Halaman

    Social Items













Kalau mau jalan-jalan ke Iran, tak perlu pusing memikirkan persyaratan visa. Pemegang paspor Indonesia bisa mendapatkan visa setelah kedatangan, atau visa on arrival. Biayanya pun tak terlalu mahal dengan persyaratan yang gampang pula.

Meski Iran terkesan negara tertutup dan sering punya masalah dengan negara-negara barat, cara mendapatkan visanya ternyata sangat-sangat gampang. Untuk pemegang paspor Indonesia, dibolehkan mengajukan visa setelah kedatangan alias visa on arrival. Sebagian besar negara-negara lain di dunia juga diberi fasilitas serupa, kecuali pemegang paspor Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Warga dari negara-negara ini diharuskan mengajukan visa sebelum kedatangan, serta wajib didampingi pemandu wisata lokal ke mana pun mereka bepergian selama di Iran. Wah, repot sekali, bukan?

Tapi tenang, syarat yang super ketat itu tidak berlaku untuk pemegang paspor RI. Nah, ternyata ada untungnya bukan punya paspor RI. Sebagai warga negara RI, selain diberi fasilitas visa on arrival, kita juga tidak diharuskan ikut paket tur dan ditemani pemandu lokal. Mau backpacking sendirian atau berkelompok, tak perlu mengajukan izin segala. Pokoknya setelah paspor dicap visa Iran, kita boleh jalan-jalan sendiri sepuasnya.

Lalu apa syarat untuk mendapatkan visa on arrival ini? Tidak perlu ribet, syaratnya cuma tiket pulang dan reservasi penginapan untuk hari pertama saja. Penginapan yang dipesan juga tidak harus yang mahal. Hostel yang tarifnya USD7 per malam juga tidak masalah.

Bandara Imam Khomeini, Tehran
 Cukup sulit mendapatkan informasi mengenai visa on arrival untuk orang Indonesia melalui internet. Meskipun banyak blog yang memberi informasi tentang ini, saya tak berhasil mendapatkan informasi jelas dari situs resmi milik pemerintah Iran. Itulah sebabnya, sebelum membeli tiket pesawat ke Tehran, saya memutuskan mengontak dulu Kedutaan Besar Iran di Jakarta melalui nomor telepon +62 21 31931378. Saya juga agak was-was karena sebelum itu pemerintah RI mencabut fasilitas visa on arrival untuk warga Iran yang akan berkunjung ke Indonesia. Mungkin saja pemerintah Iran membalas tindakan ini dengan mencabut fasilitas visa on arrival untuk warga RI.

Untunglah, tidak ada berubahan kebijakan. Info yang saya terima dari Kedutaan Iran di Jakarta sama seperti yang beredar di internet, yakni pemegang paspor RI bisa mengajukan visa on arrival di bandara Imam Khomeini, Tehran dengan durasi tinggal 30 hari.

Baca juga: Melancong Irit ke Iran

Karena domisili saya waktu itu di Jeddah, Arab Saudi, saya memutuskan mengontak juga Konsulat Iran di Jeddah. Siapa tahu ada perbedaan perlakuan untuk pemegang resident permit Saudi. Maklum saja, waktu itu hubungan Saudi dengan Iran sedang memanas. Beberapa waktu kemudian, hubungan Saudi-Iran makin renggang karena kasus pembakaran Kedutaan Saudi di Tehran. Konsulat Iran di Jeddah pun terpaksa harus ditutup.

Untungnya, kejadian tersebut tak berpengaruh bagi warga Indonesia yang tinggal di Saudi. Warga Indonesia yang tinggal di Arab Saudi tetap mendapatkan fasilitas visa on arrival dengan durasi tinggal 30 hari.

