Beranda

    Social Items

Indonesia memang indah, tapi biaya jalan-jalan di negeri sendiri mahal! Begitu keluhan yang sering kita dengar. Apalagi ke Sumba, yang sampai sekarang dianggap destinasi eksklusif. Siapa yang belum pernah mendengar tentang Nihi Sumba, resort super mewah yang sering dikunjungi selebritas dunia itu?

Tapi kalau ada niat, selalu ada jalan untuk menjelajah negeri sendiri dengan bujet terbatas. Beberapa tip berikut ini kiranya bisa membantu Anda untuk merencanakan perjalanan bujet hemat ke Sumba.

Ikut Open Trip, Sharing Cost, atau Solo Backpacking?

Mana yang paling hemat akan bergantung pada Anda sendiri. Bagi yang masih buta mengenai Sumba dan tak punya waktu untuk riset informasi, ikut open trip adalah pilihan yang paling masuk akal. Informasi wisata Sumba juga masih minim, jadi bakal menyulitkan kalau Anda tak biasa melakukan perjalanan mandiri.

Umumnya sharing cost lebih murah dari open trip, tapi mencari partner perjalanan ke Sumba bukanlah perkara gampang. Sebaiknya cari partner perjalanan yang sudah dikenal karena kemungkinan Anda perlu mentransfer uang lebih dulu untuk uang muka sewa mobil dan akomodasi. Kendaraan sewa biasanya bisa muat sampai 7 orang. Jadi makin banyak peserta, makin murah biayanya.

Tak mau repot mencari partner perjalanan, tapi bujet Anda sangat terbatas? Mengapa tak mencoba solo backpacking? Bagi yang ingin menjelajah Sumba sendirian, baca artikel Tip Merencanakan Solo Backpacking ke Sumba.


Tiket pesawat mahal? Naik kapal saja!

Bagi yang punya waktu longgar, mencapai Sumba dengan ferry penyeberangan maupun kapal Pelni ternyata tak sesulit yang dibayangkan banyak orang. Ini bisa jadi alternatif transportasi yang lebih hemat mengingat akhir-akhir ini harga tiket pesawat domestik naik drastis.

Angkutan laut yang paling bisa diandalkan adalah kapal ferry ASDP rute Sape-Waikelo yang berangkat 3 kali seminggu. Waktu perjalanannya sekitar 7 jam dengan ongkos Rp76 ribu saja. Kapal ferry ini berangkat tengah malam dari Sape dan tiba keesokan paginya di Waikelo. Untuk rute sebaliknya, kapal ferry berangkat pagi hari sekitar pukul 9 dan tiba di Sape sore hari.

Saat musim gelombang tinggi sekitar Desember-Februari, kapal ferry ini tidak beroperasi. ASDP juga mengoperasikan ferry rute Waingapu-Ende, Waingapu-Sabu-Rote-Kupang, dan Waingapu-Aimere. Informasi jadwalnya bisa dilihat di situs resminya indonesianferry.co.id atau bisa ditanyakan langsung melalui akun Twitter dan Instagram ASDP.

Untuk kapal Pelni, pilihan rutenya lebih banyak. Ada KM. Awu yang berangkat dari Surabaya, Bali (Benoa) dan Bima. Lalu ada KM. Egon dari Lembar (Lombok), serta KM. Wilis juga berangkat dari Bima. KM. Awu juga melayani rute Ende-Waingaipu dan ada beberapa kapal lainnya yang mengoperasikan rute Labuan Bajo-Waingapu.

Mengecek jadwal kapal Pelni melalui situsnya barangkali bisa bikin Anda sedikit frustasi. Jadwal kapal biasanya baru keluar 2-3 minggu sebelum keberangkatan. Tapi kebanyakan rute kapal Pelni beroperasi tiap 2 minggu sekali. Jadi meskipun jadwal resminya belum keluar, tanggal keberangkatan bisa diperkirakan. Informasi mengenai jadwal kapal Pelni bisa dilihat di situs resmi mereka pelni.co.id.
 

