Beranda

    Social Items

Banyak rumor yang beredar mengenai Sumba. Ada anggapan kalau wilayah Sumba bagian barat itu kurang aman, banyak rampok katanya. Itu pula yang menyebabkan jalan-jalan sendirian alias solo backpacking tidak dianjurkan. Konon, warga Sumba barat yang acapkali membawa parang ke mana-mana suka memeras wisatawan. Apakah ini nyata atau sekedar cerita di media sosial yang dilebih-lebihkan?

Selain itu, transportasi umum yang masih sulit juga membuat Sumba makin tak dilirik solo traveler. Minimnya transportasi umum ini memang dirasakan hampir semua tempat wisata di Indonesia, tak hanya di Sumba saja. Padahal, solo traveling sudah jadi tren global saat ini. Indonesia telah kehilangan kue jutaan wisatawan karena mengabaikan hal ini. Semoga saja masalah transportasi umum ini mendapat perhatian serius oleh aparat berwenang.

Dengan berbagai kendala tersebut, masih bisakah menjelajah Sumba sendirian dengan bujet terbatas? Asal direncanakan dengan cermat, menurut saya sangat bisa!

Rutenya mulai dari mana?

Sumba lebih kecil dari Flores, jadi sebenarnya cukup gampang menyusun rencana perjalanan ke pulau ini. Ada dua pintu masuk ke Sumba, yakni lewat Waingapu dan Tambolaka. Dua kota besar di Sumba ini belum memiliki penerbangan langsung dari Jakarta. Kita harus transit dulu di Denpasar, Kupang atau Ende.

Bagi yang ingin menempuh lewat jalur laut dengan ferry penyeberangan ASDP, bisa masuk dari Waikelo yang jaraknya sangat dekat Tambolaka. ASDP melayani rute Sape-Waikelo 3 kali seminggu. Kapal Pelni sebagian besar berlabuh di Waingapu, namun jadwalnya tak sesering ferry ASDP.

Perlu diperhatikan pula, ferry penyeberangan ASDP tak beroperasi sepanjang tahun karena adanya bahaya gelombang tinggi. Cek melalui situs ASDP untuk mengetahui jadwal keberangkatan yang lebih detail.


Kapan sebaiknya berkunjung?

Bagi yang pencinta panorama sunset, sunrise dan milky way, bulan Juni-Oktober adalah waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Sumba. Pada bulan-bulan ini kita bisa menikmati langit yang biru dengan bintang-bintang terang di waktu malam. Air terjun juga akan lebih jernih seperti yang Anda lihat di foto-foto Instagram.

Namun datang di musim hujan juga ada kelebihannya. Musim hujan di Sumba menyuguhkan panorama bukit-bukit dan savana yang serba hijau, nampak sangat fotogenik untuk dipotret. Di musim kemarau, sering ada bekas kebakaran si padang savana yang membuat foto menjadi tak menarik. Selain itu, di musim penghujan cuaca juga lebih sejuk sehingga panorama alam bisa dinikmati dengan lebih nyaman.

Puncak musim hujan berlangsung sekitar Desember-Februari. Intensitas hujan cukup tinggi pada bulan-bulan ini, namun biasanya hujan tak berlangsung lama sehingga tak terlalu mengganggu acara jalan-jalan. Waktu paling ideal sebenarnya sekitar Maret-Mei. Intensitas hujan tak terlalu tinggi, namun kita masih bisa melihat panorama savana yang hijau. Kapal ferry penyeberangan ASDP juga biasanya sudah beroperasi lagi sekitar Maret, sehingga makin memudahkan Anda yang ingin masuk ke Sumba lewat jalur laut.

Baca juga: Siapa Bilang Jalan-jalan ke Sumba Mahal?

Pilihlah akomodasi di pusat kota

Di musim sepi turis, banyak resort di Sumba yang banting harga. Penginapan di pinggir pantai sering memasang tarif mulai Rp300 ribuan saja. Namun kalau Anda solo traveler, lupakan menginap di resort yang lokasinya terpencil ini. Karena lokasinya jauh, biaya taksi menuju resort bisa jadi lebih mahal dari tarif menginap per malam.

Bagi solo backpacker, disarankan menginap di pusat kota yang sudah memiliki banyak fasilitas. Ada 3 tempat yang bisa dijadikan basis Anda, yakni Tambolaka, Waikabubak dan Waingapu. Koneksi internet yang baik di pusat kota juga akan memudahkan Anda melakukan riset perjalanan melalui internet, serta tentunya menghubungi keluarga di rumah.

