Beranda

    Social Items

Kuliner Thailand sangat identik dengan daging dan makanan laut. Di Thailand, hidangan vegetarian biasanya hanya tersedia di restoran khusus dan pelanggannya hanya orang-orang tertentu pula. Tapi ada satu festival yang membuat Thailand tiba-tiba berubah menjadi surga bagi vegetarian. Saat festival ini digelar, mulai warung kaki lima sampai restoran kelas atas akan menyediakan makanan tanpa daging itu.

Festival Vegetarian ala Thailand

Sejak era 1940-an, Sangkhlaburi sudah dibanjiri pengungsi dan pelarian politik asal Myanmar. Inilah yang menjadikan kota kecil di bagian barat laut Thailand tersebut punya atmosfer yang unik. Bak Burma mini di Thailand, Sangkhlaburi jadi contoh menarik bagaimana kelompok pendatang bisa hidup berdampingan dengan warga asli. Tetapi, keunikan ini tidak membuat Sangkhlaburi jadi kebanjiran turis seperti tempat-tempat lain di Thailand.

Sangkhlaburi, Sisi Lain Thailand yang Lengang Turis

Kathmandu adalah kampung raksasa yang sesak dan semrawut. Meski begitu, ada sisi lain yang membuat ibukota Nepal ini punya pesona tersendiri. Hanya saja, Anda perlu sedikit merubah cara pandang untuk menikmatinya.

Kathmandu yang Kusut-masai, tapi Eksotis

Bayangkanlah kejadian ini. Anda sudah terburu-buru datang ke bandara supaya bisa melakukan check-in tepat waktu, tapi setelah berada di ruang tunggu malah mendapat pengumuman bahwa pesawat ditunda. Tentu menjengkelkan. Selain waktu terbuang percuma karena harus menunggu lama di bandara, pertemuan bisnis atau acara keluarga yang penting bisa jadi tak bisa Anda hadiri.

Kiat Menghindari Penundaan Penerbangan

Saat mengunjungi negara miskin atau negara berkembang, Anda mungkin akan sering menemui pengemis dan gelandangan. Bahkan di negara yang tergolong kaya sekalipun, masih saja kita menemukan orang-orang yang tidak beruntung ini.

Saat Turis Harus Berhadapan dengan Pengemis

Banyak rumor yang beredar mengenai Sumba. Ada anggapan kalau wilayah Sumba bagian barat itu kurang aman, banyak rampok katanya. Itu pula yang menyebabkan jalan-jalan sendirian alias solo backpacking tidak dianjurkan. Konon, warga Sumba barat yang acapkali membawa parang ke mana-mana suka memeras wisatawan. Apakah ini nyata atau sekedar cerita di media sosial yang dilebih-lebihkan?

Selain itu, transportasi umum yang masih sulit juga membuat Sumba makin tak dilirik solo traveler. Minimnya transportasi umum ini memang dirasakan hampir semua tempat wisata di Indonesia, tak hanya di Sumba saja. Padahal, solo traveling sudah jadi tren global saat ini. Indonesia telah kehilangan kue jutaan wisatawan karena mengabaikan hal ini. Semoga saja masalah transportasi umum ini mendapat perhatian serius oleh aparat berwenang.

Dengan berbagai kendala tersebut, masih bisakah menjelajah Sumba sendirian dengan bujet terbatas? Asal direncanakan dengan cermat, menurut saya sangat bisa!

Rutenya mulai dari mana?

Sumba lebih kecil dari Flores, jadi sebenarnya cukup gampang menyusun rencana perjalanan ke pulau ini. Ada dua pintu masuk ke Sumba, yakni lewat Waingapu dan Tambolaka. Dua kota besar di Sumba ini belum memiliki penerbangan langsung dari Jakarta. Kita harus transit dulu di Denpasar, Kupang atau Ende.

Bagi yang ingin menempuh lewat jalur laut dengan ferry penyeberangan ASDP, bisa masuk dari Waikelo yang jaraknya sangat dekat Tambolaka. ASDP melayani rute Sape-Waikelo 3 kali seminggu. Kapal Pelni sebagian besar berlabuh di Waingapu, namun jadwalnya tak sesering ferry ASDP.

Perlu diperhatikan pula, ferry penyeberangan ASDP tak beroperasi sepanjang tahun karena adanya bahaya gelombang tinggi. Cek melalui situs ASDP untuk mengetahui jadwal keberangkatan yang lebih detail.


Kapan sebaiknya berkunjung?

Bagi yang pencinta panorama sunset, sunrise dan milky way, bulan Juni-Oktober adalah waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Sumba. Pada bulan-bulan ini kita bisa menikmati langit yang biru dengan bintang-bintang terang di waktu malam. Air terjun juga akan lebih jernih seperti yang Anda lihat di foto-foto Instagram.