Harga makanan ternyata cukup terjangkau

Berbeda dengan anggapan banyak orang, harga makanan di Sumba ternyata cukup murah, tak beda jauh dengan Pulau Jawa. Warung makan cukup mudah ditemui di pusat kota Waitabula, Waingapu dan Waikabubak. Sebagian besar menunya halal karena warung-warung ini dikelola para pendatang dari Jawa dan Sulawesi. Nasi campur dengan lauk ikan harganya sekitar Rp15 ribu. Makanan yang populer di tempat lain seperti bakso, mi ayam dan nasi kuning juga mudah didapat.

Namun di tempat-tempat wisata masih jarang ada penjual makanan. Kalaupun ada lapak penjual, biasanya hanya menyediakan mi instan. Jadi pastikan selalu membawa nasi kotak untuk makan siang supaya tidak kelaparan di tempat wisata. Nasi kotak ini bisa dipesan di hotel maupun di warung-warung.

Warung makan mudah ditemui di pusat kota Tambolaka, Waikabubak dan Waingapu

Warung makan biasanya juga mencantumkan harga menunya

Hanya sedikit pilihan akomodasi

Penginapan bujet di Sumba bisa dihitung dengan jari, juga belum ada hostel yang menyediakan dormitory. Tarif penginapan di Sumba juga lebih mahal dibanding hotel sekelas di destinasi yang lebih populer. Di Tambolaka misalnya, kita harus membayar sekitar Rp200 ribuan untuk kamar yang sangat sederhana, tanpa AC dan kamar mandinya tak begitu bagus.

Jadi turunkan ekspektasi Anda dengan hotel-hotel di Sumba, kecuali Anda mampu membayar jutaan rupiah per malam untuk menginap di resort mewah. Luangkan waktu lebih banyak di luar hotel karena kondisi kamar bisa jadi kurang nyaman buat Anda.

Internet di Sumba lumayan lancar

Jaringan 4G sudah tersedia di kota besar seperti Tambolaka, Waikabubak dan Waingapu. Meski jaringan 4G ini hanya menjangkau kawasan kota, koneksi internet di Sumba sudah lumayan bagus. Kita tak akan kesulitan memutar video Youtube atau sekadar mengecek media sosial. Untuk wilayah Sumba Barat, operator yang beroperasi hanya XL dan Telkomsel. Sedangkan di Sumba Timur (sekitar Waingapu), operator yang sudah beroperasi XL, Indosat dan Telkomsel. Jaringan selular ini tak hanya menjangkau kota-kota besar, tapi sudah masuk ke wilayah cukup terpencil seperti Kodi dan Lamboya.

Siapkan anggaran untuk donasi

Sebagian besar objek wisata di Sumba dikelola sendiri oleh warga setempat. Pengunjung tak diberi karcis, tapi hanya disuruh mengisi buku tamu lalu menuliskan jumlah donasi yang diserahkan. Jumlah donasi ini sifatnya sukarela, namun tiap grup biasanya memberi Rp50 ribu.

Sebelum menyerahkan uang, pastikan Anda mengisi buku tamu tersebut lebih dulu. Kalau tak ada buku tamu, bisa dipastikan itu pungli!


Jangan memberi uang pada anak-anak

Masih banyak daerah-daerah di Sumba yang tergolong kawasan tertinggal. Kemiskinan  terlihat sangat menyolok di Kabupaten Sumba Barat Daya. Tak jauh dari tempat-tempat wisata kita dengan mudah bisa melihat rumah-rumah gubuk yang tak memiliki jaringan listrik dan toilet. Sungguh ironis, mengingat Sumba Barat Daya adalah kawasan yang paling subur di Pulau Sumba, serta industri pariwisatanya sedang berkembang sangat pesat.

Hal yang paling miris adalah anak-anak yang disuruh orangtuanya berjualan di tempat wisata saat jam sekolah. Cara berjualan mereka juga agak memaksa. Meskipun kita sudah bilang berkali-kali tak berniat membeli, mereka akan terus mengikuti sampai kita jatuh iba. Perlu disadari bahwa cara berdagang seperti ini adalah bentuk eksploitasi anak-anak. Kalau kita membeli, berarti kita mendukung eksploitasi anak-anak tersebut.

Jika Anda berniat membantu, sebaiknya langsung memberi makanan, pakaian, atau alat-alat tulis supaya mereka terdorong untuk sekolah.

Baca Juga: Menjajal Rute Trekking Singkat di India

Siapa Bilang Jalan-jalan ke Sumba Mahal?