Angkutan umum di Sumba

Lebih irit dengan ojek dan angkutan umum

Meski transportasi umum di Sumba tergolong langka, dengan perencanaan perjalanan yang cermat, Anda tetap masih bisa menjelajahinya tanpa menyewa mobil. Menggunakan transportasi umum tentunya jauh lebih irit daripada menyewa mobil untuk sendiri.

Bus menuju Waingapu dan Waikabubak biasanya ngetem di sekitar pasar Tambolaka, tak jauh dari Hotel Sinar Tambolaka. Perjalanan dengan bus menuju Waikabubak memakan waktu sekitar 2 jam, sedangkan Waingapu bisa dicapai dalam waktu sekitar 4 jam. Di Waingapu, bus umum biasa ngetem di depan pasar Matawai. Sayangnya, bus-bus ini banyak yang sudah tidak layak jalan. Penumpangnya juga sering penuh sampai harus duduk di atap.

Pilihan yang lebih nyaman bisa menggunakan travel. Setahu saya, hanya ada satu perusahaan travel di Sumba yakni Travel Sinar Lombok. Travel ini melayani jurusan Tambolaka-Waikabubak-Waingapu dua kali sehari, berangkat pukul 8 pagi dan 2 siang. Tarif travel Tambolaka-Waikabubak sebesar Rp40 ribu, dan Tambolaka-Waingapu Rp80 ribu. Pesan langsung melalui nomor Whatsapp +6285239006666. Jangan memesan lewat hotel karena biasanya mereka menarik komisi yang besar.

Untuk mengunjungi tempat-tempat wisata, Anda bisa menyewa motor atau memakai jasa ojek. Hotel Sinar Tambolaka di Tambolaka dan Hotel Jemmy di Waingapu menyediakan penyewaan motor dengan tarif Rp 100 ribu per hari. Motor yang mereka sewakan jenis kopling, bukan motor matik. Ojek juga cukup mudah didapat di pusat kota. Kalau kesulitan mendapatkan ojek, Anda bisa menghubungi pegawai hotel untuk mendapat bantuan.

Santai saja, tak perlu kunjungi semua tempat

Karena tidak menyewa mobil, ruang gerak Anda tak seleluasa mereka yang ikut Open Trip. Jadi jangan membuat daftar panjang tempat-tempat yang ingin dikunjungi ala Open Trip karena bakal menyulitkan Anda sendiri. Toh sebenarnya tempat-tempat tersebut banyak yang mirip, jadi Anda tak perlu mengunjungi semuanya.

Sebagai contoh, Kampung Adat Ratenggaro di Sumba Barat cukup sulit dijangkau dengan sepeda motor dan jaraknya lumayan jauh dari pusat kota. Sebagai gantinya, Anda bisa mengunjungi Kampung Tarung atau Kampung Pra Ijing yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki saja dari pusat kota Waikabubak. Bagi yang tertarik dengan air terjun, jalanan menuju air terjun Lapopu dan air terjun Tanggedu belum begitu bagus. Sebagai alternatif, cukup kunjungi air terjun Waimarang yang kondisi jalannya sudah bagus dan bisa dijangkau dengan motor sewaan atau ojek dari pusat kota Waingapu.




A post shared by Hairun✈pelancongirit.com (@pelancongirit) on

Jangan salah paham kalau ada yang bawa parang

Di kawasan Sumba Barat, Anda akan sering menjumpai lelaki yang berjalan ke mana-mana membawa parang. Hal tersebut bukan untuk menakut-nakuti, tapi hanya sekadar kebiasaan penduduk setempat. Parang ini sifatnya seperti aksesoris, semacam simbol maskulinitas lelaki yang sudah akil baliq.

Rumor tentang “kebengisan” orang Sumba Barat menurut saya sangat dilebih-lebihkan. Saya pernah membaca sebuah posting di Facebook yang bercerita tentang pengalamannya “diperas” oleh warga yang membawa parang di Danau Weekuri. Kenyataannya, pengunjung memang harus memberi donasi setelah mengunjungi tempat tersebut. Memang tidak ada tiketnya karena tempat-tempat wisata di Sumba sebagian besar dikelola langsung oleh warga. Namun selalu ada buku tamu di mana pengunjung menuliskan jumlah donasinya.

Saya sendiri melihat banyak lelaki yang membawa parang di Danau Weekuri serta tempat-tempat lainnya di Sumba Barat. Bahkan ada yang makan di warung bakso saja masih membawa parang. Namun sikap mereka biasa saja, jauh dari gambaran “bengis” seperti cerita-cerita di media sosial. Bahkan banyak yang ramah dan tampangnya ganteng pula, hehe…

Baca juga: Rute Trekking di Nepal Versi Saya

Tip Merencanakan Solo Backpacking ke Sumba

Banyak rumor yang beredar mengenai Sumba. Ada anggapan kalau wilayah Sumba bagian barat itu kurang aman, banyak rampok katanya. Itu pula yang menyebabkan jalan-jalan sendirian alias solo backpacking tidak dianjurkan. Konon, warga Sumba barat yang acapkali membawa parang ke mana-mana suka memeras wisatawan. Apakah ini nyata atau sekedar cerita di media sosial yang dilebih-lebihkan?