Soal visa on arrival ini, pihak Kedutaan Iran di Jakarta hanya memberi informasi saja. Mereka tidak menganjurkan supaya saya mengajukan visa on arrival. Sedangkan Konsulat Iran di Jeddah menganjurkannya untuk memberi kemudahan pada kita. Setelah diberi tahu maksud kedatangan saya hanya untuk backpacking dengan masa tinggal kurang dari 15 hari, mereka menyarankan pakai visa on arrival saja. Proses pengajuan visa Iran lewat konsulat mereka di Jeddah memakan waktu 10 hari, jadi lumayan lama dan ribet.

Kepastian tentang visa on arrival untuk paspor RI sudah didapatkan, tantangan berikutnya adalah memberi bukti kepastian informasi ini kepada petugas maskapai penerbangan saat check-in bandara. Ini penting, karena tidak semua staf bandara familiar dengan Iran dan paham tentang kebijakan visa on arrival mereka. Supaya tidak dipersulit saat check-in, saya mencetak informasi dari internet yang menjelaskan visa on arrival Iran. Jadi kalau ditanya-tanya, saya tinggal tunjukkan kertas cetakan tersebut. Kalau mereka masih belum percaya, saya akan berikan nomor telepon konsulat Iran di Jeddah atau nomor telepon Kedutaan Iran di Jakarta. Saya akan persilahkan mereka bicara langsung dengan staf kedutaan.

Namun kerumitan tersebut sama sekali tidak terjadi. Petugas check-in maskapai Oman Air di bandara Jeddah rupanya sudah cukup paham. Saat saya bilang akan mengajukan visa on arrival, dia langsung mengecek di komputernya. Kelihatannya staf maskapai Oman Air sudah punya data tentang syarat-syarat visa untuk semua negara. Setelah petugas mengecek tiket kepulangan saya, tanpa ditanya-tanya lagi saya langsung diizinkan berangkat.

Proses berikutnya juga berjalan sangat lancar. Setelah mendarat di bandara Imam Khomeini Tehran, saya langsung mendatangi loket visa untuk mengurus visa on arrival. Dalam penerbangan saya dari Muscat dengan pesawat Oman Air, hanya ada 4 penumpang yang mengajukan visa on arrival. Satu orang dari Indonesia yakni saya, satu cewek backpacker dari Australia, dan 2 orang bapak-bapak dari Korea dan Oman. Karena hanya ada 4 orang yang mengajukan visa on arrival, prosesnya jadi sangat cepat, kurang dari 15 menit.

Kita cuma disuruh mengisi formulir yang sangat sederhana, lalu mendatangi loket pembayaran untuk membayar biaya visa yang jumlahnya berbeda-beda untuk tiap negara. Saya dan bapak-bapak dari Korea diharuskan membayar sejumlah 45 Euro, sedangnya si cewek Australia diharuskan membayar 65 Euro. Jadi, untuk pemegang paspor RI biayanya lebih murah. Makanya, merasa beruntunglah punya paspor RI!

Baca Juga: Hal-hal yang Harus Dimengerti Sebelum Bertandang ke Iran

Oh ya, untuk penumpang pesawat yang datang dari Eropa dan Turki, proses untuk mengajukan visa on arrival bisa memakan waktu jauh lebih lama karena ramainya antrean wisatawan yang akan mengajukan visa ini. Seorang backpacker dari Perancis sempat cerita ke saya kalau ia harus menunggu sampai 2,5 jam untuk mendapatkan visa. Bandara Imam Khomeini di Tehran juga biasanya sangat ramai saat tengah malam dan dini hari. Jadi kalau mau proses visa on arrival berjalan cepat tanpa banyak mengantre, pilihlah maskapai Timur Tengah seperti Oman Air dan Qatar Airways yang pesawatnya mendarat siang atau sore hari. Dijamin antreannya sepi, seperti yang saya alami.