Indonesia memang indah, tapi biaya jalan-jalan di negeri sendiri mahal! Begitu keluhan yang sering kita dengar. Apalagi ke Sumba, yang sampai sekarang dianggap destinasi eksklusif. Siapa yang belum pernah mendengar tentang Nihi Sumba, resort super mewah yang sering dikunjungi selebritas dunia itu?

Tapi kalau ada niat, selalu ada jalan untuk menjelajah negeri sendiri dengan bujet terbatas. Beberapa tip berikut ini kiranya bisa membantu Anda untuk merencanakan perjalanan bujet hemat ke Sumba.

Ikut Open Trip, Sharing Cost, atau Solo Backpacking?

Mana yang paling hemat akan bergantung pada Anda sendiri. Bagi yang masih buta mengenai Sumba dan tak punya waktu untuk riset informasi, ikut open trip adalah pilihan yang paling masuk akal. Informasi wisata Sumba juga masih minim, jadi bakal menyulitkan kalau Anda tak biasa melakukan perjalanan mandiri.

Umumnya sharing cost lebih murah dari open trip, tapi mencari partner perjalanan ke Sumba bukanlah perkara gampang. Sebaiknya cari partner perjalanan yang sudah dikenal karena kemungkinan Anda perlu mentransfer uang lebih dulu untuk uang muka sewa mobil dan akomodasi. Kendaraan sewa biasanya bisa muat sampai 7 orang. Jadi makin banyak peserta, makin murah biayanya.

Tak mau repot mencari partner perjalanan, tapi bujet Anda sangat terbatas? Mengapa tak mencoba solo backpacking? Bagi yang ingin menjelajah Sumba sendirian, baca artikel Tip Merencanakan Solo Backpacking ke Sumba.


Tiket pesawat mahal? Naik kapal saja!

Bagi yang punya waktu longgar, mencapai Sumba dengan ferry penyeberangan maupun kapal Pelni ternyata tak sesulit yang dibayangkan banyak orang. Ini bisa jadi alternatif transportasi yang lebih hemat mengingat akhir-akhir ini harga tiket pesawat domestik naik drastis.

Angkutan laut yang paling bisa diandalkan adalah kapal ferry ASDP rute Sape-Waikelo yang berangkat 3 kali seminggu. Waktu perjalanannya sekitar 7 jam dengan ongkos Rp76 ribu saja. Kapal ferry ini berangkat tengah malam dari Sape dan tiba keesokan paginya di Waikelo. Untuk rute sebaliknya, kapal ferry berangkat pagi hari sekitar pukul 9 dan tiba di Sape sore hari.

Saat musim gelombang tinggi sekitar Desember-Februari, kapal ferry ini tidak beroperasi. ASDP juga mengoperasikan ferry rute Waingapu-Ende, Waingapu-Sabu-Rote-Kupang, dan Waingapu-Aimere. Informasi jadwalnya bisa dilihat di situs resminya indonesianferry.co.id atau bisa ditanyakan langsung melalui akun Twitter dan Instagram ASDP.

Untuk kapal Pelni, pilihan rutenya lebih banyak. Ada KM. Awu yang berangkat dari Surabaya, Bali (Benoa) dan Bima. Lalu ada KM. Egon dari Lembar (Lombok), serta KM. Wilis juga berangkat dari Bima. KM. Awu juga melayani rute Ende-Waingaipu dan ada beberapa kapal lainnya yang mengoperasikan rute Labuan Bajo-Waingapu.

Mengecek jadwal kapal Pelni melalui situsnya barangkali bisa bikin Anda sedikit frustasi. Jadwal kapal biasanya baru keluar 2-3 minggu sebelum keberangkatan. Tapi kebanyakan rute kapal Pelni beroperasi tiap 2 minggu sekali. Jadi meskipun jadwal resminya belum keluar, tanggal keberangkatan bisa diperkirakan. Informasi mengenai jadwal kapal Pelni bisa dilihat di situs resmi mereka pelni.co.id.
 