Selain itu, transportasi umum yang masih sulit juga membuat Sumba makin tak dilirik solo traveler. Minimnya transportasi umum ini memang dirasakan hampir semua tempat wisata di Indonesia, tak hanya di Sumba saja. Padahal, solo traveling sudah jadi tren global saat ini. Indonesia telah kehilangan kue jutaan wisatawan karena mengabaikan hal ini. Semoga saja masalah transportasi umum ini mendapat perhatian serius oleh aparat berwenang.

Dengan berbagai kendala tersebut, masih bisakah menjelajah Sumba sendirian dengan bujet terbatas? Asal direncanakan dengan cermat, menurut saya sangat bisa!

Rutenya mulai dari mana?

Sumba lebih kecil dari Flores, jadi sebenarnya cukup gampang menyusun rencana perjalanan ke pulau ini. Ada dua pintu masuk ke Sumba, yakni lewat Waingapu dan Tambolaka. Dua kota besar di Sumba ini belum memiliki penerbangan langsung dari Jakarta. Kita harus transit dulu di Denpasar, Kupang atau Ende.

Bagi yang ingin menempuh lewat jalur laut dengan ferry penyeberangan ASDP, bisa masuk dari Waikelo yang jaraknya sangat dekat Tambolaka. ASDP melayani rute Sape-Waikelo 3 kali seminggu. Kapal Pelni sebagian besar berlabuh di Waingapu, namun jadwalnya tak sesering ferry ASDP.

Perlu diperhatikan pula, ferry penyeberangan ASDP tak beroperasi sepanjang tahun karena adanya bahaya gelombang tinggi. Cek melalui situs ASDP untuk mengetahui jadwal keberangkatan yang lebih detail.


Kapan sebaiknya berkunjung?

Bagi yang pencinta panorama sunset, sunrise dan milky way, bulan Juni-Oktober adalah waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Sumba. Pada bulan-bulan ini kita bisa menikmati langit yang biru dengan bintang-bintang terang di waktu malam. Air terjun juga akan lebih jernih seperti yang Anda lihat di foto-foto Instagram.

Namun datang di musim hujan juga ada kelebihannya. Musim hujan di Sumba menyuguhkan panorama bukit-bukit dan savana yang serba hijau, nampak sangat fotogenik untuk dipotret. Di musim kemarau, sering ada bekas kebakaran si padang savana yang membuat foto menjadi tak menarik. Selain itu, di musim penghujan cuaca juga lebih sejuk sehingga panorama alam bisa dinikmati dengan lebih nyaman.

Puncak musim hujan berlangsung sekitar Desember-Februari. Intensitas hujan cukup tinggi pada bulan-bulan ini, namun biasanya hujan tak berlangsung lama sehingga tak terlalu mengganggu acara jalan-jalan. Waktu paling ideal sebenarnya sekitar Maret-Mei. Intensitas hujan tak terlalu tinggi, namun kita masih bisa melihat panorama savana yang hijau. Kapal ferry penyeberangan ASDP juga biasanya sudah beroperasi lagi sekitar Maret, sehingga makin memudahkan Anda yang ingin masuk ke Sumba lewat jalur laut.

Baca juga: Siapa Bilang Jalan-jalan ke Sumba Mahal?

Pilihlah akomodasi di pusat kota

Di musim sepi turis, banyak resort di Sumba yang banting harga. Penginapan di pinggir pantai sering memasang tarif mulai Rp300 ribuan saja. Namun kalau Anda solo traveler, lupakan menginap di resort yang lokasinya terpencil ini. Karena lokasinya jauh, biaya taksi menuju resort bisa jadi lebih mahal dari tarif menginap per malam.

Bagi solo backpacker, disarankan menginap di pusat kota yang sudah memiliki banyak fasilitas. Ada 3 tempat yang bisa dijadikan basis Anda, yakni Tambolaka, Waikabubak dan Waingapu. Koneksi internet yang baik di pusat kota juga akan memudahkan Anda melakukan riset perjalanan melalui internet, serta tentunya menghubungi keluarga di rumah.

