18 November 2017

Sejorok Apa sih India?

A post shared by pelancongirit.com (@pelancongirit) on

Soal semrawut dan kotornya kota-kota besar di India memang sudah lama jadi sorotan. Namun kita yang hidup di negara berkembang juga mengalami persoalan serupa, misalnya saja masalah sampah, polusi dan pengemis. Tapi banyak yang bilang kalau India jauh lebih parah dari negara-negara berkembang lainnya. Benarkah? Lalu dengan reputasinya yang buruk itu, apakah India masih layak dikunjungi?

“OMG, you treated India like visiting war zone”, kata Ekey, backpacker cewek asal Delhi yang jadi teman jalan saya di Dharamsala. Si Ekey ini nampak gemas melihat saya membaui dulu air minum di gelas sebelum meneguknya. Meski melakukannya secara diam-diam, matanya ternyata sangat jeli. Ini mungkin dianggap keterlaluan di mata orang lokal, tapi saya juga punya alasan melakukannya. Kalau bukan dari kemasan, air minum di India sering bau dan rasanya aneh. Jadi wajar dong kalau saya perlu hati-hati.

Meski ada catatan soal air minum tadi, mencari makanan murah yang bersih di India sebenarnya tidaklah sulit. Saya sendiri kadang takjub dengan kondisi ini. Meski jalanan di depan sebuah restoran sangat semrawut dan kotor, kondisi di dalamnya ternyata bersih dan sejuk. Saya tidak bicara tentang restoran kelas atas, tapi ini tempat makan biasa yang kebanyakan didatangi orang lokal. Jadi soal makanan, kondisinya tidaklah seseram seperti yang sering dikatakan orang.

Tempat makan orang lokal, kebanyakan cukup bersih


Walau tak terlalu pilih-pilih soal makanan, saya tak mengalami keluhan sakit perut atau masalah kesehatan lainnya. Boleh dikata, saya mencoba hampir semua jenis makanan India yang populer. Tapi saya tetap pantang membeli makanan dari tempat terbuka yang banyak lalat dan debu. Saya usahakan juga memesan makanan panas, ini bisa memperkecil resiko karena kita tak tahu apa yang terjadi di dapur mereka.

Bagaimana soal sampah? Nah, ini masalah yang paling banyak mendapat sorotan. Sungguh disayangkan, kesadaran orang lokal terhadap masalah kebersihan ini masih sangat rendah. Saya pernah melihat sendiri, seseorang yang turun dari mobil mewah dengan entengnya melempar bungkusan plastik besar ke pinggir tong sampah. Kampret benar, bukannya dimasukkan ke tong sampah, tapi cuma dilempar di pinggirannya! Padahal apa susahnya dimasukkan ke tong sampah, toh tempat sampah tersebut sudah di depan matanya. Konyolnya lagi, kawasan sekitar itu penuh onggokan sampah, namun tong sampahnya sendiri nampak kosong!

Berdasarkan pengalaman saya, kawasan pusat kota yang paling jorok di Delhi adalah jalan menuju Masjid Jami yang disebut Chandni Chowk. Selain banyak tumpukan sampah dan lalat, bau busuk yang menyengat hidung bikin bulu kuduk saya merinding. Di situ saya juga sempat melihat anak kecil berak di pinggir jalan, dan tahinya ditampung pada selembar kertas. Entah apa yang terjadi selanjutnya, saya tak mau membayangkannya. 

