11 September 2018

Tip Merencanakan Perjalanan ke Ladakh

Bosan dengan destinasi backpacking yang itu-itu saja? Mengapa tak mencoba ke Ladakh? Kawasan ini kondang disebut “Little Tibet” di India, itu karena budaya dan panorama alamnya begitu mirip dengan Tibet.

Kalau tertarik ke Ladakh, jangan buru-buru berangkat! Perlu persiapan matang sebelum bertolak ke sini. Juga perlu dipahami, perjalanan menjelajah Ladakh butuh waktu yang lama karena areanya sangat luas. Belum lagi adanya resiko penyakit ketinggian (altitude sickness) yang kurang diketahui banyak orang.

Nah, sebelum Anda mengepak ransel, simak dulu beberapa tip berikut ini supaya perjalanan ke Ladakh berlangsung lancar.

Pilih Musim Dingin atau Musim Panas?
Bagi pelancong dari negara tropis seperti Indonesia, pemandangan Ladakh di musim dingin memang sangat memikat. Panorama salju tebal serta air danau yang membeku tentunya tak bisa dilihat di tanah air. Tapi, ada resikonya memilih datang saat musim dingin. Anda tak mungkin mencapai Ladakh menggunakan jalur darat karena jalanan tertutup salju tebal. Satu-satunya transportasi hanya pesawat udara.

Sayangnya, penerbangan ke Ladakh saat musim dingin sering sekali dibatalkan karena faktor cuaca. Kalau ini tidak diantisipasi, perjalanan Anda bisa gagal total! Untuk mengantisipasi pembatalan penerbangan, beri waktu ekstra setidaknya 2 hari. Jangan pernah mengambil penerbangan dari Ladakh, lalu terbang di hari yang sama untuk kembali ke tanah air. Sekitar 30 persen penerbangan rute Ladakh dibatalkan saat musim dingin, jadi resiko ketinggalan pesawat lanjutan bakal sangat besar kalau Anda tidak menyediakan waktu jeda.

Puncak kunjungan wisatawan ke Ladakh berlangsung selama musim panas ketika jalur darat mulai dibuka. Jalan raya Srinagar-Leh biasanya mulai dibuka akhir April. Sedangkan rute Manali-Leh baru dibuka sekitar pertengahan Mei. Namun, kondisi jalur darat baru benar-benar aman dilewati setelah Juni. Sebelum bulan Juli, banyak area masih tertutup salju dan longsoran sehingga tak jarang kendaraan harus berhenti lama menunggu jalan selesai diperbaiki.

Kota Leh yang jadi pusat aktivitas wisatawan sudah pasti penuh pengunjung saat musim panas. Bagi yang ingin suasana lebih lengang, bisa memilih berkunjung pada akhir Agustus sampai September. Kondisi jalur darat masih stabil, namun jumlah pelancong terutama wisatawan domestik sudah jauh berkurang. Tapi berdasarkan pengalaman saya yang berkunjung pada bulan Juli saat turis sedang ramai-ramainya, di luar kota Leh situasinya tak terlalu ramai. Ladakh punya area yang sangat luas, jadi turis bisa menyebar ke segala penjuru. Bahkan di lokasi yang sangat populer seperti Pangong Tso, jumlah pengunjungnya masih normal. Kalau kita mau berjalan agak jauh, masih ada spot yang sepi untuk sekadar menyendiri menikmati panorama alam.

Mencegah Altitute Sickness
Altitude Sickness adalah gejala penyakit yang muncul ketika kita berada di ketinggian. Gejala ini muncul karena tipisnya udara di ketinggian yang ekstrem. Tanda-tandanya antara lain mual, pusing, muntah, sesak nafas, kejang-kejang, sampai kehilangan kesadaran yang berakibat kematian.