Namun datang di musim hujan juga ada kelebihannya. Musim hujan di Sumba menyuguhkan panorama bukit-bukit dan savana yang serba hijau, nampak sangat fotogenik untuk dipotret. Di musim kemarau, sering ada bekas kebakaran si padang savana yang membuat foto menjadi tak menarik. Selain itu, di musim penghujan cuaca juga lebih sejuk sehingga panorama alam bisa dinikmati dengan lebih nyaman.

Puncak musim hujan berlangsung sekitar Desember-Februari. Intensitas hujan cukup tinggi pada bulan-bulan ini, namun biasanya hujan tak berlangsung lama sehingga tak terlalu mengganggu acara jalan-jalan. Waktu paling ideal sebenarnya sekitar Maret-Mei. Intensitas hujan tak terlalu tinggi, namun kita masih bisa melihat panorama savana yang hijau. Kapal ferry penyeberangan ASDP juga biasanya sudah beroperasi lagi sekitar Maret, sehingga makin memudahkan Anda yang ingin masuk ke Sumba lewat jalur laut.

Baca juga: Siapa Bilang Jalan-jalan ke Sumba Mahal?

Pilihlah akomodasi di pusat kota

Di musim sepi turis, banyak resort di Sumba yang banting harga. Penginapan di pinggir pantai sering memasang tarif mulai Rp300 ribuan saja. Namun kalau Anda solo traveler, lupakan menginap di resort yang lokasinya terpencil ini. Karena lokasinya jauh, biaya taksi menuju resort bisa jadi lebih mahal dari tarif menginap per malam.

Bagi solo backpacker, disarankan menginap di pusat kota yang sudah memiliki banyak fasilitas. Ada 3 tempat yang bisa dijadikan basis Anda, yakni Tambolaka, Waikabubak dan Waingapu. Koneksi internet yang baik di pusat kota juga akan memudahkan Anda melakukan riset perjalanan melalui internet, serta tentunya menghubungi keluarga di rumah.

Angkutan umum di Sumba

Lebih irit dengan ojek dan angkutan umum

Meski transportasi umum di Sumba tergolong langka, dengan perencanaan perjalanan yang cermat, Anda tetap masih bisa menjelajahinya tanpa menyewa mobil. Menggunakan transportasi umum tentunya jauh lebih irit daripada menyewa mobil untuk sendiri.

Bus menuju Waingapu dan Waikabubak biasanya ngetem di sekitar pasar Tambolaka, tak jauh dari Hotel Sinar Tambolaka. Perjalanan dengan bus menuju Waikabubak memakan waktu sekitar 2 jam, sedangkan Waingapu bisa dicapai dalam waktu sekitar 4 jam. Di Waingapu, bus umum biasa ngetem di depan pasar Matawai. Sayangnya, bus-bus ini banyak yang sudah tidak layak jalan. Penumpangnya juga sering penuh sampai harus duduk di atap.

Pilihan yang lebih nyaman bisa menggunakan travel. Setahu saya, hanya ada satu perusahaan travel di Sumba yakni Travel Sinar Lombok. Travel ini melayani jurusan Tambolaka-Waikabubak-Waingapu dua kali sehari, berangkat pukul 8 pagi dan 2 siang. Tarif travel Tambolaka-Waikabubak sebesar Rp40 ribu, dan Tambolaka-Waingapu Rp80 ribu. Pesan langsung melalui nomor Whatsapp +6285239006666. Jangan memesan lewat hotel karena biasanya mereka menarik komisi yang besar.

Untuk mengunjungi tempat-tempat wisata, Anda bisa menyewa motor atau memakai jasa ojek. Hotel Sinar Tambolaka di Tambolaka dan Hotel Jemmy di Waingapu menyediakan penyewaan motor dengan tarif Rp 100 ribu per hari. Motor yang mereka sewakan jenis kopling, bukan motor matik. Ojek juga cukup mudah didapat di pusat kota. Kalau kesulitan mendapatkan ojek, Anda bisa menghubungi pegawai hotel untuk mendapat bantuan.

Santai saja, tak perlu kunjungi semua tempat

Karena tidak menyewa mobil, ruang gerak Anda tak seleluasa mereka yang ikut Open Trip. Jadi jangan membuat daftar panjang tempat-tempat yang ingin dikunjungi ala Open Trip karena bakal menyulitkan Anda sendiri. Toh sebenarnya tempat-tempat tersebut banyak yang mirip, jadi Anda tak perlu mengunjungi semuanya.

Sebagai contoh, Kampung Adat Ratenggaro di Sumba Barat cukup sulit dijangkau dengan sepeda motor dan jaraknya lumayan jauh dari pusat kota. Sebagai gantinya, Anda bisa mengunjungi Kampung Tarung atau Kampung Pra Ijing yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki saja dari pusat kota Waikabubak. Bagi yang tertarik dengan air terjun, jalanan menuju air terjun Lapopu dan air terjun Tanggedu belum begitu bagus. Sebagai alternatif, cukup kunjungi air terjun Waimarang yang kondisi jalannya sudah bagus dan bisa dijangkau dengan motor sewaan atau ojek dari pusat kota Waingapu.




