cocok dijadikan salah satu sumber referensi. Buku ini disusun bagi peminat wisata transit yang memiliki waktu singkat untuk menjelajahi Dubai. Semuanya dibahas secara lengkap. Mulai dari permohonan visa, cara memesan tiket agar bisa transit beberapa hari, daftar budget hotel dan budget restoran, objek wisata, panduan belanja, petunjuk menggunakan transportasi umum, peta-peta dan juga trik supaya bisa terbang gratis ke Dubai!

Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia
Anggapan yang mengatakan Dubai adalah destinasi wisata yang mahal tidak sepenuhnya benar. Dalam hal pilihan untuk budget traveler, Dubai tak kalah dengan Singapura atau Hongkong yang lebih dulu kondang. Ada banyak penginapan dengan tarif relatif terjangkau, bahkan dormitory ala backpacker juga tersedia. Harga makanan di Dubai juga tidak semahal yang dikira banyak orang. Dan satu hal lagi yang pasti disukai orang Indonesia, objek wisata di Dubai banyak yang gratis!

Jadi, siapa bilang jalan-jalan ke Dubai mahal? Karena itu, jangan ragu lagi untuk memanfaatkan waktu transit Anda dengan mengunjungi salah satu kota yang paling mengagumkan di dunia!

Buku “Dubai Stopover: Panduan Wisata Transit di Dubai” juga membahas sisi lain Dubai yang jarang ditulis majalah wisata. Di buku ini Anda bisa mendapatkan informasi mengenai Karama, Bur Dubai, Al Rigga, Satwa dan area kota lama Dubai. Wilayah tersebut dikenal sebagai tempat belanja murah, pusat jajan serta tempat berkumpul komunitas ekspatriat dari berbagai belahan dunia.

Oh ya, buku “Dubai Stopover: Panduan Wisata Transit di Dubai” juga memberi bonus panduan keliling Abu Dhabi dan Sharjah. Mau nonton balapan Formula 1 di Abu Dhabi? Baca dulu panduannya di buku ini! Atau ingin menjelajah pusat perbelanjaan dan kawasan historis di Sharjah? Semuanya bisa didapatkan hanya dalam satu buku!

Buku “Dubai Stopover: Panduan Wisata Transit di Dubai” diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, tebalnya 230 halaman ditambah bonus peta. Formatnya dibuat dalam bentuk buku saku yang mudah dibawa-bawa. Dijamin bisa jadi teman perjalanan yang praktis!

Buku ini bisa didapatkan di toko buku Gramedia mulai 30 November 2011. Bisa pula dipesan secara online melalui gramediashop.com dan bukukita.com.

0 comments:

Post a Comment