Meski Iran masih diembargo negara-negara barat, bandara internasional Imam Khomeini di Tehran ternyata lumayan sibuk dan bangunannya juga mentereng. Tehran punya penerbangan langsung menuju kota-kota besar di dunia seperti Milan, Frankfurt, London, Paris, Beijing, Shanghai, Singapura, dan lain-lainnya. Karena akses yang lumayan gampang serta proses mendapatkan visa yang mudah itu, tak heran kalau sudah banyak backpacker yang mengunjungi Iran. Selama di Iran, saya sering sekali bertemu backpacker cewek dari Cina dan negara Asia lainnya yang melancong sendirian. Ayo pelancong Indonesia, jangan mau kalah dengan backpacker dari negara lain!


Kembali ke topik, jadi setelah berbagai formalitas untuk mendapatkan visa selesai, langkah berikutnya adalah membayar biaya asuransi sebesar USD15 di loket yang sudah disediakan. Pemegang polis asuransi internasional yang tentunya harus berlaku juga di Iran tidak diwajibkan membeli paket asuransi ini.

Visa beres, asuransi juga sudah beres, tahap berikutnya adalah proses imigrasi. Dengan percaya diri saya melangkah ke bagian imigrasi lalu disambut dengan senyum oleh petugas yang ganteng. Setelah melihat-lihat paspor saya, petugas imigrasi sempat tanya, “Anda Muslim?”, lalu saya jawab iya. “Syiah?”, tanyanya lebih lanjut. “Bukan”, jawab saya lagi. Mungkin karena melihat ekspresi keheranan saya ditanya-tanya seperti itu, petugas imigrasi itu langsung menjelaskan bahwa ia cuma bermaksud mendata jumlah peziarah syiah yang datang dari negara-negara Asia, tidak ada maksud lainnya.

Oh, ternyata cuma untuk itu. Ya sudah, akhirnya paspor saya diberi stempel kedatangan dan saya resmi masuk ke negara Iran. Senangnya!

Catatan Tambahan:
Artikel ini sudah diedit mengikuti kebijakan visa Iran saat ini. Bagi pemegang paspor RI, bisa pula mengajukan visa Iran lewat kedutaannya di Jakarta. Biayanya lebih murah, yakni 20 Euro. Namun permohonan visa ini tak bisa diwakilkan, sehingga cukup menyulitkan mereka yang tinggal di luar Jakarta. Waktu pemrosesannya 4 hari, dan persyaratannya juga lebih ketat dari visa on arrival. Namun bagi Anda yang punya waktu untuk mengurusnya, atau ingin menuntaskan urusan visa sebelum mendarat di Iran, bisa mempertimbangkan opsi ini.

Syarat pengajuan visa Iran melalui kedutaannya adalah sebagai berikut:
  • Membawa paspor asli dan fotokopinya.
  • Foto berwarna ukuran 3x4 sebanyak 2 lembar. 
  • Membayar biaya visa sebesar 20 Euro (dibayar dalam mata uang rupiah) 
  • Bukti pemesanan hotel dan tiket. 
  • Fotokopi Kartu Keluarga dan KTP. 
  • Surat rekomendasi dari tempat bekerja.

Untuk keterangan lebih lengkap, silahkan menghubungi kedutaan Iran di Jakarta:

Embassy of the Islamic Republic of Iran, Jakarta
Jl. HOS Cokroaminoto No. 110
Menteng, RT.10/RW.4, Menteng
Jakarta 10310
Telepon: (021) 31931391


Mau Backpacking ke Iran? Syarat Visanya Gampang!













Kalau mau jalan-jalan ke Iran, tak perlu pusing memikirkan persyaratan visa. Pemegang paspor Indonesia bisa mendapatkan visa setelah kedatangan, atau visa on arrival. Biayanya pun tak terlalu mahal dengan persyaratan yang gampang pula.

Meski Iran terkesan negara tertutup dan sering punya masalah dengan negara-negara barat, cara mendapatkan visanya ternyata sangat-sangat gampang. Untuk pemegang paspor Indonesia, dibolehkan mengajukan visa setelah kedatangan alias visa on arrival. Sebagian besar negara-negara lain di dunia juga diberi fasilitas serupa, kecuali pemegang paspor Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Warga dari negara-negara ini diharuskan mengajukan visa sebelum kedatangan, serta wajib didampingi pemandu wisata lokal ke mana pun mereka bepergian selama di Iran. Wah, repot sekali, bukan?