Tumpukan sampah di tepi jalan di Jaipur

Pemandangan seperti ini adalah hal biasa di kota besar di India


Mungkin cerita tadi terdengar agak “horor”, tapi sebagian besar kawasan Delhi sebenarnya tidak parah-parah amat. Kebersihan fasilitas publiknya bahkan pantas diacungi jempol. Terminal bus Kashmiri Gate yang terletak di bagian utara Delhi misalnya, lantainya kinclong dan toiletnya lumayan bersih. Jangan tanya soal stasiun metro yang lebih baru dan modern, kondisinya tak kalah dengan di negara maju. Saya juga sempat menilik stasiun kereta api Delhi yang katanya super jorok. Konon, banyak yang berak sembarangan di sekitar stasiun. Tapi saat saya ke sana, setidaknya kondisi di dalam bangunan stasiun cukup bersih. Meski ada gelandangan yang tiduran di lantai stasiun, tak ada sampah yang berserakan dan toiletnya juga lumayan bersih.

Ini agaknya perkembangan bagus, setidaknya di ibukota Delhi sudah tidak terlalu “horor” lagi. Perdana Menteri India Narendra Modi sejak menjabat sudah meluncurkan slogan “Swachh Bharat Abhiyan” untuk menjadikan India lebih bersih. Salah satu gol misi ini adalah menghilangkan kebiasaan buang air di tempat terbuka yang selama ini sangat umum dijumpai di India. Pemerintah sudah membangun banyak toilet umum, tapi lagi-lagi kesadaran warga masih sangat rendah. Kalau kita jalan kaki di Delhi, tiap pojokan trotoar selalu saja bau pesing. Padahal kawasan tersebut lumayan bersih untuk ukuran India, tak terlalu banyak sampahnya.

Terminal bus Kashmiri Gate di Delhi yang kinclong

Sudut kota Delhi yang bersih dan rapi


Beberapa tahun terakhir, India menikmati pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Mereka juga punya program misi ke angkasa luar serta sudah mampu membuat pesawat tempur. Namun capaian itu seolah menjadi ironi melihat kondisi penanganan sampah dan sanitasi yang buruk di seluruh pelosok negeri itu. “India is land without toilet”, kata teman saya yang pernah berkunjung ke India dengan nada mengejek. Tapi, julukan negeri tanpa toilet sebenarnya kurang tepat. Mereka hanya tidak suka buang air di toilet, haha…

Masalah lain yang juga sangat memprihatinkan adalah soal gelandangan. Persoalan gelandangan ini paling terlihat paling menyolok di ibukota Delhi. Ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi tinggi yang dialami India hanya dinikmati segelintir golongan saja. Saya lihat sendiri, ada sebuah hotel bintang lima di Delhi sekelilingnya dibuatkan pagar sangat tinggi. Mungkin tujuannya supaya gelandangan yang tidur di sekitar hotel mewah tersebut tak terlihat oleh tamu yang menginap. Sungguh miris melihat bayi-bayi anak gelandangan harus tidur di pinggir jalan, padahal hanya beberapa langkah dari situ ada hotel mewah. Oh, India….

Selain sampah, banyaknya kotoran sapi di jalan juga sangat mengganggu. Seperti kita ketahui, sapi dianggap sebagai binatang suci dalam kepercayaan Hindu. Namun penelantaran sapi-sapi yang hidup di pinggir jalan ini sebenarnya menunjukkan sikap hipokrit. Binatang ini seringkali dilepas begitu saja oleh pemiliknya ketika sudah tak produktif lagi. Kalau hewan itu sudah tak bisa menghasilkan susu, tak ada lagi manfaatnya karena dagingnya tak boleh dimakan. Alhasil, mereka dibiarkan hidup di jalan dengan memakan sampah-sampah yang dibuang manusia.

Pengemis di India

Sapi yang terlantar di pinggir jalan


Pertumbuhan industri yang pesat di India juga mendatangkan persoalan serius lainnya yang masih jarang jadi sorotan. Selama ini orang selalu menggembar-gemborkan masalah polusi di Cina. Tapi faktanya, polusi udara di kota-kota besar di India sesungguhnya jauh lebih parah dari Cina! Polusi udara bisa jadi pembunuh dalam kesenyapan yang membuat kota-kota besar di India menjadi tak layak huni. Buruknya kualitas udara ini sudah terlihat jelas. Di Delhi misalnya, sangat sulit memotret objek dari jauh karena pandangan yang tertutup asap. Kondisi paling parah saya alami di Amritsar. Saya sampai jadi malas keluar dari hostel gara-gara asap tebal yang selalu menutup pemandangan. Kondisi ini bisa bikin bad mood, membuat kita jadi malas mengeksplorasi kota tersebut.