Angkutan umum di Sumba

Lebih irit dengan ojek dan angkutan umum

Meski transportasi umum di Sumba tergolong langka, dengan perencanaan perjalanan yang cermat, Anda tetap masih bisa menjelajahinya tanpa menyewa mobil. Menggunakan transportasi umum tentunya jauh lebih irit daripada menyewa mobil untuk sendiri.

Bus menuju Waingapu dan Waikabubak biasanya ngetem di sekitar pasar Tambolaka, tak jauh dari Hotel Sinar Tambolaka. Perjalanan dengan bus menuju Waikabubak memakan waktu sekitar 2 jam, sedangkan Waingapu bisa dicapai dalam waktu sekitar 4 jam. Di Waingapu, bus umum biasa ngetem di depan pasar Matawai. Sayangnya, bus-bus ini banyak yang sudah tidak layak jalan. Penumpangnya juga sering penuh sampai harus duduk di atap.

Pilihan yang lebih nyaman bisa menggunakan travel. Setahu saya, hanya ada satu perusahaan travel di Sumba yakni Travel Sinar Lombok. Travel ini melayani jurusan Tambolaka-Waikabubak-Waingapu dua kali sehari, berangkat pukul 8 pagi dan 2 siang. Tarif travel Tambolaka-Waikabubak sebesar Rp40 ribu, dan Tambolaka-Waingapu Rp80 ribu. Pesan langsung melalui nomor Whatsapp +6285239006666. Jangan memesan lewat hotel karena biasanya mereka menarik komisi yang besar.

Untuk mengunjungi tempat-tempat wisata, Anda bisa menyewa motor atau memakai jasa ojek. Hotel Sinar Tambolaka di Tambolaka dan Hotel Jemmy di Waingapu menyediakan penyewaan motor dengan tarif Rp 100 ribu per hari. Motor yang mereka sewakan jenis kopling, bukan motor matik. Ojek juga cukup mudah didapat di pusat kota. Kalau kesulitan mendapatkan ojek, Anda bisa menghubungi pegawai hotel untuk mendapat bantuan.

Santai saja, tak perlu kunjungi semua tempat

Karena tidak menyewa mobil, ruang gerak Anda tak seleluasa mereka yang ikut Open Trip. Jadi jangan membuat daftar panjang tempat-tempat yang ingin dikunjungi ala Open Trip karena bakal menyulitkan Anda sendiri. Toh sebenarnya tempat-tempat tersebut banyak yang mirip, jadi Anda tak perlu mengunjungi semuanya.

Sebagai contoh, Kampung Adat Ratenggaro di Sumba Barat cukup sulit dijangkau dengan sepeda motor dan jaraknya lumayan jauh dari pusat kota. Sebagai gantinya, Anda bisa mengunjungi Kampung Tarung atau Kampung Pra Ijing yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki saja dari pusat kota Waikabubak. Bagi yang tertarik dengan air terjun, jalanan menuju air terjun Lapopu dan air terjun Tanggedu belum begitu bagus. Sebagai alternatif, cukup kunjungi air terjun Waimarang yang kondisi jalannya sudah bagus dan bisa dijangkau dengan motor sewaan atau ojek dari pusat kota Waingapu.




A post shared by Hairun✈pelancongirit.com (@pelancongirit) on

Jangan salah paham kalau ada yang bawa parang

Di kawasan Sumba Barat, Anda akan sering menjumpai lelaki yang berjalan ke mana-mana membawa parang. Hal tersebut bukan untuk menakut-nakuti, tapi hanya sekadar kebiasaan penduduk setempat. Parang ini sifatnya seperti aksesoris, semacam simbol maskulinitas lelaki yang sudah akil baliq.

Rumor tentang “kebengisan” orang Sumba Barat menurut saya sangat dilebih-lebihkan. Saya pernah membaca sebuah posting di Facebook yang bercerita tentang pengalamannya “diperas” oleh warga yang membawa parang di Danau Weekuri. Kenyataannya, pengunjung memang harus memberi donasi setelah mengunjungi tempat tersebut. Memang tidak ada tiketnya karena tempat-tempat wisata di Sumba sebagian besar dikelola langsung oleh warga. Namun selalu ada buku tamu di mana pengunjung menuliskan jumlah donasinya.

Saya sendiri melihat banyak lelaki yang membawa parang di Danau Weekuri serta tempat-tempat lainnya di Sumba Barat. Bahkan ada yang makan di warung bakso saja masih membawa parang. Namun sikap mereka biasa saja, jauh dari gambaran “bengis” seperti cerita-cerita di media sosial. Bahkan banyak yang ramah dan tampangnya ganteng pula, hehe…

Baca juga: Rute Trekking di Nepal Versi Saya

Tidak ada komentar

Punya pertanyaan atau komentar? Tuliskan di sini...