Tapi tenang, syarat yang super ketat itu tidak berlaku untuk pemegang paspor RI. Nah, ternyata ada untungnya bukan punya paspor RI. Sebagai warga negara RI, selain diberi fasilitas visa on arrival, kita juga tidak diharuskan ikut paket tur dan ditemani pemandu lokal. Mau backpacking sendirian atau berkelompok, tak perlu mengajukan izin segala. Pokoknya setelah paspor dicap visa Iran, kita boleh jalan-jalan sendiri sepuasnya.

Lalu apa syarat untuk mendapatkan visa on arrival ini? Tidak perlu ribet, syaratnya cuma tiket pulang dan reservasi penginapan untuk hari pertama saja. Penginapan yang dipesan juga tidak harus yang mahal. Hostel yang tarifnya USD7 per malam juga tidak masalah.

Bandara Imam Khomeini, Tehran
 Cukup sulit mendapatkan informasi mengenai visa on arrival untuk orang Indonesia melalui internet. Meskipun banyak blog yang memberi informasi tentang ini, saya tak berhasil mendapatkan informasi jelas dari situs resmi milik pemerintah Iran. Itulah sebabnya, sebelum membeli tiket pesawat ke Tehran, saya memutuskan mengontak dulu Kedutaan Besar Iran di Jakarta melalui nomor telepon +62 21 31931378. Saya juga agak was-was karena sebelum itu pemerintah RI mencabut fasilitas visa on arrival untuk warga Iran yang akan berkunjung ke Indonesia. Mungkin saja pemerintah Iran membalas tindakan ini dengan mencabut fasilitas visa on arrival untuk warga RI.

Untunglah, tidak ada berubahan kebijakan. Info yang saya terima dari Kedutaan Iran di Jakarta sama seperti yang beredar di internet, yakni pemegang paspor RI bisa mengajukan visa on arrival di bandara Imam Khomeini, Tehran dengan durasi tinggal 30 hari.

Baca juga: Melancong Irit ke Iran

Karena domisili saya waktu itu di Jeddah, Arab Saudi, saya memutuskan mengontak juga Konsulat Iran di Jeddah. Siapa tahu ada perbedaan perlakuan untuk pemegang resident permit Saudi. Maklum saja, waktu itu hubungan Saudi dengan Iran sedang memanas. Beberapa waktu kemudian, hubungan Saudi-Iran makin renggang karena kasus pembakaran Kedutaan Saudi di Tehran. Konsulat Iran di Jeddah pun terpaksa harus ditutup.

Untungnya, kejadian tersebut tak berpengaruh bagi warga Indonesia yang tinggal di Saudi. Warga Indonesia yang tinggal di Arab Saudi tetap mendapatkan fasilitas visa on arrival dengan durasi tinggal 30 hari.

Soal visa on arrival ini, pihak Kedutaan Iran di Jakarta hanya memberi informasi saja. Mereka tidak menganjurkan supaya saya mengajukan visa on arrival. Sedangkan Konsulat Iran di Jeddah menganjurkannya untuk memberi kemudahan pada kita. Setelah diberi tahu maksud kedatangan saya hanya untuk backpacking dengan masa tinggal kurang dari 15 hari, mereka menyarankan pakai visa on arrival saja. Proses pengajuan visa Iran lewat konsulat mereka di Jeddah memakan waktu 10 hari, jadi lumayan lama dan ribet.