Harga makanan ternyata cukup terjangkau

Berbeda dengan anggapan banyak orang, harga makanan di Sumba ternyata cukup murah, tak beda jauh dengan Pulau Jawa. Warung makan cukup mudah ditemui di pusat kota Waitabula, Waingapu dan Waikabubak. Sebagian besar menunya halal karena warung-warung ini dikelola para pendatang dari Jawa dan Sulawesi. Nasi campur dengan lauk ikan harganya sekitar Rp15 ribu. Makanan yang populer di tempat lain seperti bakso, mi ayam dan nasi kuning juga mudah didapat.

Namun di tempat-tempat wisata masih jarang ada penjual makanan. Kalaupun ada lapak penjual, biasanya hanya menyediakan mi instan. Jadi pastikan selalu membawa nasi kotak untuk makan siang supaya tidak kelaparan di tempat wisata. Nasi kotak ini bisa dipesan di hotel maupun di warung-warung.

Warung makan mudah ditemui di pusat kota Tambolaka, Waikabubak dan Waingapu

Warung makan biasanya juga mencantumkan harga menunya

Hanya sedikit pilihan akomodasi

Penginapan bujet di Sumba bisa dihitung dengan jari, juga belum ada hostel yang menyediakan dormitory. Tarif penginapan di Sumba juga lebih mahal dibanding hotel sekelas di destinasi yang lebih populer. Di Tambolaka misalnya, kita harus membayar sekitar Rp200 ribuan untuk kamar yang sangat sederhana, tanpa AC dan kamar mandinya tak begitu bagus.

Jadi turunkan ekspektasi Anda dengan hotel-hotel di Sumba, kecuali Anda mampu membayar jutaan rupiah per malam untuk menginap di resort mewah. Luangkan waktu lebih banyak di luar hotel karena kondisi kamar bisa jadi kurang nyaman buat Anda.

Internet di Sumba lumayan lancar

Jaringan 4G sudah tersedia di kota besar seperti Tambolaka, Waikabubak dan Waingapu. Meski jaringan 4G ini hanya menjangkau kawasan kota, koneksi internet di Sumba sudah lumayan bagus. Kita tak akan kesulitan memutar video Youtube atau sekadar mengecek media sosial. Untuk wilayah Sumba Barat, operator yang beroperasi hanya XL dan Telkomsel. Sedangkan di Sumba Timur (sekitar Waingapu), operator yang sudah beroperasi XL, Indosat dan Telkomsel. Jaringan selular ini tak hanya menjangkau kota-kota besar, tapi sudah masuk ke wilayah cukup terpencil seperti Kodi dan Lamboya.

Siapkan anggaran untuk donasi

Sebagian besar objek wisata di Sumba dikelola sendiri oleh warga setempat. Pengunjung tak diberi karcis, tapi hanya disuruh mengisi buku tamu lalu menuliskan jumlah donasi yang diserahkan. Jumlah donasi ini sifatnya sukarela, namun tiap grup biasanya memberi Rp50 ribu.

Sebelum menyerahkan uang, pastikan Anda mengisi buku tamu tersebut lebih dulu. Kalau tak ada buku tamu, bisa dipastikan itu pungli!


Jangan memberi uang pada anak-anak

Masih banyak daerah-daerah di Sumba yang tergolong kawasan tertinggal. Kemiskinan  terlihat sangat menyolok di Kabupaten Sumba Barat Daya. Tak jauh dari tempat-tempat wisata kita dengan mudah bisa melihat rumah-rumah gubuk yang tak memiliki jaringan listrik dan toilet. Sungguh ironis, mengingat Sumba Barat Daya adalah kawasan yang paling subur di Pulau Sumba, serta industri pariwisatanya sedang berkembang sangat pesat.

Hal yang paling miris adalah anak-anak yang disuruh orangtuanya berjualan di tempat wisata saat jam sekolah. Cara berjualan mereka juga agak memaksa. Meskipun kita sudah bilang berkali-kali tak berniat membeli, mereka akan terus mengikuti sampai kita jatuh iba. Perlu disadari bahwa cara berdagang seperti ini adalah bentuk eksploitasi anak-anak. Kalau kita membeli, berarti kita mendukung eksploitasi anak-anak tersebut.

Jika Anda berniat membantu, sebaiknya langsung memberi makanan, pakaian, atau alat-alat tulis supaya mereka terdorong untuk sekolah.

Baca Juga: Menjajal Rute Trekking Singkat di India

Tidak ada komentar

Punya pertanyaan atau komentar? Tuliskan di sini...