A post shared by Hairun✈pelancongirit.com (@pelancongirit) on

Jangan salah paham kalau ada yang bawa parang

Di kawasan Sumba Barat, Anda akan sering menjumpai lelaki yang berjalan ke mana-mana membawa parang. Hal tersebut bukan untuk menakut-nakuti, tapi hanya sekadar kebiasaan penduduk setempat. Parang ini sifatnya seperti aksesoris, semacam simbol maskulinitas lelaki yang sudah akil baliq.

Rumor tentang “kebengisan” orang Sumba Barat menurut saya sangat dilebih-lebihkan. Saya pernah membaca sebuah posting di Facebook yang bercerita tentang pengalamannya “diperas” oleh warga yang membawa parang di Danau Weekuri. Kenyataannya, pengunjung memang harus memberi donasi setelah mengunjungi tempat tersebut. Memang tidak ada tiketnya karena tempat-tempat wisata di Sumba sebagian besar dikelola langsung oleh warga. Namun selalu ada buku tamu di mana pengunjung menuliskan jumlah donasinya.

Saya sendiri melihat banyak lelaki yang membawa parang di Danau Weekuri serta tempat-tempat lainnya di Sumba Barat. Bahkan ada yang makan di warung bakso saja masih membawa parang. Namun sikap mereka biasa saja, jauh dari gambaran “bengis” seperti cerita-cerita di media sosial. Bahkan banyak yang ramah dan tampangnya ganteng pula, hehe…

Baca juga: Rute Trekking di Nepal Versi Saya

Tip Merencanakan Solo Backpacking ke Sumba

Indonesia memang indah, tapi biaya jalan-jalan di negeri sendiri mahal! Begitu keluhan yang sering kita dengar. Apalagi ke Sumba, yang sampai sekarang dianggap destinasi eksklusif. Siapa yang belum pernah mendengar tentang Nihi Sumba, resort super mewah yang sering dikunjungi selebritas dunia itu?

Tapi kalau ada niat, selalu ada jalan untuk menjelajah negeri sendiri dengan bujet terbatas. Beberapa tip berikut ini kiranya bisa membantu Anda untuk merencanakan perjalanan bujet hemat ke Sumba.

Ikut Open Trip, Sharing Cost, atau Solo Backpacking?

Mana yang paling hemat akan bergantung pada Anda sendiri. Bagi yang masih buta mengenai Sumba dan tak punya waktu untuk riset informasi, ikut open trip adalah pilihan yang paling masuk akal. Informasi wisata Sumba juga masih minim, jadi bakal menyulitkan kalau Anda tak biasa melakukan perjalanan mandiri.

Umumnya sharing cost lebih murah dari open trip, tapi mencari partner perjalanan ke Sumba bukanlah perkara gampang. Sebaiknya cari partner perjalanan yang sudah dikenal karena kemungkinan Anda perlu mentransfer uang lebih dulu untuk uang muka sewa mobil dan akomodasi. Kendaraan sewa biasanya bisa muat sampai 7 orang. Jadi makin banyak peserta, makin murah biayanya.

Tak mau repot mencari partner perjalanan, tapi bujet Anda sangat terbatas? Mengapa tak mencoba solo backpacking? Bagi yang ingin menjelajah Sumba sendirian, baca artikel Tip Merencanakan Solo Backpacking ke Sumba.


Tiket pesawat mahal? Naik kapal saja!

Bagi yang punya waktu longgar, mencapai Sumba dengan ferry penyeberangan maupun kapal Pelni ternyata tak sesulit yang dibayangkan banyak orang. Ini bisa jadi alternatif transportasi yang lebih hemat mengingat akhir-akhir ini harga tiket pesawat domestik naik drastis.

Angkutan laut yang paling bisa diandalkan adalah kapal ferry ASDP rute Sape-Waikelo yang berangkat 3 kali seminggu. Waktu perjalanannya sekitar 7 jam dengan ongkos Rp76 ribu saja. Kapal ferry ini berangkat tengah malam dari Sape dan tiba keesokan paginya di Waikelo. Untuk rute sebaliknya, kapal ferry berangkat pagi hari sekitar pukul 9 dan tiba di Sape sore hari.

Saat musim gelombang tinggi sekitar Desember-Februari, kapal ferry ini tidak beroperasi. ASDP juga mengoperasikan ferry rute Waingapu-Ende, Waingapu-Sabu-Rote-Kupang, dan Waingapu-Aimere. Informasi jadwalnya bisa dilihat di situs resminya indonesianferry.co.id atau bisa ditanyakan langsung melalui akun Twitter dan Instagram ASDP.