Kepastian tentang visa on arrival untuk paspor RI sudah didapatkan, tantangan berikutnya adalah memberi bukti kepastian informasi ini kepada petugas maskapai penerbangan saat check-in bandara. Ini penting, karena tidak semua staf bandara familiar dengan Iran dan paham tentang kebijakan visa on arrival mereka. Supaya tidak dipersulit saat check-in, saya mencetak informasi dari internet yang menjelaskan visa on arrival Iran. Jadi kalau ditanya-tanya, saya tinggal tunjukkan kertas cetakan tersebut. Kalau mereka masih belum percaya, saya akan berikan nomor telepon konsulat Iran di Jeddah atau nomor telepon Kedutaan Iran di Jakarta. Saya akan persilahkan mereka bicara langsung dengan staf kedutaan.

Namun kerumitan tersebut sama sekali tidak terjadi. Petugas check-in maskapai Oman Air di bandara Jeddah rupanya sudah cukup paham. Saat saya bilang akan mengajukan visa on arrival, dia langsung mengecek di komputernya. Kelihatannya staf maskapai Oman Air sudah punya data tentang syarat-syarat visa untuk semua negara. Setelah petugas mengecek tiket kepulangan saya, tanpa ditanya-tanya lagi saya langsung diizinkan berangkat.

Proses berikutnya juga berjalan sangat lancar. Setelah mendarat di bandara Imam Khomeini Tehran, saya langsung mendatangi loket visa untuk mengurus visa on arrival. Dalam penerbangan saya dari Muscat dengan pesawat Oman Air, hanya ada 4 penumpang yang mengajukan visa on arrival. Satu orang dari Indonesia yakni saya, satu cewek backpacker dari Australia, dan 2 orang bapak-bapak dari Korea dan Oman. Karena hanya ada 4 orang yang mengajukan visa on arrival, prosesnya jadi sangat cepat, kurang dari 15 menit.

Kita cuma disuruh mengisi formulir yang sangat sederhana, lalu mendatangi loket pembayaran untuk membayar biaya visa yang jumlahnya berbeda-beda untuk tiap negara. Saya dan bapak-bapak dari Korea diharuskan membayar sejumlah 45 Euro, sedangnya si cewek Australia diharuskan membayar 65 Euro. Jadi, untuk pemegang paspor RI biayanya lebih murah. Makanya, merasa beruntunglah punya paspor RI!

Baca Juga: Hal-hal yang Harus Dimengerti Sebelum Bertandang ke Iran

Oh ya, untuk penumpang pesawat yang datang dari Eropa dan Turki, proses untuk mengajukan visa on arrival bisa memakan waktu jauh lebih lama karena ramainya antrean wisatawan yang akan mengajukan visa ini. Seorang backpacker dari Perancis sempat cerita ke saya kalau ia harus menunggu sampai 2,5 jam untuk mendapatkan visa. Bandara Imam Khomeini di Tehran juga biasanya sangat ramai saat tengah malam dan dini hari. Jadi kalau mau proses visa on arrival berjalan cepat tanpa banyak mengantre, pilihlah maskapai Timur Tengah seperti Oman Air dan Qatar Airways yang pesawatnya mendarat siang atau sore hari. Dijamin antreannya sepi, seperti yang saya alami.

Meski Iran masih diembargo negara-negara barat, bandara internasional Imam Khomeini di Tehran ternyata lumayan sibuk dan bangunannya juga mentereng. Tehran punya penerbangan langsung menuju kota-kota besar di dunia seperti Milan, Frankfurt, London, Paris, Beijing, Shanghai, Singapura, dan lain-lainnya. Karena akses yang lumayan gampang serta proses mendapatkan visa yang mudah itu, tak heran kalau sudah banyak backpacker yang mengunjungi Iran. Selama di Iran, saya sering sekali bertemu backpacker cewek dari Cina dan negara Asia lainnya yang melancong sendirian. Ayo pelancong Indonesia, jangan mau kalah dengan backpacker dari negara lain!


Kembali ke topik, jadi setelah berbagai formalitas untuk mendapatkan visa selesai, langkah berikutnya adalah membayar biaya asuransi sebesar USD15 di loket yang sudah disediakan. Pemegang polis asuransi internasional yang tentunya harus berlaku juga di Iran tidak diwajibkan membeli paket asuransi ini.

