31 December 2012

Mengintip Isi Istana Bogor

Satu hal yang menarik dari istana Bogor adalah kehadiran ratusan rusa totol yang menghuni halamannya. Tapi bukan itu saja yang membuatnya istimewa. Kalau kita melongok bagian dalamnya, istana ini lebih mirip galeri seni dengan ratusan koleksi langka yang sebagian besar dikumpulkan Presiden Soekarno. Jangan kaget kalau sebagian koleksi ini ada yang memamerkan kemolekan tubuh perempuan.

Difasilitasi oleh lembaga sosial Masyarakat Cinta Bogor (MCB), saya mendapat kesempatan untuk melongok bagian dalam istana Bogor dengan ditemani pemandu dari rumah tangga kepresidenan. Peserta tur dibawa menjelajah Istana Bogor selama kurang lebih satu jam, serta  diperlihatkan bagian-bagian penting yang jarang orang tahu.

Menurut catatan sejarah, adalah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff yang pertama kali menggagas pembangunan istana Bogor. Ini bermula ketika sang gubernur jenderal mengunjungi sebuah kampung kecil di bekas wilayah Kerajaan Pajajaran yang terletak di selatan Batavia. Ia jatuh hati dengan suasana damai kampung itu, lalu memutuskan membangun vila peristirahatan di sana.

Kompleks vila itu mulai didirikan pada 1744 dan diberi nama “Buitenzorg” atau “Sans Souci” yang berarti tanpa kekhawatiran. Bangunannya dibuat bertingkat tiga dengan meniru arsitektur Blehheim Palace, kediaman Duke Malborough, dekat Oxford di Inggris.

Istana Bogor dipenuhi dengan karya seni indah yang sebagian besar dikumpulkan Presiden Soekarno
Seiring perjalanan waktu, kompleks vila ini terus diperluas hingga lebih cocok disebut istana. Suasananya yang sejuk dan hijau juga membuat para pejabat Hindia Belanda betah berlama-lama di istana Buitenzorg. Bahkan nama-nama besar seperti Herman Willem Daendels dan Sir Stanford Raffles pernah menjadi penghuni istana ini.

Gempa bumi yang mengguncang Bogor pada 1834 membuat istana Buitenzorg rusak parah. Namun pada 1850, istana ini dibangun kembali dengan merubuhkan gedung yang lama. Bangunannya tidak lagi dibuat bertingkat untuk menyesuaikan dengan kondisi daerah rawan gempa. Dan sejak 1870, istana Buitenzorg menjadi kediaman resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda sampai kekuasaan mereka direbut oleh tentara Jepang.

 Setelah kemerdekaan, istana Bogor digunakan Presiden Soekarno untuk menampung koleksi lukisan, patung, keramik, serta karya seni lainnya yang berjumlah lebih dari 800 buah. Sampai kini, benda-benda tersebut masih tersimpan rapi di istana Bogor. Itulah sebabnya, meski era pemerintahan terus berganti, istana Bogor tetap identik dengan Soekarno.

Saat menyusuri istana Bogor, waktu serasa diputar kembali ke masa jaya Presiden Soekarno. Betapa tidak, benda-benda koleksi Soekarno membuka kembali kenangan tentang beliau. Semuanya seolah berbicara tentang pribadi Soekarno, tentang perjalanan hidupnya, serta soal selera seninya yang berani menantang tabu.

Salah satu koleksi paling menarik di istana Bogor adalah lukisan besar berjudul “Pesta Pernikahan Rusia” yang digantung di ruang kerja presiden. Karya seniman Rusia dari akhir abad ke-19 ini nampak begitu hidup, seolah-olah seperti gambar tiga dimensi.

Pajangan lainnya yang cukup menarik adalah lukisan berjudul “Dalam Sinar Bulan” karya Basuki Abdullah yang menggambarkan sosok perempuan cantik berpakaian sari India. Menurut keterangan pemandu, sosok tersebut adalah Ratna Sari Dewi, salah satu istri Presiden Soekarno.

Lukisan ini terlihat agak misterius karena dipandang dari sisi mana pun, sorot mata dalam lukisan seolah-olah mengikuti kita. Saya sendiri pernah melihat foto lukisan ini di sebuah buku, tetapi melihatnya secara langsung benar-benar memberi kesan yang berbeda.

Di ruang perpustakaan presiden juga bisa dilihat boneka-boneka Jepang serta foto-foto presiden Indonesia dari semua periode. Buku-buku yang tersimpan di perpustakaan ini adalah koleksi Presiden Soekarno yang jumlahnya sekitar 800 buah.

Istana Bogor sedikit sekali menyimpan koleksi dari era sebelum Soekarno. Ini karena banyak koleksi berharga rusak atau dijarah saat pecah Perang Dunia Kedua. Tetapi ada satu koleksi cukup unik dari era sebelum perang yang disebut cermin seribu. Ini bukan cermin biasa karena kalau kita berkaca di depannya akan muncul bayangan yang sangat banyak. Konon, cermin ini juga bisa membuat orang awet muda, begitu kata pemandu istana.

Berdiri di depan cermin seribu juga berarti menginjakkan kaki di titik nol kilometer kota Bogor. Dari titik ini, ada garis lurus imajiner yang menghubungkannya dengan monas dan istana negara di Jakarta. 

Patung telanjang yang dipaksa memakai baju
 Hal menarik lainnya dari istana Bogor adalah patung-patung seukuran manusia yang menghiasi banyak sudut. Salah satunya bisa ditemui di selasar menuju bangunan tengah istana. Patung ini menggambarkan sosok perempuan tanpa busana, tetapi sekarang tidak lagi benar-benar telanjang karena sudah diberi “baju”. Pemandu kami sempat menyingkap kain penutup patung ini untuk memperlihatkan betapa halusnya karya seni tersebut dibuat.

Patung-patung yang bertebaran di halaman istana Bogor juga sangat menarik. Salah satu yang paling terkenal adalah patung Si Denok karya pematung Trubus. Menurut cerita pemandu, patung ini menggabungkan bagian tubuh terbaik dari beberapa orang yang menjadi modelnya. 

Inilah patung Si Denok yang terkenal itu
 Ketelanjangan rupanya bukanlah hal yang tabu bagi Soekarno, itu bisa dilihat dari karya-karya yang dikoleksinya. Tentang sikapnya ini, Soekarno bukan tidak pernah mendapat kritik. Menanggapi berbagai kritik, Soekarno kerap menyitir ungkapan penyair Lebanon Kahlil Gibran, “Orang yang melulu mengenakan moralitasnya sebagai pakaian, justru yang paling baik baginya adalah telanjang”.

Bagi Soekarno, tidak semua ketelanjangan itu amoral. Menurutnya lagi, keindahan tubuh perempuan tidak seharusnya melulu dipandang dari segi moralistik, tetapi juga dari aspek estetik. Bagaimana menurut Anda?

Baca juga:

0 comments:

Post a Comment