Untuk kapal Pelni, pilihan rutenya lebih banyak. Ada KM. Awu yang berangkat dari Surabaya, Bali (Benoa) dan Bima. Lalu ada KM. Egon dari Lembar (Lombok), serta KM. Wilis juga berangkat dari Bima. KM. Awu juga melayani rute Ende-Waingaipu dan ada beberapa kapal lainnya yang mengoperasikan rute Labuan Bajo-Waingapu.

Mengecek jadwal kapal Pelni melalui situsnya barangkali bisa bikin Anda sedikit frustasi. Jadwal kapal biasanya baru keluar 2-3 minggu sebelum keberangkatan. Tapi kebanyakan rute kapal Pelni beroperasi tiap 2 minggu sekali. Jadi meskipun jadwal resminya belum keluar, tanggal keberangkatan bisa diperkirakan. Informasi mengenai jadwal kapal Pelni bisa dilihat di situs resmi mereka pelni.co.id.
 

Harga makanan ternyata cukup terjangkau

Berbeda dengan anggapan banyak orang, harga makanan di Sumba ternyata cukup murah, tak beda jauh dengan Pulau Jawa. Warung makan cukup mudah ditemui di pusat kota Waitabula, Waingapu dan Waikabubak. Sebagian besar menunya halal karena warung-warung ini dikelola para pendatang dari Jawa dan Sulawesi. Nasi campur dengan lauk ikan harganya sekitar Rp15 ribu. Makanan yang populer di tempat lain seperti bakso, mi ayam dan nasi kuning juga mudah didapat.

Namun di tempat-tempat wisata masih jarang ada penjual makanan. Kalaupun ada lapak penjual, biasanya hanya menyediakan mi instan. Jadi pastikan selalu membawa nasi kotak untuk makan siang supaya tidak kelaparan di tempat wisata. Nasi kotak ini bisa dipesan di hotel maupun di warung-warung.

Warung makan mudah ditemui di pusat kota Tambolaka, Waikabubak dan Waingapu

Warung makan biasanya juga mencantumkan harga menunya

Hanya sedikit pilihan akomodasi

Penginapan bujet di Sumba bisa dihitung dengan jari, juga belum ada hostel yang menyediakan dormitory. Tarif penginapan di Sumba juga lebih mahal dibanding hotel sekelas di destinasi yang lebih populer. Di Tambolaka misalnya, kita harus membayar sekitar Rp200 ribuan untuk kamar yang sangat sederhana, tanpa AC dan kamar mandinya tak begitu bagus.

Jadi turunkan ekspektasi Anda dengan hotel-hotel di Sumba, kecuali Anda mampu membayar jutaan rupiah per malam untuk menginap di resort mewah. Luangkan waktu lebih banyak di luar hotel karena kondisi kamar bisa jadi kurang nyaman buat Anda.

Internet di Sumba lumayan lancar

Jaringan 4G sudah tersedia di kota besar seperti Tambolaka, Waikabubak dan Waingapu. Meski jaringan 4G ini hanya menjangkau kawasan kota, koneksi internet di Sumba sudah lumayan bagus. Kita tak akan kesulitan memutar video Youtube atau sekadar mengecek media sosial. Untuk wilayah Sumba Barat, operator yang beroperasi hanya XL dan Telkomsel. Sedangkan di Sumba Timur (sekitar Waingapu), operator yang sudah beroperasi XL, Indosat dan Telkomsel. Jaringan selular ini tak hanya menjangkau kota-kota besar, tapi sudah masuk ke wilayah cukup terpencil seperti Kodi dan Lamboya.

Siapkan anggaran untuk donasi

Sebagian besar objek wisata di Sumba dikelola sendiri oleh warga setempat. Pengunjung tak diberi karcis, tapi hanya disuruh mengisi buku tamu lalu menuliskan jumlah donasi yang diserahkan. Jumlah donasi ini sifatnya sukarela, namun tiap grup biasanya memberi Rp50 ribu.

Sebelum menyerahkan uang, pastikan Anda mengisi buku tamu tersebut lebih dulu. Kalau tak ada buku tamu, bisa dipastikan itu pungli!


Jangan memberi uang pada anak-anak

Masih banyak daerah-daerah di Sumba yang tergolong kawasan tertinggal. Kemiskinan  terlihat sangat menyolok di Kabupaten Sumba Barat Daya. Tak jauh dari tempat-tempat wisata kita dengan mudah bisa melihat rumah-rumah gubuk yang tak memiliki jaringan listrik dan toilet. Sungguh ironis, mengingat Sumba Barat Daya adalah kawasan yang paling subur di Pulau Sumba, serta industri pariwisatanya sedang berkembang sangat pesat.

Hal yang paling miris adalah anak-anak yang disuruh orangtuanya berjualan di tempat wisata saat jam sekolah. Cara berjualan mereka juga agak memaksa. Meskipun kita sudah bilang berkali-kali tak berniat membeli, mereka akan terus mengikuti sampai kita jatuh iba. Perlu disadari bahwa cara berdagang seperti ini adalah bentuk eksploitasi anak-anak. Kalau kita membeli, berarti kita mendukung eksploitasi anak-anak tersebut.