Pencemaran udara ditambah kondisi lingkungan yang kurang bersih membuat banyak wisatawan terkena flu dan batuk. Di kamar hostel, selalu saja saya bertemu orang yang batuk-batuk karena penyakit tersebut. Menyadari hal itu, saya kemudian selalu pakai masker setiap kali berada di luar ruangan. Ada baiknya pula menyiapkan suplemen vitamin C untuk memperkuat daya tahan tubuh. Saya sendiri hanya sempat membawa obat diare, tapi ternyata tak membutuhkannya.

Hei, jangan pipis sembarangan!

Langit di Amritsar yang nampak kelabu karena polusi udara


Begitulah India dengan segudang permasalahannya. Lalu dengan segala kesulitan tersebut, apakah negeri ini masih layak dikunjungi? Menurut saya, kesan kita mengenai India akan bergantung pada tempat yang kita kunjungi. Memang benar, beberapa tempat akan terlihat luar biasa jorok untuk ukuran orang kita. Tapi perlu diingat, tidak semua tempat di India seperti itu. Jadi mengatur rencana perjalanan menjadi sangat penting supaya yang kita lihat bukan tempat kotor melulu.

Rute Golden Triangle atau segitiga emas yang banyak disarankan buku-buku panduan perjalanan saya rasa kurang tepat bagi yang baru pertama kali berkunjung ke India. Mengapa, karena tiga kota yang masuk dalam rute tersebut yakni Delhi, Jaipur dan Agra tergolong medan yang sulit untuk pemula. Tingkat polusi udaranya sangat tinggi, dan banyak bagiannya cukup kotor. Saya menyarankan rute yang lebih variatif dengan memasukkan kawasan pegunungan atau berkunjung ke kota kecil yang kondisinya lebih bersahabat.

Terus terang, saya hanya mampu bertahan maksimal tiga hari di sebuah kota besar di India. Polusi, kepadatan lalu lintas, dan pemandangan sampah yang menumpuk sungguh bikin stres. Tak terbayangkan apa jadinya kalau saya hanya mengunjungi kota besar seperti Delhi, Agra dan Jaipur saja. Beruntung, saya sudah menyusun rute perjalanan yang lebih variatif, tak melulu berada di kota besar yang touristy dan banyak scam. Saya bahkan sempat melakukan kegiatan trekking singkat, sesuatu yang tidak saya rencanakan sebelumnya.

Baca juga: Menjajal Rute Trek Singkat di India

Sebagai alternatif, kawasan pegunungan yang menawarkan wisata alam seperti Manali, Dharamsala dan Rishikesh patut dipertimbangkan. Lokasinya tak jauh dari Delhi, kita bisa naik bus malam dan paginya sudah sampai. Tempat lainnya yang lebih rileks dan bersih seperti Udaipur dan Khajuraho juga bisa dijadikan selingan. Kalau punya waktu panjang, kawasan Jammu, Kashmir dan Ladakh patut masuk hitungan Anda. Di bagian barat laut India ada Sikkim dan Meghalaya yang jauh dari polusi, cocok buat yang mau santai. India itu luas dan menawarkan banyak pilihan, jadi kenapa harus terjebak di tempat yang itu-itu saja?

Baca juga: Tanpa Taj Mahal pun, India Tetap "Incredible"

2 komentar:

  1. Jadi kangen India..
    Setuju, jalur lain dari segitiga emas patut dicoba, seperti Khajuraho hingga Amritsar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, negara ini memang ngangenin. Budaya dan lansekap alamnya menarik banget.

      Hapus