Visa beres, asuransi juga sudah beres, tahap berikutnya adalah proses imigrasi. Dengan percaya diri saya melangkah ke bagian imigrasi lalu disambut dengan senyum oleh petugas yang ganteng. Setelah melihat-lihat paspor saya, petugas imigrasi sempat tanya, “Anda Muslim?”, lalu saya jawab iya. “Syiah?”, tanyanya lebih lanjut. “Bukan”, jawab saya lagi. Mungkin karena melihat ekspresi keheranan saya ditanya-tanya seperti itu, petugas imigrasi itu langsung menjelaskan bahwa ia cuma bermaksud mendata jumlah peziarah syiah yang datang dari negara-negara Asia, tidak ada maksud lainnya.

Oh, ternyata cuma untuk itu. Ya sudah, akhirnya paspor saya diberi stempel kedatangan dan saya resmi masuk ke negara Iran. Senangnya!

Catatan Tambahan:
Artikel ini sudah diedit mengikuti kebijakan visa Iran saat ini. Bagi pemegang paspor RI, bisa pula mengajukan visa Iran lewat kedutaannya di Jakarta. Biayanya lebih murah, yakni 20 Euro. Namun permohonan visa ini tak bisa diwakilkan, sehingga cukup menyulitkan mereka yang tinggal di luar Jakarta. Waktu pemrosesannya 4 hari, dan persyaratannya juga lebih ketat dari visa on arrival. Namun bagi Anda yang punya waktu untuk mengurusnya, atau ingin menuntaskan urusan visa sebelum mendarat di Iran, bisa mempertimbangkan opsi ini.

Syarat pengajuan visa Iran melalui kedutaannya adalah sebagai berikut:
  • Membawa paspor asli dan fotokopinya.
  • Foto berwarna ukuran 3x4 sebanyak 2 lembar. 
  • Membayar biaya visa sebesar 20 Euro (dibayar dalam mata uang rupiah) 
  • Bukti pemesanan hotel dan tiket. 
  • Fotokopi Kartu Keluarga dan KTP. 
  • Surat rekomendasi dari tempat bekerja.

Untuk keterangan lebih lengkap, silahkan menghubungi kedutaan Iran di Jakarta:

Embassy of the Islamic Republic of Iran, Jakarta
Jl. HOS Cokroaminoto No. 110
Menteng, RT.10/RW.4, Menteng
Jakarta 10310
Telepon: (021) 31931391


9 komentar:

  1. Trims infonya Mas, kami berencana ke Iran tahun ini. Sedang cari tahu musim dinginnya di bulan apa, soalnya males kalo panas haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bulan Maret atau April paling ideal, enggak panas juga enggak terlalu dingin. Saya ke sana pas April.

      Hapus
  2. Tanya yah, kalau punya stamp visa iran ini yg kabarmya dua thn kita bakal di banned masuk amrik, nah tau info gak untuk europe kita di banned juga gak ya ? Soalnya planning ke europe juga akhir tahun, plan ke Iran bulan mei ini. Thanks a lot ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Info itu tidak benar. Faktanya, orang Eropa yang paling banyak berkunjung ke Iran.

      Hapus
  3. Boleh tanya2 ya, apa saja dokumen yg harus disiapkan untuk urus VOA Iran? terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paspor dan nomor telp akomodasi yang sudah dipesan.

      Hapus
  4. Mas mau tanya kalau informasi hotel2 di Iran untuk booking liat dimana ya? Soalnya di booking.com kayaknya ga banyak pilihan dan mahal2. Tks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa cari di TripAdvisor. Nanti saya akan bikin artikel tentang akomodasi di Iran. Tunggu ya posting blog berikutnya.

      Hapus

Punya pertanyaan atau komentar? Tuliskan di sini...