Jika Anda berniat membantu, sebaiknya langsung memberi makanan, pakaian, atau alat-alat tulis supaya mereka terdorong untuk sekolah.

Baca Juga: Menjajal Rute Trekking Singkat di India

Siapa Bilang Jalan-jalan ke Sumba Mahal?

Would it be possible to explore Sumba island on low-budget? Well, this question is always asked by many people, especially budget travelers or young backpackers wanting to visit the exotic island of Sumba. It's understandable though, because Sumba is still considered an exclusive destination, a remote island that only celebrities can afford to visit.

But, in fact, that’s not actually true. It's definitively possible to experience Sumba’s unique cultures and amazing landscapes without destroying your bank account. Here are few tips on how to plan your budget trip to Sumba island!

Do your own research

Joining group tour which often called “open trip” might not be your cheapest option. But for inexperienced traveler or simply don’t have time for travel research, joining open trip is the most reasonable choice. Conventional guidebooks such as Lonely Planet don’t have more than few pages about Sumba. And they are usually already outdated at the time of going to press.

Therefore, doing travel research on Sumba is not an easy task. You must actively collect the latest information from blogs and websites. You can also join Facebook group named Backpacker Indonesia where you can ask question to other members who just completed their trip. Based on my experience, this group has a very active community and able to answer almost all of my questions.

Amazing lanscape of Sumba

Find your travel partner

Due to lack of public transport, exploring remote area like Sumba will be very expensive for solo traveler. It’s a good idea to find travel partner to share transportation costs. Renting car in Sumba will costs you at least 800,000 rupiah per day, relatively higher compare to more popular destinations like Bali or Lombok.

Having travel companion will also help you to lower accommodation costs. Accommodation option is very limited in Sumba. There's no hostel with dormitory room that easily found in popular destinations like Bali or Lombok. Most part of Sumba is also still quiet, you are unlikely to meet other travelers. Frankly speaking, Sumba is not a friendly destination for solo traveler.

But, how to find travel buddy? There are plenty of travel communities on the internet to find travel partner. For domestic trip, I often use backpackerindonesia.com, a website that allows users to place their ads for finding travel buddy. This site has tens of thousands members, so your chances of getting partner are high. Another well-known community travel website is backpackerjakarta.com. Popular among young backpackers in Jakarta, this website is great way to find travel partners.

Public transport in Sumba

Bring your motorcycle and just get on the ferry!

Rising price of domestic flights have been greatly affected travelers to choose international destinations than exploring their own country. This is very ironic because longer international flights are often sold at lower prices.

Alternatively, you can reach Sumba by boat or ferry crossing. Yes, it takes a lot longer, but it will save you a lot of money!

Reaching Sumba by ferry crossing might be easier than you think. Regular ferry run by ASDP departs Sape in Sumbawa three times per week to Waikelo in West Sumba. It just costs 69,000 rupiah, departs every Monday, Wednesday and Friday at 9 PM. Your sea journey takes 9 hours, and it’s possible to bring your own motorcycle with added charge. Please visit indonesianferry.co.id for more information.

If you couldn’t find a travel buddy, riding your own motorcycle is the best way to explore Sumba on a low budget. Yet, motorcycle rental also could be found in Tambolaka and Waingapu. For group of more than 4 people, renting car will be more comfortable.







A post shared by Hairun✈pelancongirit.com (@pelancongirit) on

Make a simple itinerary

Tourist attractions in Sumba are very scattered, so avoid a long list of places to visit. You can travel easier and cheaper with a simple itinerary. Many tourist attractions in Sumba actually are pretty similar, you can skip a few of them. For example, reaching Ratenggaro Village in isolated westernmost part of Sumba could be challenging and time-consuming. Instead, you can visit Tarung Village that can be reached on foot from the downtown of Waikabubak.

Don’t forget to make hard copy of your itinerary. You must remember that sometimes smartphones die and we don't always have access to wifi when traveling. This is where the hard copy comes in. In your itinerary, make a simple list of places to visit, hotel addresses and other important information.

Prepare your lunch

Contrary to popular belief, food price is affordable in Sumba. Mixed rice or nasi campur at local eatery only costs around 15,000 rupiah. Food stalls are easy to find on the main street of Waingapu and other big cities. These local eateries mostly owned by Muslim migrants from Java.

However, you are unlikely to find food stalls on the tourist spots. There are only few visitors, thus opening food stalls probably not a profitable business. So bring your own food. It is very time-consuming to go back to the city centre just for lunch.


 

Dealing with poverty in Sumba

Sumba is one of the poorest region in Indonesia where rampant poverty is very visible. In recent years, massif development of tourism infrastructures have been changing Sumba island rapidly. Tourist attractions now can be accessed by ease road. But when you visit local villages, development is still very lacking. Many villagers still don’t have access of clean water and electricity. This situation giving a contrast view of a paradise island as Sumba is marketed.

