7 June 2015

Katanya Anti Amerika, Kok Minumnya Coca Cola?


Meski setiap hari dijejali tayangan TV berisi propaganda anti Amerika, orang Iran tetap tergila-gila dengan produk buatan negara Paman Sam. Bukan pemandangan aneh kalau orang lokal menyantap kebab ditemani Coca Cola atau Pepsi. Di pusat-pusat perbelanjaan, anak-anak muda berdandan trendi tak segan memamerkan Iphone terbaru mereka. Begitulah, propaganda tinggal propaganda. Orang Iran agaknya lebih suka bergaya dengan produk buatan musuh pemerintah mereka.
Karena embargo ekonomi, merek-merek asing jadi tak mudah masuk ke Iran. Tapi dasar sudah kadung tergila-gila, mereka memasang logo merek-merek yang sudah mendunia itu tanpa membayar lisensi alias tak berizin. Alhasil, restoran dengan logo palsu KFC, Mc Donalds, Burger King dan lain-lain bisa cukup mudah ditemui, serta laris manis pula.

Karena penasaran, saya sempatkan mampir ke sebuah restoran Burger King palsu di pusat kota Tehran. Tak disangka, pelayannya mahir berbahasa Inggris dan tentu saja mereka surprise karena ada orang asing mengunjungi restoran mereka. Sambil tersenyum ramah, seorang pelayan menyodori daftar menu yang ditulis dalam dua bahasa, Parsi dan Inggris. Dan astaga, menu mereka persis sama seperti yang ditawarkan Burger King asli.

Burger King ala-ala di Tehran
Saya lalu memesan steak burger yang jadi menu favorit Burger King. Saya juga ingin memesan salad, tapi dibilang sedang tidak tersedia. Menu-menu lainnya seperti chocolate cake dan cookies juga tidak tersedia. Walah, jangan-jangan gambar menu tersebut cuma buat hiasan, biar mirip Burger King asli.

Saya harus menunggu sekitar 15 menit sampai pesanan saya disajikan. Saat itu restoran sedang sepi, selain saya hanya ada satu orang pengunjung lain. Dan bagaimana rasa Burger King buatan Iran itu? Rasanya ternyata tak jauh beda dengan hidangan Burger King dari restoran berlisensi. Hanya saja cara penyajiannya tidak seperti di gambar daftar menu mereka. Kentang goreng tidak disajikan, dan tak ada kertas pembungkus berlogo Burger King seperti yang lazim ditemui di restoran asli. Tapi namanya juga Burger King abal-abal, he he…

Kalau yang ini Starbucks ala-ala
Saat jalan-jalan di Jolfa, sebuah distrik Armenia di kota Isfahan, saya juga menemukan kedai kopi berlogo Starbucks. Karena memang sedang ingin minum kopi dan beristirahat setelah lelah jalan kaki, saya putuskan masuk ke kedai kopi itu. Interior kedai Starbucks ala Iran ini benar-benar membawa kita seperti berada di gerai yang asli. Pilihan minuman kopinya juga kurang lebih sama. Tapi karena bukan pelanggan setia kedai Starbucks asli, saya tak bisa membedakan rasa kopinya. Meski begitu, saya sangat menikmati sajian iced latte buatan Starbucks Iran itu.

Walaupun sebagian besar produk bermerek asing yang beredar di Iran tidak membeli lisensi, segelintir perusahaan besar seperti Coca Cola dan Pepsi benar-benar punya cabang di Iran. Tentu saja mereka membayar lisensi dan uangnya akan mengalir ke Amerika.

Makannya kebab Iran, minumnya Coca Cola Amerika. Mereka akur di meja makan. 
Loh, katanya perusahaan Amerika tak boleh beroperasi di Iran karena embargo ekonomi? Memang benar, untuk sebagian besar perusahaan Amerika, aturan tersebut benar-benar diterapkan. Tapi Coca Cola rupanya mendapat keistimewaan, sehingga mereka boleh beroperasi di Iran.

Meski punya lisensi, merek Coca Cola tetap saja ada versi palsunya. Pemegang merek Coca Cola yang resmi sampai harus memasang tulisan “original” di kemasan produk mereka. Produk Coca Cola palsu bisa beredar luas tanpa bisa ditindak secara hukum karena Iran tidak menantangani perjanjian internasional soal merek dagang ini. Itulah sebabnya, pemalsu merek-merek internasional lainnya juga tidak bisa ditindak. Jadi, embargo ekonomi bisa jadi berkah bagi pemalsu merek, ha ha…
Coca Cola asli ada tulisan original 
Sebagai bekas sekutu dekat Amerika Serikat, orang Iran sebenarnya tak asing dengan merek-merek dari negara adidaya itu. Coca Cola misalnya, sudah hadir di Iran sejak 1950-an. Di kota-kota kecil masih sering dijumpai mobil bermerek Cadillac dan Ford, tapi tentu saja keluaran tahun 70-an.

Dominasi produk Amerika di Iran harus berakhir pada penghujung 1970-an, ketika pecah revolusi Islam yang dipimpin Imam Khomeini. Saat itu perusahaan-perusahaan Amerika terpaksa hengkang dan asetnya dinasionalisasi.

Namun jejak dominasi Amerika di Iran tidak sepenuhnya hilang, buktinya Coca Cola dan Pepsi masih berjaya. Urusan selera agaknya tak bisa dikaitkan dengan masalah politik.

Baca juga:
Cara Gampang Mendapatkan Visa Iran
Museum Kereta Haji di Madinah
Mengenang Tragedi Pembantaian Massal di Kamboja

0 comments:

Post a Comment