Kawasan Ladakh terletak pada ketinggian lebih dari 3000 meter, kondisi yang rawan untuk terkena altitude sickness. Kota Leh sendiri berada di ketinggian 3700 meter, sedangkan tempat-tempat lainnya yang populer dikunjungi turis berada di ketinggian yang lebih ekstrem lagi. Pangong Tso berada di ketinggian 4300 meter, Nubra Valley sekitar 3050 meter, dan Khardung La berada pada posisi 5400 meter.

Berdasarkan data pemerintah setempat, sejak 2016 ada 10 orang meninggal dunia karena altitude sickness. Jadi ancamannya memang tidak main-main. Tiap orang punya reaksi yang berbeda terhadap ketinggian ekstrem. Sebagian orang hanya mengalami keluhan ringan seperti pusing dan mual saja, tapi bagi sebagian lainnya bisa berefek sangat serius. Jadi bagi yang belum pernah berada di ketinggian lebih dari 3000 meter, harus ekstra hati-hati karena Anda belum tahu bagaimana reaksi tubuh Anda terhadap ketinggian ekstrem tersebut.

Meski kedengaran agak mengerikan, altitude sickness sebenarnya bisa dicegah. Kiat yang paling manjur adalah masuk ke Ladakh lewat jalur darat yang ketinggiannya naik secara bertahap. Masuk lewat jalur darat yang lambat memberi tubuh cukup waktu untuk menyesuaikan diri dengan tipisnya udara di ketinggian. Kalau harus naik pesawat, setidaknya luangkan waktu dua hari untuk beristirahat setelah mendarat di Leh. Jangan buru-buru pergi Pangong Tso atau Diskit yang ketinggiannya lebih ekstrem karena akan sangat berbahaya.

Salah satu anggota grup saya terpaksa harus dirawat di klinik karena mengalami sesak nafas akibat altitude sickness. Padahal, dia sudah 5 hari berada di Ladakh. Di titik-titik ketinggian yang rawan seperti Khardung La, pemerintah setempat menyediakan klinik untuk bantuan oksigen. Kalau merasa terkena altitude sickness, harus cepat-cepat bilang pada anggota grup supaya segera mendapat pertolongan.

Oh ya, saya juga punya sedikit tip untuk mengurangi gejala altitude sickness. Kalau gangguan yang kita rasakan masih ringan, sebaiknya tak buru-buru minum diamox karena obat ini punya efek samping yang buruk. Cukup istirahat saja sambil duduk-duduk di tempat terbuka. Jangan cuma tidur di dalam kamar, ini bakal bikin badan makin lemas. Tubuh harus tetap aktif dengan berjalan kaki ringan, serta banyak-banyak menghirup udara segar di tempat terbuka. Jangan lupa pula minum air putih yang banyak. Dalam satu dua hari, niscaya gejala altitude sickness Anda akan berangsur hilang tanpa perlu minum obat.

Salah seorang teman saya harus dirawat karena terkena altitude sickness
Rute Perjalanan
Karena adanya resiko altitude sickness, penting sekali dimengerti bahwa menjelajah Ladakh membutuhkan waktu minimal seminggu. Waktu seminggu itu pun hanya bisa dilakukan kalau Anda menggunakan pesawat udara. Jika menempuh jalur darat, lama perjalanannya paling tidak butuh waktu 10 hari.

Karena orang Indonesia biasanya sulit dapat cuti panjang, saya menyarankan menempuh rute kombinasi lewat jalur darat dan udara. Untuk mengurangi resiko altitude sickness, kita masuk ke Ladakh menggunakan jalur darat. Lalu supaya menghemat waktu, pulangnya menggunakan pesawat udara.

Ada dua pilihan jalur darat untuk masuk ke Ladakh, yakni rute Srinagar-Leh dan Manali-Leh. Panorama sepanjang perjalanan di kedua jalur ini sama menariknya, namun kondisi jalan di rute Srinagar-Leh lebih baik. Apalagi setelah melewati Kargil, kondisi jalan cukup mulus dan lebar. Adapun rute Manali-Leh kondisinya jauh lebih ekstrem. Apalagi di sekitar Rohtang Pass, jalurnya penuh tikungan tajam dan bergelombang. Cukup menyiksa bagi yang tak terbiasa dengan medan seperti ini.