I have never been met the situation in Indonesia where children begging money from tourists. Unfortunately, this sad situation is happening in Sumba. If you intend to help, giving food, cloths, or stationery is highly advisable. These children even begging money during school time. So by giving them money, you actually discourage them going to school.

Planning A Backpacking Trip to Sumba: Explore Exotic Island on A Budget

Masih ingat adegan akhir film 3 Idiots saat Pia bertemu Rancho? Nah, kalau Anda penggemar film 3 Idiots, pasti masih terbayang panorama indah sebuah danau yang melatari adegan tersebut. Pemandangan danau ini sungguh berbeda dengan gambaran mainstream mengenai India yang melulu soal Taj Mahal, tarian Bollywood, atau perkampungan kumuh. Dan setelah berhasil melihatnya secara langsung, saya dibuatnya semakin takjub....

Penduduk lokal menyebut danau ini sebagai Pangong Tso, yang artinya danau di tengah padang rumput. Nampak indah di adegan film, namun untuk mencapainya ternyata tidaklah mudah. Selain terletak di ketinggian yang ekstrem, rute menuju Pangong Tso juga sangat berbahaya. Kita terlebih dahulu harus menyisir jalur yang penuh kelokan tajam dengan jurang mengaga di kiri-kanan jalan!

Baca juga: Apa yang Menarik di Ladakh?

Dari kota Leh, perjalanan menuju Pangong Tso memakan waktu sekitar 5 jam. Leh adalah kota terbesar di Ladakh, sebuah kawasan di negara bagian Jammu and Kashmir yang terletak di India utara. Leh menjadi menjadi basis wisatawan karena menyediakan banyak pilihan akomodasi serta mudah dijangkau dari kota-kota besar di India.

Perjalanan dari Leh menuju Pangong Tso menjadi cerita tersendiri karena medan yang dilalui sungguh-sungguh dramatik. Setelah hampir 3 jam menyisir jalur sempit di antara bukit-bukit batu terjal, sopir memberi tahu bahwa kami akan segera melewati Changla Pass. Tempat ini berada pada ketinggian yang tak main-main, yakni 5300 meter dari permukaan laut. Pada ketinggian ini, oksigen begitu tipisnya sehingga beberapa orang bisa mengalami altitude sickness yang ditandai gangguan mual, pusing, muntah-muntah, atau bahkan kehilangan kesadaran.

Panorama di sekitar Changla Pass, keren tapi juga bikin ngeri!
Bermain dengan marmut liar.
Pemandangan Changla Pass bisa membuat kita terpesona, sekaligus ngeri. Salah sedikit saja, kendaraan kita bisa terperosok ke jurang. Namun, ini juga memberi pelajaran bahwa ada saatnya manusia begitu lemah ketika berhadapan dengan kekuatan alam. Bayangkan kalau gunung pasir raksasa yang menyelimuti Changla Pass itu tiba-tiba longsor, pasti kami semua tak akan selamat. Tapi, saya yakin tangan Sang Pencipta tidak diam. Dia akan selalu melindungi orang-orang yang berani mengambil resiko untuk mengagumi ciptaan-Nya.

Setelah melewati Changla Pass, pemandangan berganti dengan padang rumput luas. Akhirnya saya jadi mengerti mengapa Pangong Tso disebut sebagai danau di tengah padang rumput. Di tengah padang rumput ini juga bisa ditemui marmut liar yang hidup di habitat aslinya. Sayangnya, banyak pengunjung mengganggu hewan liar ini. Ada yang mencoba mengelus-elusnya, juga memberinya makan dengan biskuit. Padahal, hewan liar ini bisa mati kalau diberi makanan yang tak sesuai habitat aslinya.

Baca juga: Backpacking ke Georgia, Ajib Murahnya!

Setelah menjalani perjalanan yang melelahkan, akhirnya kami tiba di Pangong Tso. Begitu sampai, hal pertama yang membuat saya terkesima adalah warna biru kelam Pangong Tso. Air danau berwarna biru gelap yang terlihat di adegan film 3 Idiots ternyata benar-benar asli, bukan hasil rekayasa kamera! Gunung-gunung gersang yang mengelilingi Pangong Tso juga membuatnya terlihat mistis.

Tak hanya cantik di Instagram, Pangong Tso menawan dari segala sudut.
Kandungan mineral yang terkandung dalam air danau membuat Pangong Tso berwarna biru gelap. Namun warna ini juga bisa berubah. Di pagi hari, Pangong Tso akan terlihat biru muda atau kehijauan. Lalu menjelang matahari terbenam, warnanya berubah menjadi kecoklatan. Selain itu, Pangong Tso juga menjadi salah satu danau asin yang tertinggi di dunia.

Banyak yang kurang tahu kalau Pangong Tso menjadi wilayah sengketa antara Tiongkok dan India. Hanya sepertiga bagian Pangong Tso yang menjadi milik India, sisanya menjadi bagian Tibet atau kawasan tak bertuan karena masih dalam sengketa. Demi alasan keamanan pula, pengunjung tak diperkenankan berenang atau berlayar di danau. Kehadiran tentara India juga terlihat sangat menyolok. Sepanjang perjalanan menuju Pangong Tso kita akan menemui banyak pos militer.

Banyak hal yang kita temui di Pangong Tso segera saja mengingatkan pada film 3 Idiots. Restoran-restoran di pinggir danau dinamai seperti cerita di film, ada Rancho Café, 3 Idiots Restaurant dan Yellow Vespa Restaurant. Dan yang paling seru, wisatawan bisa berpose dengan vespa kuning yang dipakai Pia tepat di lokasi syuting film 3 Idiots. Biayanya hanya 50 rupee saja (sekitar Rp 10 ribuan), dan pengunjung bisa berpose sepuasnya.

Banyak hal yang ditemui di Pangong Tso akan mengingatkan kita pada film 3 Idiots.




A post shared by Hairun✈pelancongirit.com (@pelancongirit) on
Sekarang ini banyak sekali tempat-tempat wisata yang hanya nampak cantik di Instagram, tapi aslinya tak begitu. Nah, Pangong Tso ini berbeda, tempat ini terlihat keren dari segala sudut. Fotografer paling amatir sekalipun tak akan kesulitan membuat foto-foto bagus. Danau ini malah lebih keren dari yang terlihat di film karena kita bisa merasakan langsung aura mistisnya. Pendek kata, meski harus menempuh perjalanan jauh nan berbahaya, saya tak menyesal datang ke Pangong Tso!

Baca juga: Gratis Keliling Bangkok dengan Bus Ini

Bernostalgia ke Tempat Syuting Film 3 Idiots

Tanpa terasa, kita sudah memasuki bulan Desember dan sebentar lagi akan merayakan tahun baru. Nah, bulan Desember ini menjadi awal musim dingin di negara-negara belahan utara. Musim dingin artinya bisa melihat salju. Namun panorama salju tak hanya bisa dinikmati di Eropa atau Kanada. Tak perlu terbang jauh-jauh, di India pun kita bisa menikmati wisata salju yang tak kalah keren.

Beberapa tahun terakhir, Kashmir makin populer bagi pelancong Indonesia yang ingin menikmati salju di India. Gulmarg, Sonamarg dan Pahalgam agaknya sudah jadi tempat yang wajib dikunjungi di Kashmir. Panorama pegunungan bersalju bak Switzerland di Asia yang disuguhkan tempat-tempat ini jadi daya pikat bagi orang Indonesia yang tinggal di kawasan tropis. Pendek kata, ingat salju di India, orang langsung membayangkan Kashmir.

Baca juga: Cara Mendapatkan Visa India secara Gratis

Namun, salju di India tak hanya bisa dinikmati di Kashmir. Ada tempat-tempat lainnya yang tak kalah keren, serta menawarkan atmosfer budaya yang berbeda dengan kawasan Kashmir. Beberapa lokasi sangat mudah dicapai dari New Delhi. Misalnya Manali dan Dharamsala, bisa dijangkau dengan bus malam saja. Kita bisa berangkat malam hari dari New Delhi, lalu tiba esok paginya sehingga bisa menghemat waktu. Bandingkan dengan perjalanan lewat darat ke Kashmir yang setidaknya butuh waktu 2 hari.

Bagi yang punya waktu liburan singkat tapi tetap ingin menikmati salju di India, agaknya beberapa lokasi berikut bisa dipertimbangkan.

Manali
Saya sudah 2 kali mengunjungi kota kecil di kawasan Himachal Pradesh ini. Kunjungan pertama saat musim dingin, dan yang kedua pada musim panas. Manali menyuguhkan panorama yang benar-benar berbeda di kedua musim tersebut. Tapi kalau ingin melihat salju, tentu saja Anda harus datang pada musim dingin.

Kalau Kashmir punya Gulmarg, Manali punya Solang Valley. Pemandangannya hampir mirip, berupa gunung-gunung berselimut salju dan pohon-pohon pinus. Bagi yang ingin melihat panorama yang lebih dramatik, Rohtang Pass boleh dituju. Karena jalurnya yang ekstrem, rute darat menuju Rohtang Pass biasanya sudah ditutup pada awal Desember dan baru dibuka lagi sekitar akhir April. Saya sendiri mengunjungi Rohtang Pass pada awal November saat salju sudah mulai turun. Saat rute darat ini ditutup karena salju tebal, wisatawan tetap bisa mengunjungi Rohtang Pass. Tapi tak bisa naik sampai ke puncak, hanya berhenti di snow point saja atau tempat untuk melihat salju.