Meskipun medannya lebih berat, jalur Manali-Leh lebih populer karena Manali mudah dijangkau dari Delhi. Sedangkan untuk mencapai Srinagar minimal butuh waktu dua hari menggunakan bus atau kereta. Kalau Anda ingin mengambil rute Srinagar-Leh, saya sarankan lebih naik pesawat ke Srinagar. Kalau membeli jauh-jauh hari, harga tiket pesawat ke Srinagar kurang lebih sama dengan ongkos kereta atau bus yang memakan waktu dua hari itu.

Ladakh Inner Line Permit
Sejak April 2017 lalu, semua wisatawan domestik maupan mancanegara diwajibkan memiliki Inner Line Permit untuk mengunjungi kawasan tertentu. Izin seperti ini sebenarnya sudah lazim diterapkan untuk kawasan pendakian, namun untuk Ladakh baru-baru ini saja diberlakukan. Ladakh Inner Line Permit wajib dimiliki wisatawan yang ingin mengunjungi Pangong Tso, Tso Moriri, Nubra Valley, serta banyak kawasan lainnya.

Turis asing hanya bisa mendapatkan izin ini melalui agen tur setempat. Hostel-hostel di Leh juga bisa membantu untuk mendapatkannya. Syaratnya kita hanya perlu menyertakan paspor yang asli dan izin ini bisa selesai dalam waktu sehari asal berkasnya diberikan sebelum jam 1 siang. Masa berlaku izin ini 7 hari dengan biaya 600 rupee (sekitar Rp 120 ribu). Beberapa agen ada yang meminta biaya lebih mahal, namun harga yang normal di bawah 700 rupee. Jangan lupa untuk mengkopi beberapa lembar surat izin ini karena pos periksaan biasanya selalu meminta kopiannya.

Jadwal Transportasi Umum
Nah, ini yang paling sering jadi pertanyaan. Penjelajahan Ladakh identik dengan road trip yang mengharuskan kita menyewa mobil atau sepeda motor. Tapi untuk menghemat bujet, kita juga bisa menggunakan transportasi bus yang biasa digunakan penduduk lokal. Info mengenai transportasi umum di Ladakh memang masih minim. Tapi saya akan coba membagi informasi ini berdasarkan pengalaman saya sendiri.

Bus umum yang beroperasi di Ladakh kebanyakan tak beroperasi tiap hari, jadi pilihan ini tak cocok kalau waktu Anda mepet. Bus menuju Pangong Tso berangkat tiap Selasa, Kamis dan Minggu pukul 6.30 pagi. Bus yang sama akan kembali ke Leh keesokan harinya. Tarif bus ke Pangong Tso cukup murah, yakni 240 rupee saja untuk sekali jalan.

Bus menuju Diskit (Nubra Valley) punya frekuensi lebih sering, berangkat tiap hari pukul 7 pagi dengan harga tiket 118 rupee saja sekali jalan. Bagi yang ingin menuju Tur Tuk dan Panamik, bus hanya berangkat tiap hari Sabtu pukul 6 pagi. Ada juga bus dengan tujuan Tso Moriri, namun hanya berangkat tiap tanggal 10, 20 dan 30 tiap bulannya. Jadwal lengkap bus umum ini bisa dilihat di foto.

Jadwal bus Ladakh
Baca juga artikel menarik lainnya tentang India:
Kiat Backpacking Modal Cekak ke Ladakh
Cara Mendapatkan Visa India Secara Gratis
Apa yang Menarik di Ladakh?
Menjajal Rute Trekking di India

0 comments:

Posting Komentar