Oh ya, di musim panas Rohtang Pass juga menjadi titik persinggahan rute darat Manali-Leh. Di musim dingin jalur ini sepenuhnya ditutup sehingga wisatawan hanya bisa mencapai Ladakh menggunakan pesawat udara.

Spiti Valley
Panorama yang disajikan Spiti Valley tak kalah dramatiknya dengan Rohtang Pass. Tapi rute menuju Spiti Valley sangat menantang, jadi jangan coba-coba ke sini kalau Anda belum punya persiapan matang. Spiti Valley juga bukan lokasi wisata ala piknik karena fasilitas akomodasi di sini masih terbatas.

Dari Manali, perjalanan menuju Kaza, desa terbesar di kawasan Spiti Valley, memakan waktu sekitar 5 jam. Bus lokal rute Manali-Kaza berangkat setiap hari pukul 4 pagi. Tersedia pula sharing jeep yang waktu keberangkatannya bisa dinegosiasikan. Nah, waktu terbaik untuk mengunjungi Spiti Valley bukan pada puncak musim dingin. Sekitar awal November, pengunjung sudah bisa menikmati salju yang masih segar. Awal Desember sampai Maret jalur darat akan sering ditutup karena tertutup salju tebal. Pada pertengahan Maret rute darat mulai lancar lagi, dan salju pun masih bisa dinikmati di kawasan ini.

Belum ada salju ketika saya trekking di sini pada bulan November.
Lihat bedanya saat bulan Februari ketika salju sudah menyelimuti kawasan trekking Triund. (sumber foto: traveltriangle.com)
Dharamsala
Dharamsala yang dikenal sebagai rumah pengungsian Dalai Lama juga bisa jadi alternatif menarik bagi yang ingin melihat salju di musim dingin. Suhu musim dinginnya selalu berada di bawah titik beku. Tapi tujuan Anda memang ingin menikmati musim dingin, bukan?

Saya mengunjungi Dharamsala pada awal November saat belum ada salju turun. Namun dinginnya sudah mulai menggigit, terutama di malam hari. Di Dharamsala, saya sempat menjajal rute trekking singkat yang disebut Triund. Bayangkan betapa cantiknya kawasan Triund saat salju menutupi kawasan ini.

Baca juga: Menjajal Rute Trekking Singkat di Dharamsala

Ladakh
Bicara tentang wisata salju di India, pastinya kurang lengkap tanpa menyinggung Ladakh. Kawasan yang disebut Tibet di India ini ramai dikunjungi saat musim panas. Namun bagi yang ingin menikmati suasana Ladakh yang berbeda, mengapa tak berkunjung sat musim dingin?

Bukan hanya salju yang bisa dilihat saat musim dingin di Ladakh. Danau Pangong yang jadi tempat syuting film 3 Idiots itu akan sepenuhnya membeku! Suhu dingin yang ekstrem membuat air danau ini beku sampai ke dasarnya sehingga aman digunakan sebagai arena ice skating. Tiap musim dingin bahkan digelar festival ice skating di danau yang punya panorama menakjubkan ini.

Saya sendiri memilih datang ke Ladakh saat musim panas. Bagi pelancong yang punya bujet terbatas, Ladakh memang lebih mudah dijelajahi saat musim panas. Namun kalau sudah niat ingin wisata salju, pastinya Anda akan tetap datang di musim dingin.

Baca juga: Kiat Backpacking Modal Cekak ke Ladakh

Shimla
Bagi yang berwisata bersama keluarga, Shimla cocok dijadikan pilihan karena mudah dijangkau dari New Delhi serta fasilitas akomodasi juga cukup memadai. Kota kecil di wilayah Himachal Pradesh ini dahulu adalah tempat tetirah para pembesar Inggris di zaman kolonial. Tak heran kalau Shimla memiliki banyak warisan bangunan-bangunan kolonial sehingga sudah tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Panorama Shimla di musim dingin. (sumber foto: traveltriangle.com)
Sikkim
Selain Kashmir, Ladakh dan Himachal Pradesh, ada satu wilayah lainnya di India yang juga populer dijadikan destinasi wisata salju. Daerah ini disebut Sikkim, letaknya di bagian India timur laut, atau kalau dilihat di peta posisinya berada di utara Bangladesh. Sikkim ini sudah lama masuk daftar tempat yang ingin saya kunjungi, namun sampai sekarang belum kesampaian.

Dengar-dengar dari orang yang pernah ke sana, budaya dan panorama Sikkim sangat mirip dengan Nepal. Penduduknya juga didominasi ras Mongoloid yang bermata sipit. Untuk mencapai Sikkim, kita bisa menggunakan penerbangan internasional menuju Kolkata, lalu dilanjutkan penerbangan domestik singkat, atau bisa juga menentuh rute darat. Ngomong-ngomong, ada yang mau jadi teman jalan saya ke Sikkim?

Tak Hanya Kashmir, Ini Destinasi Wisata Salju Lainnya di India